05 November 2009

Sahabat vs Rokok

HARI SABTU kami mengadakan kerja bakti di kampus—membersihkan musholla. Di sana ada aku, Ical, Sule dan beberapa teman lainnya. Namun yang paling bersemangat kerja bakti hari itu adalah Sule. Sule: lelaki berwajah Palembang dengan tahi lalat di sudut kiri matanya. Sule merasa paling bertanggung-jawab terhadap kebersihan musholla kampus karena dia adalah pengurus musholla yang ditunjuk oleh ketua HMTS (Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil) di kampus kami.
Kerja bakti selesai sekitar tengah hari, tepat pada jam makan siang. Aku dan Sule pergi membeli nasi bungkus dengan motor pitung kuning milik Ical, sementara Ical nitip minta dibeliin juga.
“Bel, sekalian belikan rokok sebatang!” Pinta Ical sambil melemparkan kunci motor pitung kuning miliknya.
“Oke” Oke hanya di dalam hati.
Sepuluh menit kemudian kami kembali dengan membawa tiga biji nasi bungkus dari warung padang. Kami makan di atas meja dekat hanggar kampus. Hanggar adalah semacam ruang luas terbuka dengan atap yang tinggi, persis seperti parkiran pesawat ukuran sedang. Kami makan dengan semangat setelah lelah kerja bakti. Yang paling semangat tetap saja Sule.
Sehabis makan, Ical langsung menerorku.
“Mana, Bel, rokokku?”
Aku hanya cengar-cengir. Aku sengaja tak membelikannya rokok. Kurasa tindakanku sudah benar. Membelinya sebatang rokok sama saja dengan memberinya sekotak racun. Aku tak mau meracuni temanku sendiri. Tapi tanggapan Ical berbeda. Dia marah besar. Maklum, dia sudah begitu kecanduan dengan benda ini. Dia seperti ikan yang terlempar dari akuarium. Mangap-mangap. Dengan membanting tong sampah plastik sebelumnya, Ical pergi meninggalkan kami dan meminta kunci motornya. Dia pergi beli rokok.
Ical merokok ceria di gazebo HM. Kami menyusulnya ke sana. Ical masih kelihatan marah dan es mosi (sejenis minuman baru). Aku gak berani mendekatinya. Dia seperti banteng yang siap menyeruduk ketika melihat benda berwarna merah melintas di depannya. Aku sarankan Sule (yang menurutku tak ada hubungannya dengan kemarahan Ical padaku):
“Man, samperin Ical! Tanya apa maksudnya membanting tong sampah tadi!.”
Sule, nama lengkapnya Sulaiman. Lelaki pendiam, penurut dan lugu. Terhasut oleh kata-kataku. Dia menghampiri Ical di gazebo sementara aku mengamati dari jauh.
“Hei, Cal, apa maksud……gluk gluk”
Belum selesai Sule mengutarakan kata-kata yang kupesan, Ical langsung melabraknya, mengajaknya berantem. Sule yang malang sekonyong-konyong terpojok dan terbanting di depan pintu HM. Aku masih mengamati dari jauh, kupikir itu sebuah gurauan.
Sule pun naik darah, sebagai orang Palembang yang terhormat, dia tak mau harga dirinya di injak-injak. Dia bangkit bersamaan ketika aku datang menenangkannya. Ternyata Ical marah benaran. Aku tak menyangkanya sama sekali. Biasanya suka bercanda. Rokok telah membuat matanya buta. Persahabatan menurutnya tak lebih indah dari sebatang rokok.
“Sudahlah, Man!” Aku menahan Sule. Muka putihnya berubah memerah penuh emosi. Tangannya dikepal keras-keras. Badannya kejang-kejang.
“Aku gak terima, Bel”
“Sama teman juga, Man. Kurasa Ical hanya emosi sesaat. Jangan hiraukan dia dulu!, mari kita pulang” Aku menenangkan.
Aku merasa bersalah atas kejadian ini. Sule yang tak tahu apa-apa menjadi korban. Kami pergi meninggalkan Ical. Ical kembali merokok ceria dengan asap berkepul-kepul di gazebo HM. Asap yang keluar dari mulutnya bergumpa-gumpal berbentuk tinju. Jelas sekali Ical ingin cari permusuhan. Sementara tanduk dan taring Sule sudah berhasil aku jinakkan.
Hari berikutnya Ical datang ke kosanku. Kembali cengar-cengir seperti dulu. Dia sudah sembuh sepertinya.
“Bel, antarkan aku ke kosan Sule, aku mau minta maaf”
“Dengan senang hati, Cal. Semua ini salahku, Cal. Seandainya aku belikan pesananmu, pasti tak seperti ini jadinya. Maafin aku, Cal”
“Sudahlah”
Kosan sule letaknya tak jauh dari kosanku, hanya sedikit menuruni bukit karena kosannya terletak di bantaran sungai Code—salah satu sungai yang membelah kota Jogja. Aku dan Ical ke sana jalan kaki. Setibanya di kosan Sule, kami kehausan karena habis menuruni bukit (halah). Ical segera minta maaf atas kesalahannya. Dan Sule dengan senang hati memaafkannya.
“Persahabatan kita lebih berharga dari sebatang rokok, mulai sekarang aku berhenti merokok” kata Ical.

07 Oktober 2009

Antara Depok dan Semarang…

Jam 04.00 subuh buta…

DENGAN
sudah payah dan bergelimangan peluh akhirnya kami tiba di Jakarta—tepatnya Stasiun Jatinegara—tempat turun dari kereta yang kami anggap paling dekat dengan Depok. Stasiun Jatinegara sendiri terletak di Jakarta Timur yaitu bagian timur dari Jakarta, jika letaknya di sebelah barat Jakarta dan masih merupakan bagian dari Jakarta maka nama daerahnya Jakrta Barat begitu seterusnya berlaku untuk bagian utara dan selatan. Lain halnya bagian tengah dari Jakarta, jika di pulau Jawa ada: Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, maka di Jakarta tidak ada yang namanya Jakarta Tengah, yang ada hanya Jakarta Pusat.

Setelah turun di Stasiun Jatinegara, kami melanjutkan perangkotan menuju Depok—dua kali nyambung. Setelah naik angkot 06A, turunlah di Graha Cijantung, di sana kalian akan disambut oleh puluhan tukang ojek yang menawarkan jasa tumpangan—tapi jangan naik ojek—kemahalan karena Depok masih sangat jauh, naiklah angkot lagi dengan jurusan 112 warna biru. Selama di perjalanan dinihari, jika beruntung maka kalian bisa menyaksikan pemandangan eksotis banci-banci yang lagi melakukan transaksi prostitusi di sepanjang jalan menuju UI, cukup menghibur. Dan jangan sampai ketiduran, awasi sepanjang perjalanan, jika melihat plang yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI KOTA DEPOK”, segera hentikan angkotnya.

Dah jelaskan? Kalo dah turun dari angkot—sms aja—ntar aku kasih tau selanjutnya…

Tiba di kos-kosan Kepodang—nama kosanku, jam 06.00 setelah tadi naik ojek dan sempat nyasar dikit. Aku dan Andri tergeletak lesu di depan pintu kamar kos-kosan yang sudah kami pesan sebulan yang lalu, abang Doni—pemilik kosan—belum bangun sedangkan kunci kamar dia yang pegang. Pasrah menunggu di sana dan tak lama kemudian dia datang. Kami laksana pengembara kehausan di gurun Sahara yang dibawakan semangkok es dawet. Apalah…

Owh sebentar, saya carikan dulu kuncinya!” bang Doni menghilang sebentar ke dalam kamarnya dan tak lama kemudian datang membawa seonggok kunci.

Hampir limabelas menit lebih mencari-cari, mencocokkan, dan menebak kunci untuk kamar nomor 26—kamar yang akan ditempati Andri selama enam bulan kedepan, namun tak jua ada yang pas, belum jodoh. Bang Doni kebingungan apalagi kami berdua yang sedari tadi belum sempat tidur nyenyak di kereta. Di kereta tadi, gak bisa tidur normal, badan berasa berlipat-lipat. Ternyata kuncinya gak ada di tumpukan tadi melainkan di tangan Andri sendiri, aku jadi geram. Kamar dibuka dan tanpa ampun kamipun lelap sampai tengah hari.

Sementara Hendri sendiri sudah di Jakarta, dia selama ini hinggap di rumah Pak Eteknya (Pak Etek: adik dari ortu, bahasa Minang). Hendri sudah lama di Jakarta karena dia di sini bekerja, bekerja di tempat yang katanya tidak memerlukan ilmu. Emang ada? Mungkin saking pintar dan cerdasnya dia sehingga dia sanggup mengatakan demikian, kalo aku yang disuruh bekerja di sana mungkin aku akan bertapa dulu tujuh hari tujuh malam di goa Selarong sendirian untuk menyempurnakan ilmuku. Itulah bedanya aku dengan dia. Hendri—temanku—manusia jenius di kelas kami. Meskipun setiap jam kuliah dia tidak pernah memperhatikan dosen mengajar, ketiduran, atau hanya geleng-geleng kepala, tapi dia selalu bisa setiap kali ditanya. Entah terbuat dari apa isi kepalanya, setauku dia masih makan nasi dan minum air, sama sepertiku.

Dua bulan yang lalu…

Hal yang sama pernah terjadi sebelumnya, pertarungan menghadapi masadepan oleh lima orang manusia yang jebolan universitas katanya salahsatu terbaik di negara ini. Yang katanya juga universitas kerakyatan, tetapi aku rasa tidak ada bedanya, biaya kuliah tetap saja mahal. Entahlah, entah apa yang ada dibenak para penguasa negeri ini, negeri yang menjadikan penduduknya sebagai pembeli.

Klaskson kereta telah berbunyi tanda kereta akan segera berangkat, Senja Utama Solo judulnya. Ada tiga orang pria dan seorang wanita resah di dalamnya—Rifa belum datang, sedangkan sesuai perjanjian hari sebelumnya kita akan berkumpul di Stasiun ini—Stasiun Tugu—sebelum jam 18.57, tentunya sebelum kereta berangkat. Kemana anak itu? Pertanyaan yang tersirat dari wajah-wajah pria dan wanita itu, tanpa Rifa formasi power ranger kita belum lengkap, kekuatan kita akan hilang, kita akan mudah ditaklukkan musuh.

Sudah jam 18.57 tepat, roda kereta berputar pelan dan kemudian semakin cepat namun tanda-tanda kedatangan anak Padang bertubuh tinggi itu belum juga ada, kami semakin risau. Ini adalah impian kami bersama, kami sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari, jauh sebelum pendaftarannya dibuka, saat yudisium kemarin. Apa boleh buat, mau gak mau kami harus tetap berangkat.

Aku duduk sendirian di bangku 3A tepat di belakang Idon dan Andri, sementara Yanti mengasingkan diri karena merasa wanita satu-satunya. Seharusnya bangku 3B ini diduduki oleh Rifa, anak Padangpanjang itu. Tapi kemana dia? Bukankah kemarin hari aku dan dia yang pergi memesan tiket ini, gak mungkin dia lupa jadwal keberangkatnya.

Dari ramai sesak penumpang di gerbong dua itu—gerbong yang kami tempati—aku melihat sesosok pria jangkung memakai jaket putih dari balik-balik tangan orang yang sibuk menaikkan barang—di gerbong depannya. Pria itu seperti sedang mencari-cari sesuatu, celingak-celinguk seperti orang sedang mencari uang recehan jatuh, seperti hilang akal tak tentu arah, keringat yang menetes di dahinya mengabarkan kalo dia datang dengan terburu-buru dan gak sempat pipis. Ternyata uang recehan yang ia cari itu kami—empat orang temannya, dialah Rifa. Lengkap sudah kami berlima, formasi power ranger sudah terbentuk, kami akan sulit ditaklukkan meski oleh monster yang dipesan langsung dari planet terjauh.

Ramainya tukang ojek, kuli angkut, tukang taksi dan suara knalpot bajaj menyambut kami subuh itu, pertama kalinya aku ke Jakarta, kota yang tak masuk dalam daftar petualanganku. Udara sesak, pengap, ciri-ciri kekurangan O2, masuk akal jika bikin orang frustasi dan bunuh diri.

Hari Jum’at, kami menuju rumah kerabat salah seorang anggota power ranger—rumah Pak De Yanti. Di sini kami bermaksud transit untuk mandi dan sholat Jum’at, gak ada maksud lain. Gak seperti Idon, yang berharap sekalian dapat makan siang. Sepiring teh dan segelas donat pagi itu masih belum cukup bagi Idon, sedangkan Andri sibuk mengisi paru-parunya dengan awan buatan. Yumi—kucing abu-abu milik tuan rumah—mengantar istirahat kami menjelang waktu sholat tiba.

Pak De: entah mengapa dinamakan demikian, aku mencoba menebak, mungkin saja dia anak ke empat makanya dinamakan begitu, pasti kakak-kakaknya Pak De masing-masing bernama Pak A, Pak Be, dan Pak Ce. Makasih Pak De, udah ngijinin kami istirahat di rumah. Setelah sholat Jum’at, kami undur diri menuju Depok.

Setelah naik angkot dan menyusuri jalan setapak kecil di atas sebuah selokan, kami tiba di halte sebuah bus. Bus aneh berwarna kuning yang bertuliskan “use public transportation to reduce air polution” yang artinya kurang lebih: naiklah bus ini. Anehnya? Semua serba kuning, sampai sepedapun di cat kuning. Segera kuketahui dari Yanti kalo itu adalah bus dan sepeda milik kampus yang akan kami masuki. Dengan bantuan benda serba kuning, bermesin dan bisa jalan lagi itu akhirnya kami sampai di kos-kosan.

Kos-kosan. Kami menyewa dua buah kamar seukuran 3 x 3 lengkap dengan kamarmandi di dalamnya, akan menjadi markas power ranger dalam beberapa hari kedepan. Pintu kedua kamar kami saling berhadapan. Jendela kamar masing-masing menghadap arah depan rumah dan belakang rumah. Aku dan Rifa menempati kamar yang jendelanya menghadap depan rumah karena kami sudah memperhitungkan keadaan sebelumnya. Kamar yang jendelanya menghadap belakang rumah memang tidak nyaman, kasurnya sudah butek, kapuknya menyembul-nyembul—indikasi sarang kutu dan bikin gatal. Terlebih lagi di luar jendela yang menghadap belakang rumah ada sebuah pohon besar yang berdaun rindang—seperti rumah setan, ada sebuah dahan yang menjuntai horizontal dan sangat proporsinal untuk tempat kuntilanak duduk sambil cekikikan, sangat mengerikan kalo malam. Akhirnya kamar itu hanya menjadi tempat menyimpan celana dalam basah, Andri dan Idon gak berani tidur di sana, dalam pikiran mereka hanya membayangkan kuntilanak itu.

Sebuah ruangtamu sengaja disediakan tepat di depan kamar kami, di sini, kami berlatih, bertapa, belajar dan mamperbanyak ilmu. Kami menjadi penguasa kos-kosan dalam beberapa hari tanpa menghiraukan penghuni yang lainnya. Hukum rimba benar-benar berlaku di sini, siapa yang banyak dialah yang menang. Inilah hidup kawan.

Kami memang berlima, tapi Yanti—wanita satu-satunya—nginep di rumah Pak De nya tadi. Lima orang saja akan sangat sulit dikalahkan, apalagi ditambah dengan sebuah robot. Robot aneh berbahan dasar daging, kepala kotak, mata sayu dan berjenggot—Hendri Novialdi. Hendri datang ke kosan sehari sebelum pertarungan dimulai.

5 juli 2008, pertarunganpun dimulai, monster-monster sudah menunggu kami di sana, sebuah tempat yang dinamakan Universitas Indonesia. Dengan peralatan seadanya dan rasa percayadiri yang tinggi, lebih tinggi dari isi kepala, kamipun memulai hari itu. Lima jam berlalu, dan kamipun kembali ke kos-kosan dengan ekspresi berbeda. Ikhtiar sudah dilakukan, sekarang tak ada yang dapat menolong kita lagi selain kekuatan doa. Fenomena yang terjadi, sehabis ujian semuanya pada rajin sholat. (kegiatan positif: Ujian membuat orang jadi taat ibadah). He….

Sekarang kami kembali ke Jogja—tanpa robot, menunggu kepastian nasib kami, karena kalah atau tidaknya monster ditentukan dalam beberapa minggu. Pendek kata, tanggal 11 Juli 2008 aku, Andri dan robot yang berhasil mengalahkan monster, sementara Idon, Rifa dan Yanti bertapa di Jawatengah, Semarang.

Sedih rasanya kami harus berpisah. Formasi yang kami susun selama beberapa bulan belakangan hancur begitu saja setelah adanya pesan dari situs itu. Kami punya jalan masing-masing, jalan ke Roma gak cuma satu. Sekarang kami terpisah antara Depok dan Semarang. Semoga kita tetap bersatu…


03 September 2009

Anak Adopsi

Ini cerita sewaktu masih pacaran dengan Meli.

Kami masih belum dikaruniai apapun, aku merasa sunyi hidup berdua saja, aku ingin ada sesuatu yang bisa menggantikan aku saat aku sudah tua nanti. (Didramatisir biar seru). Suatu hari, kusampaikan pada Meli kalau aku ingin mengadopsi anak—anak kucing. Walaupun saat itu dia tidak begitu suka pada kucing, tapi demi aku dia setuju untuk mengadopsi anak, bahkan dia menemaniku ke panti asuhan kucing.

Kuku: singkatan dari kata kucingku. Kucing kecil berkelamin cowok berwarna putih. Kuku tak begitu mengenal ibu yang mengadopsinya, dibandingkan Meli, aku yang lebih banyak merawat Kuku, mulai memberi makan, memandikannya, menidurinya (meninaboboinnya) dan membersihkan pupnya dari dia kecil sampe dia bisa sendiri.

Bulu yang dulu putih bersih, kini sudah agak kekuningan, walaupun setiap minggu selalu aku mandikan. Dia menemani hari-hariku. Makan bersama dengannya, tentu makanan yang beda, berbagi tempat tidurku dengannya, meski aku sering sakithati kasurku selalu dikencingi. Aku gak marah, karna dia masih terlalu kecil untuk dimarahi.

Awal-awal gigi susunya tumbuh, dia jadi ganas, suka menggigit aku dan setiap temanku yang datang ke kosan. Aku juga maklum. Awalnya gak sakit, lama kelamaan, semakin dia gede semakin menjadi-jadi. Berulangkali aku digigitnya, bosan sudah aku melarangnya, sampai suatu saat kesabaranku hilang, kupukul dia saat mencoba menggigit untuk keenam kalinya, baru dia berhenti. Tapi aku jadi sedih sendiri, Kuku termenung dipojok kamar seakan menyadari leluconnya gak lagi lucu, gigitannya gak lagi seperti dulu. Dia kelihatan menyesal. Segera aku hampiri dan minta maaf padanya:

Ku, Maafin Papa, Papa gak ada maksud menyakiti Kuku” sambil kuelus bulunya yang gampang rontok itu.

Meong” Kuku membalas. Kuanggap ini adalah ungkapan kalo Kuku telah memaafkanku dan dia juga menyesal. Besok-besoknya lagi, Kuku gak pernah menggigitku. Kalo teman-temanku, terserah.

Sore itu, ketika aku telah selesai packing barang-barang yang akan kubawa pulang kampung dan menyiapkan sebuah kardus kosong untuk membawa Kuku—aku pergi mandi, sementara Kuku masih di kamar nonton tipi.

Setelah selesai mandi, kutemui kamar dalam keadaan gak seperti biasa, pintu kamarku terbuka kecil, padahal tadi seingatku sudah aku kunci sebelum berangkat mandi. Apa ada pencuri masuk? Ternyata tidak, Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa seperti yang kubayangkan—telepon genggam dan dompet yang tergeletak di lantai masih ada, di kosanku ini sering terjadi kemalingan, itu yang membuatku kuatir.

Segera kukenakkan pakaian setelah mengeringi badan dengan handuk. Setelah selesai, baru aku sadar:

Mana Kuku?” batinku, setauku tadi dia di sini nonton tipi.

Sebentar lagi aku mau berangkat ke terminal, busku berangkat pukul 18.00 wib ini, sedangkan Kuku entah kemana. Aku panik, segera aku keluar dan menanyakan kesetiap teman kos—dimana Kuku berada. Tapi gak ada yang tau, aku jadi tambah panik, waktuku tinggal sebentar lagi. Kuku harus ikut, kalo aku pergi tanpa dia, dia mau tinggal sama siapa? Sementara ibunya sudah pulang kampung sebelumnya.

Aku ingat, biasanya dia sering main di atap mesjid samping kosanku, aku coba memanggilnya:

Kuku, Kuku, Kuku” kuteriakkan namanya.

Dia tak jua datang. Apa dia gak mau ikut denganku? Atau dia betah hidup di Jogja ini? Hanya satu alasan kuat yang bisa dia buat, Susi, ya Susi, dia jatuh cinta sama kucing tetangga, mungkin dia sedang menemui Susi untuk pamitan ikut Papanya Pulkam. Tapi, apa dia gak tau sekarang jam berapa?

Aku gak bisa menunggu lagi, maafkan Papa Ku!. dengan sedih aku tinggalkan kosan, tanpa membawa Kuku. Kardus yang kosong tadi kuisi selimut dan kubiarkan terbuka dan kuletakkan di depan pintu kamarku, semoga dia tau dimana dia harus nginap.

Aku diantar ke terminal oleh mas Ari—teman kosanku. Diperjalanan, aku masih sedih, aku masih teringat Kuku, ragu meninggalkannya, ragu kalo dia gak bisa bertahan tanpa aku. Anak sekecil itu belum bisa apa-apa, cari makan sendiripun belum bisa. Tapi apa boleh buat, aku gak boleh telat ke terminal.

Sebelum berangkat tadi, aku sempat berpesan sama teman kosan yang lain, sekiranya Kuku datang sementara busku belum berangkat, aku mohon dengan sangat, kuku diantar ke terminal. Aku tak henti-hentinya berdoa sepanjang jalan tadi semoga Kuku baik-baik saja.

Setibanya di terminal, ternyata busku delay beberapa jam. Aku hanya ada kesempatan untuk menunggu Kuku, bukan menjemputnya, karena jarak terminal dengan kos cukup jauh.

Tulit, tulit, tulit—telepon genggamku berbunyi, kulihat discreennya, owh, Mas Iful—teman kosanku. Ada apa gerangan?

Halo, ada apa Mas Iful?”

Kuku udah pulang Bel, barusan dia meong-meong panggil kamu”

Aku masih di terminal Mas, busku belum berangkat”

Kalo gitu aku ke sana sekarang anterin Kuku”

Kuku ditemukan Mas iful dalam keadaan ngantuk, gak sadar kalo dia ditinggalkan Papanya.

Doaku terjawab akhirnya. Sebuah doa yang tulus dari Papa kepada anaknya, meski bukan anak kandung. Akhirnya Kukuku kembali, aku terharu menyambut kedatangannya, sampai tak sadar airmata ini menetes membasahi lantai terminal sore itu.

Di Ujungbatu…

Sebenarnya, perjalanan dua hari dua malam melintasi dua pulau yang berbeda ini melelahkan sekali, tapi kalo besama Kuku aku merasa tidak. Kuku menjadi penyemangat hidupku, aku tidak bisa terpisahkan dengannya. Begitu sayang aku padanya.

Naas baginya, suatu hari dia ketabrak mobil karena dia main di pinggir jalan, kebetulan rumahku terletak di pinggir jalanraya. Kuku di temukan oleh Mama yang saat itu sedang menyapu halaman rumah:

Bel, ke sini cepat!” Mama berteriak sambil melepaskan sapu lidi dari pegangannya

Gak biasanya Mama memanggil aku sekeras itu.

Apa ma?” Aku yang sedang santai menonton tipi, meluncur keluar rumah secepatnya seakan tak mau ketinggalan

Kuku ketabrak mobil” Mama mengatakan sambil menunjuk pada segumpal bulu putih di pinggir jalan

Kuku?, tidaaaaakkkk” Segera kuhampiri Kuku dan kugendong kemana-mana

Pinggang kanannya keliatan ada bekas luka, dan matanya merah seperti menahan sakit.

Kuku, jangan tinggalkan Papa, Papa tak bisa hidup tanpa kamu, Kuku mau makan apa? Whiskas, ayam, ikan, bilang aja, tapi jangan mati sekarang!”

Tidak Papa, Kuku akan baik-baik saja, maafin atas kecerobohan Kuku sehingga Kuku ketabrak mobil ya, Pa!”

Ya, lain kali, dengar nasehat Papa!”

Adegan itu seperti di telenovela, sedih sekali. Kuku terkulai tak berdaya, setelah kuperiksa ternyata kaki kanannya patah. Kuku kubaringkan dibawah tempat tidur dan kurawat. Setiap hari kuantarkan makanannya. Papaku juga prihatin dengan nasib Kuku, beliau juga membantu mengobati Kuku.

Setelah satu minggu dirawat, akhirnya kuku sembuh, tapi dia gak bisa berjalan seperti kucing biasanya, kakinya masih pincang. Dia cacat. Tapi dia tetap ceria seperti dulu dan tetap Kuku yang dulu kukenal.



Putus-putus

Setelah dengan teman-teman yang lainnya, akhirnya aku kenal dengannya. Meli—anak Lampung, Sumatra, salahsatu dari enam wanita di kelasku.

Hai, namaku Meli, kamu Abel kan?” sambil mengulurkan tangannya hendak bersalaman

Iya, kok kamu tau?” Tanyaku keheranan

ya tau aja”

Ternyata dia begitu perhatian padaku, dia tau aku ngekos dimana, dia tau aku orang Sumatra juga, tapi dia gak sampai tau kalo aku takut sama kecoa

Kesan pertama aku melihatnya: aku tidak tertarik sama sekali padanya. Aku biasa aja, tidak menaruh perhatian apapun padanya, sama kepada lima wanita yang lainya, dia hanya teman biasa bagiku. Lagipula, aku sudah punya pacar, udah tahun keempat aku pacaran dengannya, pacar LDRku. Aku gak mau menyakitinya, orang yang cinta padaku itu.

Mulanya kami bisa bertahan selama ini karena saling percaya, ya, aku percaya padanya dan dia juga percaya pacaku, tapi lama kelamaan kepercayaan itu memudar seiring berjalannya waktu. Aku mulai tergoda untuk selingkuh, kayaknya gak salah kalo aku pacaran lagi, lagipula aku juga gak tau pacarku di sana gimana, setia atau gak, karena kami sudah jarang komunikasi. Memang susah kalo LDR tanpa saling percaya.

Meli yang mulai duluan. Sinyalnya kurasakan sekali begitu dia ada di sekitarku. Bukan ge er, aku mengatakan ini bukan tanpa sebab, aku sudah mencium indikasinya. Dia suka padaku, padahal dia juga sudah punya pacar, LDR juga, sama sepertiku. Akhirnya, aku dan Meli jadian. Tapi gak apa, ini cuma untuk sesaat, bukan hubungan serius. Kami tidak pernah punya komitmen apa-apa.

Gak lama pacaran dengan Meli, kami putus. Aku yang minta putus, gak tau alasannya apa. Yang pasti saat itu aku udah gak tertarik lagi sama dia, dia gak bisa berubah. Dia masih seperti pertama aku kenal. Cuek, gak mau tau, gak disiplin, gak teratur, asal-asalan dan banyak yang buat aku gak suka. Kalo gini, kenapa kemarin harus jadian? Kuanggap aja ini sebagian dari perjalanan hidupku. Dan akan kukenang selalu sebagai pelajaran hidup. Pesan: jangan mencintai seseorang kalau gak yakin dengan cintamu.

Ternyata karma bagiku, gak lama setelah putus dengan Meli, Rasti—pacar LDR ku, kuketahui selingkuh dengan seorang polisi anak bawang alias pangkat rendahan, begitu aku menyebut polisi itu karena saking bencinya. Ini suatu fenomena di kotaku Ujungbatu, para wanita berlomba-lomba mencari lelaki polisi. Mereka bangga kalo punya pacar polisi, karena dimata mereka, kalo sudah punya suami seorang polisi maka akan kehidupan akan terjamin. Memang benar sih, kan polisi banyak uangnya. Tapi, apakah cinta hanya sekedar materi? Kebencianku pada polisi menjadi dilema: Pak Wo ku polisi, Om ku polisi, bahkan teman baikku juga polisi, tapi entahlah.

Perbuatan Rasti membuatku menjadi antipati sama semua wanita, aku beranggapan kalo cinta itu sebenarnya gak ada, gak ada bagi orang yang tidak mampu. Keyakinan itu bertahan sampai aku ketemu dengan DIA.



Berawal dari Donat

Sepulang dari kampus, aku memang tidak kemana-mana, hanya satu tujuanku: kos. Mail, teman sekampusku yang juga baru kukenal: anak asal Kudus, Jawatengah ini sudah berapa hari ini pulang bareng denganku dan lewat jalan yang sama, kami berbincang di perjalanan:

Ngekos deket mana, Bel?”

Di samping masjid Nurul Iman, Il, knapa?”

Aku penasaran e mau ke kosanmu” dengan logat jawanya yang lumayan kental

Owh, dengan senanghati kalo kamu mau berkunjung ke kosanku” Kata-katanya gak seperti ini, ini dilebih-lebihkan biar sedikit keren tapi gak dibilang lebai. Mail ikut denganku ke kosan. Di sebuah persimpangan:

Kalo kosanku di sana, lewat sini” dia menjelaskan sambil menunjuk ke arah jalan yang becabang ke kiri tempat dimana kosannya berada.

owh, ternyata kosan kita gak begitu jauhan, nanti aku sempatkan juga main ke tempatmu deh”

Setibanya di kosan… Kupesilakan dia masuk, kosanku di lantai dua. Kusuguhi sebuah donat yang ada di meja kamarku. Kami asik bercerita, tak ingat cerita apa, yang pasti masih seputar pekenalan. Saking asik cerita sampai kami tak ingat juga pada waktu.

Eh iya, sudah sore, aku pamit pulang, Bel!

Ya, besok aku juga mau lihat tempat kosanmu”

oke”

Selepas magrib berganti isya, seperti pada malam-malam sebelumnya, aku duduk sendirian di pagar balkon kos-kosan, hanya berteman sebatang rokok Malbor merah. Ini bukan kebiasaanku, aku tidak perokok, ini hanya pelarian dari kesendirianku. Rokok jadi temanku melewati malam saat itu dan dan beberapa malam berikutnya. Thanks buat rokok.

Sedangkan dengan teman-teman di kosan, aku juga belum kenal banyak, mereka ada juga yang kakak tingkatku di kampus. Mereka sibuk dengan tugas-tugasnya, sehingga aku tak enak hati untuk minta ditemani. Aku kesepian. Rokok habis, akupun berangkat tidur.

Hari setelahnya…

Tak lagi kudengar kokokan ayam seperti waktu di kampung, di sini gak ada ayam berkeliaran. Kumantapkan hati dan melangkah pergi ke kampus, hari ini aku harus punya kenalan baru lagi, aku harus punya banyak teman, aku gak mau sendirian terus tiap malam, kalo perlu, lelaki berbaju hitam dan bertopi hitam yang ketus itu juga aku jadikan teman kalo bener-bener terpaksa.

Gayungpun bersambut, aku dapat banyak teman hari itu. Tiga orang sekaligus yang masih satu spesies: orang Minang, setidaknya Satu pulau denganku. Ilham, Rifa, Hendri, masing-masing dari Padangpanjang, Padangpanjang dan Bukittinggi. Aku sih ngakunya dari Pekanbaru, padahal kelahiran Pangkalan, Sumatrabarat juga, sama seperti mereka. Belakangan kuketahui, Hendri juga ngaku-ngaku sebagai anak Sumatrabarat padahal sebenarnya dia anak Riau. Aku mengambil kesimpulan sendiri atas hal ini, mungkin Hendri begitu supaya bisa ngekos di Asrama Padang. Hahaha. Pis Hen.

Sekarang, aku gak kesepian lagi, sudah punya banyak teman. Ada yang temani waktu makan siang di kampus, makan malam di luar, belajar bareng, semakin hari semakin akrab. Kadang kalo lagi free, kami sempatin main band di kampus, kebetulan ada alat band yang bisa dipake gratis.

Tak bisa dihindari, lelaki berbaju hitam dan bertopi hitam itu. Akhirnya kukenal dengannya: Ikal—anak Pulau Buton, Sulawesitenggara. Orangnya ternyata memang begitu, terbiasa hidup di lingkungan yang keras membuatnya juga keras, seekor katak yang hidup berdampingan dengan buaya akan merasa dirinya seperti buaya. Sekarang katak itu, hidup dengan kebanyakan kupu-kupu, dia akan segera bermetamorfosa seiring dengan berjalannya waktu, walaupun sekarang masih tetap ulat.

Gak disangka, Ikal—sekarang jadi teman yang paling akrab denganku, meskipun pada awalnya dia memanfaatkan keadaan dengan mengambil keuntungan sehingga dia berteman denganku. Begini ceritanya:

Di Jogja, Ikal tidak ngekos, berbeda dengan anak-anak lainnya. Ikal tinggal di rumah tentenya bersama sepupu dan duapupunya. Jarak rumah dan kampus yang lumayan jauh membuat Ical kebingungan saat jam istirahat siang, sementara nanti ada kuliah lanjutan lagi. Gak efektif kalo waktu yang hanya sejam ini digunakan untuk bolak balik ke rumahnya, sedangkan kecepatan motor yang dibawanya maksimal 40 km/jam—motor pitung kuning tahun 70an. Itu berarti setengah dari jam istirahat akan dia habiskan di perjalanan bolak balik rumah dan kampus. Capek deh.

Dengan alasan lebih kurang begitu, dia berusaha mendekati teman yang punya kosan di dekat kampus, sehingga dia tidak perlu pulang ke rumahnya atau menunggu bosan di kampus yang sepi sampai jam kuliah dimulai lagi. Dia mencari tempat untuk istirahat. Nah, dia menjatuhkan pilihannya padaku, orang yang pernah di tak acuhkannya, diketusinnya. Sungguh aku harap kamu tarik lagi kata-katamu dulu dan baik-baik denganku dulu. Pesan: besikap baiklah dengan setiap orang, mungkin suatu saat kita membutuhkannya.

Sama seperti waktu Mail berkunjung ke kosan, aku suguhi dia donat juga, untung gak aku racuni, walaupun masih jengkel mengingat peristiwa yang lalu. Tapi sudahlah, aku memaafkan hal itu. Akan aku simpan di pojok terdalam di sudut hatiku. Biarlah aku dan Tuhan yang tau serta orang-orang yang membaca tulisan ini.

Hari pertama kedua dia datang, masih kuperlakukan sama. Kusuguhkan donat, dia ketagihan datang terus, mungkin saja karena donat mungkin saja tidak, aku gak boleh buruksangka. Hari berikutnya dia datang, dia bukan tamu lagi, dia penghuni gelap kos-kosanku. Mulai sekarang, harap donat dibeli sendiri.

Ikal menjadi temanku sehari-hari, sudah mendarahdaging. Dimana ada aku di sana ada Ikal. Setiap ada tugas kelompok dari kampus, kami selalu kerjakan bersama, menjadi team yang solid tak terkalahkan. Praktek Ilmu Ukur Tanah, Kerja Struktur Bangunan, Ilmu Pelaksanaan Bangunan, Kerja Teknik Fondasi, dan lainnya. Dia menjadi sahabat sekaligus partnerku menjalani kuliah yang “menyenangkan” ini.

Sekarang, dia sudah gak ada, hus, bukan Ikal—Donat, yang dulu setiap hari aku beli karena ada yang nganter ke kosan, si pengantar donat gak datang-datang lagi. Ini donat dijual atas dasar kepercayaan, yang mau beli harus ninggalin duitnya di kotak donat tersebut, mungkin saja ada yang cuma ngambil trus gak dibayar, mungkin Ikal. Donat yang menjadi awal persahabatanku dengan beberapa teman. Dia telah banyak berjasa. Sekiranya dia makhluk hidup, akan kujadikan sahabat juga dia. Tapi sudahlah. Sampai saat ini, setiap kali kami makan donat, pasti teringat lagi peristiwa-peristiwa itu.



Mahasiswa Baru!!

AKU MULAI masuk ke kampus ini tepat satu minggu setelah perkuliahan dimulai. Aku harus menyelesaikan satu dan lain hal sebelum ke Jogja.

Aku gak pernah mengetahui gimana rasanya di ospek oleh kakak-kakak angkatan, punya kenangan indah waktu ospek, atau yang berhubungan dengannya. Kalo bisa disebut aku menyesal dengan semua itu. Sampai sekarang, kalo lagi duduk nongkrong bareng teman-teman dan membicarakan masalalu, aku paling minder kalo mereka sudah mulai membahas: OSPEK.

Gak ada bel yang bunyi, gak seperti waktu di sekolah SMKku dulu. Sekarang hari Senin, mata kuliah Gambar Teknik, para mahasiswa angkatan duaribu lima masuk ke ruangan gambar di lantai dua, sebelah timur kampus. Ruangan gambar ini lebiih besar tiga kali dari ruang gambar di sekolahku. Lebih kurang limapuluh meja gambar ada di dalamnya.

Bu Winarni: Dosen, tengah menjelaskan materi gambar teknik hari ini, semua mahasiswa mengikuti dengan konsen, hanya aku: masih terbebani pikiran ini, gak bisa konsen sama pelajaran, coretan-coretan spidol Bu Winarni di depan kelas seakan gak berarti bagiku. Ya, aku masih ada satu tugas yang penting, daftarulang di gedung pusat.

Gambar-gambar itu pernah aku pelajari di SMK dulu—sangat mudah—gambar teknik dasar, tapi tiba-tiba terasa sulit bagiku, kucoba untuk fokus, berhenti memikirkan yang lain untuk sementara. Wah, aku ketinggalan informasi yang barusan disampaikan Bu winarni, tak mungkin kusuruh beliau mengulanginya lagi untukku. Kutanya teman di sampingku saja:

Gimana pren, itu tadi?” Tanyaku pada seorang yang belum kukenal namanya.

Anak lelaki berbaju hitam dan memakai topi hitam pula. Dia nampak serius sekali, wajahnya tak bersahabat. Aku berharap dia menjelaskan semua yang disampaikan Bu Winarni tadi di depan kelas.

Itu tadi apaan? Liat ajalah!” jawabnya ketus.

Wow, anak ini, sombong amat. Belum tau lu siapa gue, gue jago silat” Batinku.

Karena gak mau ambil resiko lagi, akhirnya aku berhenti bertanya. Aku Cuma mengikuti apa yang ada di papan tulis.

Yah, cuma gitu doang, gampang kok. Kenapa lelaki berbaju hitam itu tak mau menjelaskan padaku?” Aku jengkel padanya.

Aku mulai menggambar, aku melakukannya dengan cepat, karena ini memang sudah aku pelajari di sekolahan. Zig zak, sat set, clup clup, selesai tigaperempatnya, waktu sudah pukul sepulu wib, aku harus ke gedung pusat sebelum jam istirahat. Ya sudah, apa boleh buat, aku tinggalkan kelas dengan kertas gambar masih terbentang di atas mejagambar.

Aku ke gedung pusat dengan berjalan kaki. Terakhir kuketahui ternyata aku jalan memutar, makanya terasa jauh. Aku memang susah kalo menghafal jalan, minimal harus melintasi empat atau lima kali baru aku bisa hafal jalannya. Segera aku sampai di sana, ku urus semua urusanku, sekiranya tak ada lagi, aku kembali ke kampus.

Setibanya di kampus, aku berkeringat, tadi jalan sangat cepat karena aku takut ketinggalan tugasku. Aku kembali kerjakan gambarku tadi dan selesai juga sebelum waktu habis. Fiyuh. Lho, padahal aku udah tinggal ke gedung pusat, gambarku selesai, kok Abid kertasnya masih kosong seperti tadi, hanya ada sedikit coretan yang tak berarti. Abid—temanku yang lainnya. Barulah aku merasa kalo gak sia-sia belajar serius di sekolah dulu. Abid lulusan SMA sehingga dia gak biasa dengan menggambar seperti ini. Dan anak lelaki berbaju hitam dan bertopi hitam itu gambarnya juga tak lebih bagus dari aku.

Siangnya. Mata kuliah agama Islam. Pertama kali kukenal dengan Aan—anak Jogja asli. Gak seperti lelaki berbaju hitam, Aan baik, pertama kenal aja dia sudah berbagi Al-quran denganku, dari sana aku mengambil kesimpulan kalo orang Jogja itu memang baik-baik, walau terlalu dini menyimpulkan, karena aku rasa bener. Dari sana aku mulai akrab dengannya. Dengan berakhirnya pelajaran dari Pak Nur, berakhir juga pertemuan kami siang itu.



Tetanggaku idolaku

Di penghujung semester kesekiankalinya—liburan, aku memutuskan untuk pulangkampung. Dah kangen sama keluarga. Meskipun secara perjalanan dari Pekanbaru ke rumahku hanya tiga jam saja, tapi saat itu terasa jauh banget. Aku pulangkampung juga jika ada waktu libur yang cukup panjang, biasanya akhir semester sehabis ujian.

Di Ujungbatu, aku punya banyak teman. Gak seperti di Pekanbaru, sehabis pulang sekolah aku hanya mendekam di rumah tante menghabiskan waktu untuk sekedar menonton tipi atau otak-atik komputer, tapi semua itu tidak pernah membuat aku bosan.

Malam itu, ada acara nikahan. Tradisi disini, kalo ada yang nikahan, pasti malam harinya akan diadakan hiburan orgen, itu lho, alat musik yang sangat komplit dan bisa mengeluarkan berbagai macam musik yang mengiringi biduannya bernyanyi di panggung. Aku gak tau pasti tradisi ini sejak kapan, yang pasti makin tahun makin parah. Gak seperti dulu-dulu, sekarang artisnya berani tampil buka-bukaan. Ini jaman edan. Subhanallah.

Kembali ke malam itu, malam ini malam minggu, malam yang asik buat pacaran, malam panjang kata orang-orang. Aku pergi main dengan teman-temanku seperti biasa, pergi ke pusat keramaian, kemana lagi kalo bukan nonton acara orgen. Nonton hanya selingan saja, tujuan utama ialah mencari gebetan.

Adalah bang Feri, kok seperinya dia mengerti kalo sekarang aku sedang butuh pendamping hidup (halah), pacar maksudnya. Bang Feri mempertemukan aku dengan dia, orang yang sudah aku kenal juga. Tetangga depan rumah, adik temanku, teman sekolahku di SMP dulu juga. Ya, bener: Rasti.

Beng Feri kok tau juga kalo aku menaruh hati pada gadis yang satu ini, sungguh suatu kebetulan lagi, kenapa selalu begini, aku selalu diberi kemudahan. Terimakasih Tuhan. Tanpa pikir panjang lagi dan emang sudah suka samasuka, kamipun jadian.

Berhubung aku sekolah di kota lain dan dia di sini, maka kamipun menjalankan hubungan jarak jauh (LDR), hubungan yang hanya akan bertahan dengan dasar kepercayaan. Tak beda dengan cintamonyetku, aku dan Rasti juga sering berbalas surat. Namun tradisi itu lenyap seketika aku dan dia sudah punya hape (telepon genggam, ponsel atau mobilephone, susah amat jelasinnya).

Aku dan Rasti ketemu dalam frekuensi enambulanan, ialah saat libur semester doang. Itupun pas di Ujungbatu kami gak ketemu tiap hari juga, hanya malam minggu saja biasanya. Kami hanya menghabiskan malam berdua di sebuah lapangan bola yang kami namakan “Lapangan Cinta”. Gak bosan hanya sekedar mengobrol seputar kehidupan. Malam itu duapuluh dua Mei—ulangtahunnya. Aku memberinya sebuah boneka beruang gede warna putih, boneka itu aku beri nama Vallen.

Pacaran dengan Rasti tidak menyenangkan, kami backstreet selama ini. Aku sungkan sama abangnya dia yang juga temanku sepermainan. Tapi kakak perempuannya sangat mendukung hubungan kami. Tak jarang dia memfasilitasi pertemuan kami.

Tiga tahun sudah aku pacaran dengannya sampai saat ini, sekarang aku akan benar-benar jauh, bukan hanya jarak tiga jam perjalanan dari Pekanbaru-Ujungbatu, aku diterima di sebuah perguruantinggi di Jogja. Aku harus pergi jauh demi cita-cita, meninggalkan dirinya. Jogja-Ujungbatu, sebuah tantangan baru yang lebih berat tentunya.



The special one

Di Pekanbaru…

Aku mendaftar di sebuah sekolah kejuruan teknik di sini, aku gak tau pasti alasanku masuk ke sekolah ini, entah hanya sekedar ikut-ikutan (tapi ikut siapa?, toh gak ada temanku di sini). Aku mengambil jurusan teknik bangunan, Omku pernah bersekolah di sini juga, sekarang dia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor bangunan. Pernah terpikir untuk masuk jurusan teknik mesin, tapi Papa tak mengijinkan, dengan alasan yang dangkal dan waktu itu aku rasa cukup meyakinkan.

Pertama kali mendaftar di sekolah ini, aku gak yakin bakal diterima. Peminat sekolah ini banyak sekali. Semua diseleksi dengan nilai ujian akhir nasional. Nilai ujianku saat itu tak tinggi-tinggi juga. Aku hanya bisa berdoa.

Eh gak taunya, waktu pengumuman penerimaan, aku mendapati namaku di urutan ke dua dari atas yang berarti nilaiku tertinggi ke dua disekian ratus pendaftar yang diterima. Clap, clap. Hal itu membuat aku lebih pede, aku pasti bisa menjadi terbaik diberikutnya.

Di sekolah, aku selalu berusaha menonjol dari yang lain. Menjadi ketuakelas merupakan langkah awalku. Tidak gampang menjadi ketuakelas. Tidak jarang aku mendapat tekanan dari teman-teman yang jahat dan suka bolos sekolah. Mereka selalu minta daftarhadirnya diisi olehku, sedangkan mereka pergi terbang entah ke mana. Aku seorang diri menghadapi semua itu, awal-awal sekolah belum punya teman dekat yang bisa diajak berbagi. Meskipun di bawah tekanan itu, aku sekalipun tidak pernah menuruti kata-kata mereka, kalo aku turuti, sama saja aku menghianati profesiku sebagai pemimpin. Aku tetap teguh pada pendirianku, aku hanya ingat sebuah kata-kata dari khatib saat mendengar khutbah jum’at bahwa “seorang pemimpin akan mempertanggung-jawabkan kepemimpinannya kelak di hari akhir”. Aku harus bisa bertahan.

Berkat keteguhan hatiku selama menjadi ketuakelas, dan menjadi orang yang teraniaya melulu. Tuhan memberikan jalan buatku, satu persatu orang-orang jahat di kelasku berguguran, tak melanjutkan sekolah lagi. Tuhan menolongku, Dia mendengar doaku, orang teraniaya.

Di sekolah, di kelasku ini kebanyakan atau hampir semuanya cowok atau 99,90 persen cowok. Hanya Duwi—cewek satu-satunya di kelasku. Memang gak seperti sekarang, jurusan bangunan ini masih dianggap jurusannya pekerja kasar yang hanya cocok dimasuki anak laki-laki, itu jelas-jelas pandangan yang salah, itu hanya pikiran orang kampung yang gak ngerti apa-apa. Kalo mau jadi pekerja kasar atau kuli bangunan buat apa sekolah.

Duwi anaknya baik, pinter pula. Selama dua semester dia selalu juara satu kelas dan aku selalu setingkat di bawahnya. Sebenarnya aku bisa saja yang nomor satu, tapi gak lah, kasian Duwi. Hahaha (becanda)…

Semester satu dan dua aku lalui dengan gemilang… tapi masih kalah dari dia—the special one: Duwi.

Monkey Love

MULANYA biasa saja kita saling bercanda (seperti lantunan lagu lawas entah karangan siapa). Kelas satu SMP ku kenal dengannya. Dia beda. Dwi cewek tomboi. Kulitnya hitam manis dan rambut sebahu, dan itu tak penting bagiku. Hanya keramahannya yang membuat aku menyenanginya.

Namun tak berlangsung lama. Belum lagi sempat mengenalnya lebih jauh, Dwi pergi. Dia pindah sekolah dan aku gak tau dia pindah ke mana. Dia gak pamitan sedikitpun denganku. Iya juga, emang aku siapanya.

aku duduk sebangku dengan Rio martin, teman-teman biasa memanggilnya ciling, Tapi aku lebih suka memanggil dengan nama yang sebenarnya. Rio anak yang jahil. Dia sering menteror cewek-cewek di kelasku. Hobinya mengintip celana dalam cewek dengan modus menjatuhkan pulpen ke bawah meja.

Cewek-cewek di kelasku—kelas satu-tiga—banyak yang cakep-cakep. Ada Rika: cewek pendek rambut sebahu dan kulit putih. Desi: hampir sama cuma agak tinggi dan sedikit tomboi. Siska: cerewet dengan rambut ekor kuda. Silvia Leni dan Silvia Amrina: cewek cubby dan cantik. Tapi aku sama sekali tak tertarik sama mereka. Cinta butuh chemistry.

Aku punya tetangga, namanya Roza. Roza comblangin aku dengan temannya--Cintya. Dan aku langsung tertarik sama Cintya. Aku orangnya mudah tergoda, apalagi dia memang cantik. Kulitnya hitam manis dan rambutnya ikal seperti mie telur cap dua bulan. Kalau di dekatnya kita akan merasa lapar.

Cintya anak orang kaya, orangtuanya punya ruko dan bengkel motor. Aku sempat minder ketika pertama tau dia. Secara aku bukan siapa-siapa.

Aku dan Cintya sering bertukar surat cinta. Roza sendiri yang jadi perkutut posnya. Bertukar isi hati dan perasaan melalui tinta, jarang sekali bertemu muka (seperti lagu band negeri jiran: UK’S).

Karena kangenku yang sangat, kami memutuskan untuk janjian ketemu di depan kantor kepaladesa, tempat yang sebenarnya tak aman buat pacaran karena kantor kepaladesa ini letaknya dikelilingi rumah penduduk. Duduk berduaan di sana akan merasa diawasi ratusan ribu pasang mata dari balik kaca jendela rumah mereka. Tapi gak lah, mereka juga pernah muda.

Kalo lagu band Jamrud tigapuluh menit tanpa bicara, kami udah satusetengah jam diam-diam aja, cuma duduk bersebelahan dan gak berani saling memandang. Malam kencan pertama itu berlalu tanpa banyak kata. Aku belum berani ngomong, baru pertama ini duduk berduaan dengan makhluk Tuhan yang cantik ini.

Dia juga begitu, gak berani memulai pembicaraan, apa aku yang harus selalu mulai? Apa aku yang harus selalu tanya duluan? Gimana kabarnya? Dan seterusnya. Kan gak ada diperaturan, apa-apa harus cowok yang duluan. Jadi cewek agresif dikit dong! kalo kayak gini terus mau jadi apa negara ini. Akhirnya kami putuskan untuk komunikasi dengan telepati. Melalui sinyal yang kukirim padanya, dia setuju. Kami jadian.

Mama…. Anakmu sudah punya pacar, Ma. Aku sudah bisa pacaran, Ma. Meski masih minta uang dari ortu. Gak malu?

o

Malam minggu. Setelah memastikan ruang keluarga—tempat gagang telpon bersemayam dalam keadaan sepi. Aku mulai beraksi. Aku mau telepon kekasihku dulu, mau bikin janjian meeting.

Tiiit… tuuuttt…. Tiiit… tuuuttt….

Halo, ini siapa?” suara seorang lelaki dewasa dari seberang sana menyambutku. Berarti itu Bapaknya. Segera kututup telponku. Dan kuhubungi lagi lima menit berikutnya. Tiiit… tuuuttt…. Tiiit… tuuuttt….

Halo, siapa ya?” angin surga berhembus kencang, suara wanitaku di seberang sana menyapa lembut, syukurlah. Aku gak tau apa yang dia lakukan pada Bapaknya dalam lima menit terakhir. Mungkin bapaknya diikat kaki dan tangannya lalu diceburin ke sumur sehingga dia dengan leluasa menerima telponku. Aku tahu dia sudah ada di sekitar telepon menungguku.

Sepuluh menit lagi tunggu aku di pertigaan, aku datang” Aku seperti orang ngajak berantem, gak ada mesra-mesranya. Kututup gagang telepon tanpa kata I love u, atau muah muah yang gak jelas itu.

Kami bertemu untuk malam mingguan ke dua kalinya setelah jadian. Aku mengajaknya makan bakso tak jauh dari rumahnya. Pacarannya? Ya gitu-gitu aja, gak ada yang beda sejak pertama bertemu dulu, masih diam terpaku saat ketemuan. Pacaran apaan? Harusnya kan….? Hehe. Inikah namanya pacaran, sesuatu yang membuat orang gugup bukan kepalang jika bertemu dengan pasangan?

Hubungan kami tak bertahan lama. Tanpa sebab yang jelas, dia mengirimku sepucuk surat pengunduran diri:

Pacarku, aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini, aku tau kamu duain aku, kamu punya pacar lagi kan?. Kamu gak usah jawab, aku sudah tahu semuanya. Yona kan?... Pesanku: berhentilah merokok, jaga kesehatanmu”

Seperti petir tunggal disiang bolong. Apa-apaan ini? Gak ada angin dan hujan, aku gak salah apa-apa kok diputusin. Pake sebut-sebut nama cewek lain lagi, Yona? Siapa itu Yona? Kenal aja gak. Aku pasti difitnah, atau memang dia cari-cari alasan saja untuk mutusin aku. Mungkin saja dia yang sudah punya pacar lagi. Atau dia baru merasa aku tak sebanding dengannya. Segala macam pertanyaan dan anggapan berterbangan di kamarku dan seketika dikacaukan adik perempuanku yang masuk kamar dengan membawa raket nyamuk.

Ya sudahlah kalo memang begitu maunya. Sesuai permintaannya, suratnya tak aku balas. Suatu saat dia pasti menyesal karena mengambil keputusan yang salah. Aku tak seperti yang dia duga. Semua surat darinya masih tersimpan rapi di laci lemari kamarku. Akan kubuang setelah aku dapat pacar baru.

o

Sejak surat malam minggu kedua kali itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Cintya seakan hilang ditelan bumi. Oh cintaku sesaat.

Episod baru: Aku punya teman akrab namanya Doni: tetangga sekaligus adik kelas di SMP. Doni bertubuh lebih kecil dari aku, rambutnya belah tengah tak sempurna, dan serinya pecah separuh karena jatuh tersungkur waktu main bola. Kemana-mana aku selalu dengannya. Main videogame, jalan-jalan ke pasar, main bola dan makan mie ayam. Susah senang suka duka kami lalui bersama, dia sudah kuanggap saudara sendiri.

Entah ini kebetulan atau memang jalan yang dibuat Tuhan untuk aku. Melalui Doni aku kenal dengan Yona—cewek yang dimaksudkan Cintya. Swear, aku baru kenal dengannya sekarang, kok Cintya bilang aku selingkuh dengannya. Dari mana? Jangan-jangan dia anak peramal. Karena kemarain aku melihat bola kristal dimatanya.

Yona memang cantik, rambutnya lurus panjang sepunggung, pipinya merah bak buah naga, bodinya seperti gitar Inggris. Secara keseluruhan seperti cewek penggoda.

Perkenalan itu hanya awalnya, seterusnya kami semakin dekat dan semakin dekat. Aku dan Doni sering pergi main atau sekedar jalan-jalan sore dengannya. Getaran itu terasa lagi, getaran yang telah lama hilang saat terakhir pacaran. Itu getaran perasaanku. Oh tidak, aku menyukainya, aku terpanah asmara. Seperti yang pernah aku bilang, aku mudah tergoda. Ternyata dari kemarin Dewa Amor mengikutiku terus. Entah kapan dia akan melepaskan busur panahnya.

Meskipun sama seperti waktu dengan Cintya, setiap ketemu jarang ngomong-ngomongan. Tapi kami sering ketemuan. Frekuensi ketemuan itulah yang menumbuhkan rasa sukaku padanya.

Yona, kamu anak astronot ya?”

Ah, gak. Kenapa emangnya?” dia bertanya keheranan.

Aku melihat bintang-bintang di matamu. Maukah kamu jadi pacarku?”

Dia tersipu malu-malu, seperti kucing kepingin kawin. Tanpa banyak kata aku berhasil jadi pacarnya. Ini pertama kalinya aku nembak cewek langsung dengan kata-kata. Entah siapa yang ngajarin, aku lupa.

Aku sering grogi bila berada di dekatnya. Dia begitu indah (seperti lagu Padi). Jalan berdua dengan cewek secantik itu ternyata juga tidak nyaman. Aku merasa selalu diawasi. Aku minder kalo jalan dengannya.

Waktu itu dia maksa ngajak jalan-jalan ke kebun salak, tapi aku gak ada duit. Demi dirinya, aku bongkar celengan ayamku yang susah payah aku tabung dan ternyata isinya hanya limapuluh ribu. Dan uang itu habis hanya dalam sekali traktiran makan nasi goreng. Pengorbananku demi dia.

Dipenghujung masaku di SMP, saat ujian akhir nasioal: merupakan hari-hari yang tak menentu hubungan kami. Aku dan Yona sudah jarang berkomunikasi. Aku lebih harus fokus kepada ujianku. Bagiku masa depan lebih penting. Maafkan aku pacarku!.

Setelah lulus dari SMP dan aku melanjutkan sekolah ke luar kota, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Kami anggap semuanya telah berakhir.



12 Agustus 2009

No women no cry

Masih di kelas yang sama di Cawu yang beda. Hari itu pelajaran Matematika. Bu Guru lagi menerangkan tentang konversi satuan baku.

Bu Guru gak kelihatan seperti biasa, kali ini suaranya begitu lantang seperti orang sedang emosi, matanya merah, giginya bergaris-garis, kukunya seperti meruncing dan timbul tanduk di kepalanya. Gak segitunya kali, mungkin lagi datang tamu. Ditengah-tengah pelajaran, Bu Guru mengajukan pertanyaan kepada kami semua:

“Satu kwintal itu sama dengan berapa kilogram? Kamu!” dibaca satu tarikan napas: Suara Bu Guru penuh emosi saat menunjuk salah seorang temanku yang duduk di pojok belakang yang tadi sedang berbincang dengan teman di sebelahnya saat Bu Guru menerangkan pelajaran konversi satuan baku.

Dia—temanku itu—tidak ngerti jawaban dari pertanyaan Bu Guru. Kemudian Bu Guru menunjuk teman yang duduk di sebelahnya lagi:

“Kalau begitu, kamu yang di sebelahnya”

Sama saja, tetap ga bisa. Akhirnya Bu Guru memberi pertanyaan yang sama pada semua siswa, semua bertanggungjawab menyelesaikannya.

Tetap gak ada yang bisa menjawab, meski seorang yang memperhatikan gurupun daritadi tetap tak bisa menjawabnya karena Bu Guru memang belum menjelaskan sampai ke sana. Kami yang bodoh atau Bu Guru yang tidak bisa mengajarkan?

“Kenapa? Gak ada yang bisa jawab? Makanya, kalo guru lagi menerangkan pelajaran, tolong diperhatikan!” Bu Guru menyalahkan kami semua.

“Sekarang silakan kalian cari jawabannya! Ibu tunggu sebelum jam istirahat!”

Ini gak adil, karena gula setitik rusak susu sebelahnya. Karena perbuatan temanku itu, kami semua kena getahnya.

Semua siswa dipersilakan keluar, seperti lagu Rice Band: mencari sebuah jawaban. Tanpa pikir panjang, kami menuju ruang kelas 6. Tentu mereka lebih tau, mereka lebih senior daripada kami.

Karena masih jam pelajaran, tak ada satupun kakak kelas yang bisa ditemui untuk ditanyain, kami menemukan kebuntuan, gak mungkin nanya sama Ibu kantin, kembalian uang jajan saja sering salah-salah. Ada juga temanku yang nekad nanya padanya, diperoleh jawaban yang macam-macam: bisa 100 ribu, 50 ribu, bahkan 1 juta, tergantung apa nama barang yang berat satu kwintal. Dia cuma tau kalo satu kwintal itu jika dikonversikan ke harga. Huuu…

Sebelum jam istirahat, kamipun kembali ke kelas. Kami sudah putus asa tidak memperoleh jawaban apapun, yang terjadi terjadilah, pasrah semua. Segera semua duduk kembali di bangkunya masing-masing dengan kepala tertunduk.


“Gimana? Sudah ketemu jawabannya?” Suara Bu Guru kayak pake Toa.

“Belum Bu…” Seisi kelas serempak menjawab tanpa aba-aba

Bu Guru semakin emosi, bak gunung api yang segera meletus. Mata, gigi, kuku dan tanduk Bu Guru kelihatan semakin jelas dibayangan. Firasatku akan terjadi sesuatu yang hebat sebentar lagi.

Disuruhnya kami semua maju bergantian ke depan kelas. Dibariskanya seperti orang yang antri bbm. Dipukulnya masing-masing kami dengan sebilah kayu tebal mirip penggaris papantulis. Tak ada yang luput satupun. Untung aku dapat posisi sedikit terakhir, sehingga Bu Guru sudah kehabisan tenaga saat memukuli aku. Sedapnya bukan main, sampai merah-merah lengan ini.

Ceng, ceng, ceng… Loncengpun berbunyi. Jam istirahat. Seperti biasa, aku dan teman-teman lainnya menuju kantin. Semua siswa kelas 3 kelihatan berjalan sambil memegang lengannya, termasuk aku. Tapi kok hanya terlihat siswa laki-laki kelas 3 saja yang di kantin, yang wanitanya mana?

Kudapati mereka kantin, semua wanita kelas 3 berkumpul di sana, apa yang mereka lakukan? No women no cry is true.

Dugaan kkn

Kelas 3. ujian cawu I telah selesai, saat yang mendebarkan, menanti hasil pembagian rapor dan pengumunan juara kelas. Semua siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 dibarsikan di lapangan depan kelas, suasana dan keadaannya beda dengan upacara bendera. Sekarang semua berbaris menghadap ruang kelas, sebuah mimbar putih berdiri di depan kami, tempat Pak Kepala sekolah menyampaikan pidatonya. Bukan pidatonya yang menarik, but…

Selama ini, aku hanya masuk jajaran sepuluh besar dikelasku. Aku pikir aku gak terlalu bodoh, hanya saja aku kurang beruntung. Aku gak pernah bermimpi untuk masuk tiga besar, apalagi untuk menjadi juara umum. Hmmm, kayaknya gak mungkin. But, nothing is impossible.

Suasana yang tadi gaduh tiba-tiba berubah jadi tenang seketika setelah Pak Kepala sekolah selesai menyampaikan pidatonya. Saat yang mendebarkan dan dinantikan: pengumuman juara.

Aku sih biasa aja, tetap berdiri di posisi barisan yang sama seperti upacara bendera, santai menyaksikan pengumuman juara kelas. Dan juara untuk kelas 3 pun dibacakan. Kucermati dengan hati-hati suara Pak Kepala sekolah saat membacakan pengumuman. Aku berharap dia memanggil namaku. Hanya sekedar harapan tanpa usaha. Ujiannya juga aku kerjakan apa adanya. Tapi apa yang terjadi, Tuhan berkehendak lain, dan:

Juara 3, dengan nilai rata-rata 7,9. Afret Nobel” Suara Pak Kepala sekolah terdengar gak seperti biasa, kenapa begitu? Karena dia memanggil namaku?...

Aku terkaget terkatung-katung, untung bagiku tidak mengidap penyakit jantung. Aku juara kelas, oh yes. Aku maju ke depan barisan dengan canggung, untuk pertamakalinya aku juara kelas. Ternyata Mama tidak sia-sia mengajarkan aku cara sholat dan berdo’a. karena memang usaha itu harus dibarengi dengan doa. Mungkin aku usaha 10 persen dan doa 80 persen, untung doaku manjur. 10 persennya lagi: Nasib.

Setelah semua selesai, aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Tapi kalau mimpipun aku merasa tak rugi. Setidaknya pernah jadi juara, meski di dunia tak nyata. Tapi syukurlah bukan. Aku pulang ke rumah dengan hati yang berbangga.

Cawu berikutnya aku gak dapat juara lagi, gak tau kenapa, padahal aku udah berusaha semaksimal mungkin. Gak seperti dulu, yang hanya mengandalkan doa, sekarang aku sama-sama seratus persen usaha dan doa, tapi mengapa gak juara. Kembali lagi ke: Nasib.

Jadi timbul pikiran negatif dalam otak ini. Mungkin saja karena kemarin aku lupa mengucapkan terimakasih kepada Bu Guru bahwasanya aku dapat juara, yaah, saat itu, setidaknya harus memberi kado sebagai ucapan terimakasih kepada guru jika masih ingin jadi juara di cawu berikutnya lagi.

Ya sudah, gak apa, setidaknya aku sudah berusaha...

Kantong plastik

Hari-hari berikutnya, sekolahanku berjalan seperti biasa, belajar menulis, membaca dan berhitung. Aku juga tidak terlalu bodoh, semua pelajaran dapat dengan mudah kupahami meskipun sedikit lambat.

Hari itu: Senin—hari yang lain—aku sudah kelas 3 SD. Karena sudah terbiasa bangun pagi sebagai anak sekolahan, gak ada lagi telat-telat mandi, gak ada lagi bom-bom terjepit, sarapanpun berjalan mulus. Hanya saja, sebelum berangkat sekolah:

“Sepatu Abel masih basah nih, Ma?”kataku dengan wajah kesal.

“Salah sendiri, kemarin disuruh cuci sepatu pagi-pagi, kamu malah cuci sore hari, ya belum kering nah” jawab mama sambil menyalahkanku.

Kebiasaan tiap hari minggu memang begitu, sepatu aku dan Uni, kami yang cuci sendiri di sungai. Kemarin minggu pagi-pagi sekali, aku sudah terbang main bola di tanah lapang dekat bekas teminal lama di samping mesjid. Trus kelupaan deh sama kewajiban cuci sepatu. Uni lagi, gak pengertian, kok gak sekalian dicuciin sepatu adikmu ini. Kok aku jadi nyalahin Uni.

“Malas ah ke sekolah dengan sepatu basah gini” sambil menggerutu kugeser dengan kaki sepatu itu dari hadapanku.

“Gak ada alasan malas ke sekolah, hanya lembab dikit kok, nanti dilapisi kantongplastik aja biar kakinya gak kedinginan” Mama menyarankan.

Kantongplastik dengan bahasa latinnya kresek.

Dengan berathati, aku ambil kantongplastik di kedai Nenek, segera kupasangkan dikakiku setelah memasang kaoskaki. Warna plastiknya hijau dan hitam. Aku malu kalo sampai ketahuan sama teman-temanku, kutusukkan dengan jaritanganku bagian-bagian kantongplastik yang muncul dipergelangan kaki.

“Dah ya Ma, berangkat dulu” aku berlari mengejar Uni yang sudah duluan sedari tadi.

Diperjalanan. Aku bersama Uni dan Adi melintasi jalan setapak yang dikiri-kanannya berupa semak rendah yang masih basah oleh embun. Tiba-tiba seekor anjingkampung berlari dari arah yang berlawanan menuju kami. Kebetulan waktu itu sedang musimnya anjing gila berkeliaran. Spontan saja, Adi menerobos semak yang basah tadi mencari perlindungan tanpa kompromi, sementara Uni hanya bisa duduk sambil meraih sebuah batu yang gak jelas ditangan kanannya, sedangkan aku cuma bisa terdiam menyaksikan peristiwa itu, semua terjadi begitu cepat.

Aku gak bisa berbuat apa-apa, maafkan aku Adi, maafkan aku Uni. Halah lebay. Gak ada apa-apa kok, anjing itu hanya numpang lewat. Satu pelajaran yang kuperoleh dari peristiwa ini adalah “kekuatiran yang berlebihan, akan menyebabkan sepatu basah atau tangan kotor”. Itu.

Kembali pada sepatuku yang basah tadi. Sepulangnya dari sekolah, aku lega. Ternyata ide Mama mantap juga, kakiku gak kedinginan sama sekali, hanya pucat sedikit, setidaknya kantongplastik menyelamatkan aku dari kutuair. Gak ada yang gak mungkin jika mau usaha.

Masa depan

Tinut, tinut ,tinut, jam weker di kamarku berbunyi tepat jam 6 pagi, mata masih berat bangun, gak biasanya bangun jam segini. Hari ini: hari pertama aku masuk sekolah, Mama sekolahin aku di sekolahnya Uni—SDN 003 Ujungbatu. Uni sekarang sudah kelas 2.

“Bangun Bel, gimana sih nih anak SD?” kata Mama sambil menarik selimutku.

“Haaa, apaaa?” jawabku agak malas-malas

“Mandi sana, mau berangkat bareng sama Uni gak? Atau dah tau jalan sendiri?”

“Iya-iya. Uni mana ma?”

“Dah pergi mandi tuh, cepetan, ntar ditinggal, baru tau rasa”

“Oke” segera aku bergegas, ambil handuk dan perlengkapan mandi lainnya menuju sungai. Di rumah gak ada kamar mandi apalagi wc, emang begitu di sini, semua kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan MCK mengandalkan sungai itu.

Ditepian sungai, setelah melucuti semua pakaian dan menyisakan celanadalam, bukannya langsung mandi, aku malah duduk termenung sambil memegangi sikat gigi yang sudah diodoli: karena saking kedinginannya, baru kali ini mandi sepagi ini.

“Hei, mandilah!” perintah Adi sambil mencipratkan air ketubuhku yang duduk ditepian.

Adi: teman sekelas Uni, dia juga teman mainku kalo di rumah, kita bertetangga. Bapaknya penambang pasir di sungai ini.

“Sialan” ketusku.

Seperti orang baru tersadarkan dari mimpi indah, tapi gak apa, kalo bukan karena Adi, mungkin aku akan tetap membatu sampai siang dan telat masuk sekolah—hari pertamaku sekolah SD. Segera bergegasku menuntaskan mandi, teringat akan kata-kata Mama tadi, aku gak mau ditinggal Uni.

Seragam baru, sepatu baru, tas baru, buku-buku baru, semua serba baru, hanya aku yang kelamaan:

“Lama banget sih Abel ma? Dah mau berangkat nih” Uni gusar, takut telat masuk sekolah.

“Sabaaar!, adikmu itu belum ngerti” Mama menenangkan.

“Cepetan Bel, ntar kita telat ni!” Uni semakin panik saat menyelesaikan sarapannya.

Aku masih di dalam kamar, aku dalam masalah besar, ini menyangkut masa depanku. Ini bukan masalah sepele. Aku gak mau awal pertamaku sekolah menjadi akhir dari segalanya. Akhirnya Mama menyusulku ke kamar, Mama kuatir kalo aku tidur lagi sehabis pulang dari mandi tadi, dan:

“Abel, what’s up? Somethings happen? Tell me, all u trouble!” tau beliau bilang apa? pasti tau, kamu kan pintar.

Mama hanya ketawa geli menyaksikanku dalam kesulitan, bertarung dengan masa depanku yang di ujung tanduk.

“Bom-bom terjepit Ma” jawabku sambil menahan sakit.

Bom-bom: sebuah daging kecil yang menonjol yang letaknya sejengkal di bawah puserku. Baru kali ini aku pake celana yang ada resletingnya, karena buru-buru makanya terjepit deh.

“Owh ini masalahnya, sini Mama bantuin”

Tangan Mama memang ajaib, dengan bantuan Mama dan gak butuh waktu lama, masa depanku akhirnya selamat. Ffiiyuhh…

“Berangkat dulu ma, doakan anakmu, assalamualaikum” sambil menciumi tangan Mama, tak lupa mengambil sepotong pisang goreng di meja, kan belum sempat sarapan.

“Pamitan dulu sama Nenek sana!”

“Sip”

Aku dan Uni ke sekolah dengan manaiki kaki sendiri, ya, seperti anak-anak lain pada umumnya. Belum banyak kendaraan seperti sekarang. Jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh untuk anak seukuran itu. Tapi toh bukan aku dan Uni aja yang jalankaki, kalo rame-rame begini, gak terasa jauh.

Ada 2 jalur alternatif menuju sekolah: pertama, yang paling deket: lewat depan pabrik kerupuk, trus ada tanjakan tinggi yang kalo musim hujan bikin terpeleset, kalo lagi gak beruntung bisa diuber-uber anjing. Alternatif Ke-dua, lumayan jauh: jalan datar, cuma nanjak dikit, yang paling aman, tapi agak muter. Gak apalah, baru hari pertama sekolah, jangan cari penyakit dulu. Karena gak mau ambil resiko, kami pilih yang ke-dua. Pisss.

Duapuluh meteran mendekati gerbang sekolah, loncengpun bergemonceng, ceng ceng, ceng ceng, begitu bunyinya. Segera kami tambah kecepatan perjalanan.

Hari ini Senin, upacara bendera. Setelah menumpuk tas di dalam ruangan yang di pintu depannya ada tulisan angka 1, ya taulah, percuma aku TK kalo gak tau angka 1 itu gimana wujudnya. Anak kecil aja tau. Aku dan yang lainnya berlari menuju lapangan upacara yang terletak di depan kelas. Masing-masing kelas menyiapkan barisannya, khusus anak kelas 1, diatur oleh Bu guru. Bu guru baik ya?

“Baris menurut ketinggian, bikin dua berbanjar!” perintah Bu guru sambil mengarahkan dengan gerakan tangannya. Aku dapet posisi ke 3, itu karena tubuhku gak pendek-pendek amat, tentu lain halnya kalo dibariskan menurut ketampanan, pasti aku yang paling depan.

“Para perserta upacara diperkenankan meninggalkan lapangan upacara, upacara selesai, laporan selesai” teriak sang pemimin upacara di tengah lapangan.

Finally, acara baris-berbaris ini selesai juga. Pegel nih kaki, gak pernah berdiri selama ini. Apa-apaan ini, kalo bisa dihapuskan saja acara seperti ini, buang-buang waktu. Bagi anak ini yang belum tau makna upacara bendera.

Semua siswa masuk ke kelas masing-masing. Ruang kelas 1 terletak paling pojok sebelah kanan menghadap jalanraya, meskipun demikian, ventilasi yang menghadap jalanraya itu dirancang tinggi, sehingga tidak mengganggu konsentrasi siswa ketika ada kendaraan lewat.

Aku duduk di bangku nomor dua dari depan, aku duduk berdampingan dengan Safar, aku tau namanya dari daftarhadir yang dibaca Bu guru sebentar tadi, belum ngerti cara memperkenalkan diri masing-masing. Bu guru juga tidak mempersilakan kami memperkenalkan diri masing-masing, beliau hanya memperkanalkan namanya dan mendata kami satu persatu.

Hari pertama sekolah, belum ada pelajaran yang diberikan guru. Mungkin sengaja, biar gak bikin otak-otak kecil ini jadi kaget. Hanya ada kegiatan pemilihan ketuakelas, pembagian tugas piket harian, dan Bu guru juga membagikan selembar kertas berisi daftar matapelajaran dari Senin sampai Sabtu. Udah, gitu doank. Kami dipersilakan pulang.