05 November 2009

Sahabat vs Rokok

HARI SABTU kami mengadakan kerja bakti di kampus—membersihkan musholla. Di sana ada aku, Ical, Sule dan beberapa teman lainnya. Namun yang paling bersemangat kerja bakti hari itu adalah Sule. Sule: lelaki berwajah Palembang dengan tahi lalat di sudut kiri matanya. Sule merasa paling bertanggung-jawab terhadap kebersihan musholla kampus karena dia adalah pengurus musholla yang ditunjuk oleh ketua HMTS (Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil) di kampus kami.
Kerja bakti selesai sekitar tengah hari, tepat pada jam makan siang. Aku dan Sule pergi membeli nasi bungkus dengan motor pitung kuning milik Ical, sementara Ical nitip minta dibeliin juga.
“Bel, sekalian belikan rokok sebatang!” Pinta Ical sambil melemparkan kunci motor pitung kuning miliknya.
“Oke” Oke hanya di dalam hati.
Sepuluh menit kemudian kami kembali dengan membawa tiga biji nasi bungkus dari warung padang. Kami makan di atas meja dekat hanggar kampus. Hanggar adalah semacam ruang luas terbuka dengan atap yang tinggi, persis seperti parkiran pesawat ukuran sedang. Kami makan dengan semangat setelah lelah kerja bakti. Yang paling semangat tetap saja Sule.
Sehabis makan, Ical langsung menerorku.
“Mana, Bel, rokokku?”
Aku hanya cengar-cengir. Aku sengaja tak membelikannya rokok. Kurasa tindakanku sudah benar. Membelinya sebatang rokok sama saja dengan memberinya sekotak racun. Aku tak mau meracuni temanku sendiri. Tapi tanggapan Ical berbeda. Dia marah besar. Maklum, dia sudah begitu kecanduan dengan benda ini. Dia seperti ikan yang terlempar dari akuarium. Mangap-mangap. Dengan membanting tong sampah plastik sebelumnya, Ical pergi meninggalkan kami dan meminta kunci motornya. Dia pergi beli rokok.
Ical merokok ceria di gazebo HM. Kami menyusulnya ke sana. Ical masih kelihatan marah dan es mosi (sejenis minuman baru). Aku gak berani mendekatinya. Dia seperti banteng yang siap menyeruduk ketika melihat benda berwarna merah melintas di depannya. Aku sarankan Sule (yang menurutku tak ada hubungannya dengan kemarahan Ical padaku):
“Man, samperin Ical! Tanya apa maksudnya membanting tong sampah tadi!.”
Sule, nama lengkapnya Sulaiman. Lelaki pendiam, penurut dan lugu. Terhasut oleh kata-kataku. Dia menghampiri Ical di gazebo sementara aku mengamati dari jauh.
“Hei, Cal, apa maksud……gluk gluk”
Belum selesai Sule mengutarakan kata-kata yang kupesan, Ical langsung melabraknya, mengajaknya berantem. Sule yang malang sekonyong-konyong terpojok dan terbanting di depan pintu HM. Aku masih mengamati dari jauh, kupikir itu sebuah gurauan.
Sule pun naik darah, sebagai orang Palembang yang terhormat, dia tak mau harga dirinya di injak-injak. Dia bangkit bersamaan ketika aku datang menenangkannya. Ternyata Ical marah benaran. Aku tak menyangkanya sama sekali. Biasanya suka bercanda. Rokok telah membuat matanya buta. Persahabatan menurutnya tak lebih indah dari sebatang rokok.
“Sudahlah, Man!” Aku menahan Sule. Muka putihnya berubah memerah penuh emosi. Tangannya dikepal keras-keras. Badannya kejang-kejang.
“Aku gak terima, Bel”
“Sama teman juga, Man. Kurasa Ical hanya emosi sesaat. Jangan hiraukan dia dulu!, mari kita pulang” Aku menenangkan.
Aku merasa bersalah atas kejadian ini. Sule yang tak tahu apa-apa menjadi korban. Kami pergi meninggalkan Ical. Ical kembali merokok ceria dengan asap berkepul-kepul di gazebo HM. Asap yang keluar dari mulutnya bergumpa-gumpal berbentuk tinju. Jelas sekali Ical ingin cari permusuhan. Sementara tanduk dan taring Sule sudah berhasil aku jinakkan.
Hari berikutnya Ical datang ke kosanku. Kembali cengar-cengir seperti dulu. Dia sudah sembuh sepertinya.
“Bel, antarkan aku ke kosan Sule, aku mau minta maaf”
“Dengan senang hati, Cal. Semua ini salahku, Cal. Seandainya aku belikan pesananmu, pasti tak seperti ini jadinya. Maafin aku, Cal”
“Sudahlah”
Kosan sule letaknya tak jauh dari kosanku, hanya sedikit menuruni bukit karena kosannya terletak di bantaran sungai Code—salah satu sungai yang membelah kota Jogja. Aku dan Ical ke sana jalan kaki. Setibanya di kosan Sule, kami kehausan karena habis menuruni bukit (halah). Ical segera minta maaf atas kesalahannya. Dan Sule dengan senang hati memaafkannya.
“Persahabatan kita lebih berharga dari sebatang rokok, mulai sekarang aku berhenti merokok” kata Ical.