Jam 04.00 subuh buta…
DENGAN sudah payah dan bergelimangan peluh akhirnya kami tiba di Jakarta—tepatnya Stasiun Jatinegara—tempat turun dari kereta yang kami anggap paling dekat dengan Depok. Stasiun Jatinegara sendiri terletak di Jakarta Timur yaitu bagian timur dari Jakarta, jika letaknya di sebelah barat Jakarta dan masih merupakan bagian dari Jakarta maka nama daerahnya Jakrta Barat begitu seterusnya berlaku untuk bagian utara dan selatan. Lain halnya bagian tengah dari Jakarta, jika di pulau Jawa ada: Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, maka di Jakarta tidak ada yang namanya Jakarta Tengah, yang ada hanya Jakarta Pusat.
Setelah turun di Stasiun Jatinegara, kami melanjutkan perangkotan menuju Depok—dua kali nyambung. Setelah naik angkot 06A, turunlah di Graha Cijantung, di sana kalian akan disambut oleh puluhan tukang ojek yang menawarkan jasa tumpangan—tapi jangan naik ojek—kemahalan karena Depok masih sangat jauh, naiklah angkot lagi dengan jurusan 112 warna biru. Selama di perjalanan dinihari, jika beruntung maka kalian bisa menyaksikan pemandangan eksotis banci-banci yang lagi melakukan transaksi prostitusi di sepanjang jalan menuju UI, cukup menghibur. Dan jangan sampai ketiduran, awasi sepanjang perjalanan, jika melihat plang yang bertuliskan “SELAMAT DATANG DI KOTA DEPOK”, segera hentikan angkotnya.
Dah jelaskan? Kalo dah turun dari angkot—sms aja—ntar aku kasih tau selanjutnya…
Tiba di kos-kosan Kepodang—nama kosanku, jam 06.00 setelah tadi naik ojek dan sempat nyasar dikit. Aku dan Andri tergeletak lesu di depan pintu kamar kos-kosan yang sudah kami pesan sebulan yang lalu, abang Doni—pemilik kosan—belum bangun sedangkan kunci kamar dia yang pegang. Pasrah menunggu di sana dan tak lama kemudian dia datang. Kami laksana pengembara kehausan di gurun Sahara yang dibawakan semangkok es dawet. Apalah…
“Owh sebentar, saya carikan dulu kuncinya!” bang Doni menghilang sebentar ke dalam kamarnya dan tak lama kemudian datang membawa seonggok kunci.
Hampir limabelas menit lebih mencari-cari, mencocokkan, dan menebak kunci untuk kamar nomor 26—kamar yang akan ditempati Andri selama enam bulan kedepan, namun tak jua ada yang pas, belum jodoh. Bang Doni kebingungan apalagi kami berdua yang sedari tadi belum sempat tidur nyenyak di kereta. Di kereta tadi, gak bisa tidur normal, badan berasa berlipat-lipat. Ternyata kuncinya gak ada di tumpukan tadi melainkan di tangan Andri sendiri, aku jadi geram. Kamar dibuka dan tanpa ampun kamipun lelap sampai tengah hari.
Sementara Hendri sendiri sudah di Jakarta, dia selama ini hinggap di rumah Pak Eteknya (Pak Etek: adik dari ortu, bahasa Minang). Hendri sudah lama di Jakarta karena dia di sini bekerja, bekerja di tempat yang katanya tidak memerlukan ilmu. Emang ada? Mungkin saking pintar dan cerdasnya dia sehingga dia sanggup mengatakan demikian, kalo aku yang disuruh bekerja di sana mungkin aku akan bertapa dulu tujuh hari tujuh malam di goa Selarong sendirian untuk menyempurnakan ilmuku. Itulah bedanya aku dengan dia. Hendri—temanku—manusia jenius di kelas kami. Meskipun setiap jam kuliah dia tidak pernah memperhatikan dosen mengajar, ketiduran, atau hanya geleng-geleng kepala, tapi dia selalu bisa setiap kali ditanya. Entah terbuat dari apa isi kepalanya, setauku dia masih makan nasi dan minum air, sama sepertiku.
Dua bulan yang lalu…
Hal yang sama pernah terjadi sebelumnya, pertarungan menghadapi masadepan oleh lima orang manusia yang jebolan universitas katanya salahsatu terbaik di negara ini. Yang katanya juga universitas kerakyatan, tetapi aku rasa tidak ada bedanya, biaya kuliah tetap saja mahal. Entahlah, entah apa yang ada dibenak para penguasa negeri ini, negeri yang menjadikan penduduknya sebagai pembeli.
Klaskson kereta telah berbunyi tanda kereta akan segera berangkat, Senja Utama Solo judulnya. Ada tiga orang pria dan seorang wanita resah di dalamnya—Rifa belum datang, sedangkan sesuai perjanjian hari sebelumnya kita akan berkumpul di Stasiun ini—Stasiun Tugu—sebelum jam 18.57, tentunya sebelum kereta berangkat. Kemana anak itu? Pertanyaan yang tersirat dari wajah-wajah pria dan wanita itu, tanpa Rifa formasi power ranger kita belum lengkap, kekuatan kita akan hilang, kita akan mudah ditaklukkan musuh.
Sudah jam 18.57 tepat, roda kereta berputar pelan dan kemudian semakin cepat namun tanda-tanda kedatangan anak Padang bertubuh tinggi itu belum juga ada, kami semakin risau. Ini adalah impian kami bersama, kami sudah mempersiapkannya jauh-jauh hari, jauh sebelum pendaftarannya dibuka, saat yudisium kemarin. Apa boleh buat, mau gak mau kami harus tetap berangkat.
Aku duduk sendirian di bangku 3A tepat di belakang Idon dan Andri, sementara Yanti mengasingkan diri karena merasa wanita satu-satunya. Seharusnya bangku 3B ini diduduki oleh Rifa, anak Padangpanjang itu. Tapi kemana dia? Bukankah kemarin hari aku dan dia yang pergi memesan tiket ini, gak mungkin dia lupa jadwal keberangkatnya.
Dari ramai sesak penumpang di gerbong dua itu—gerbong yang kami tempati—aku melihat sesosok pria jangkung memakai jaket putih dari balik-balik tangan orang yang sibuk menaikkan barang—di gerbong depannya. Pria itu seperti sedang mencari-cari sesuatu, celingak-celinguk seperti orang sedang mencari uang recehan jatuh, seperti hilang akal tak tentu arah, keringat yang menetes di dahinya mengabarkan kalo dia datang dengan terburu-buru dan gak sempat pipis. Ternyata uang recehan yang ia cari itu kami—empat orang temannya, dialah Rifa. Lengkap sudah kami berlima, formasi power ranger sudah terbentuk, kami akan sulit ditaklukkan meski oleh monster yang dipesan langsung dari planet terjauh.
Ramainya tukang ojek, kuli angkut, tukang taksi dan suara knalpot bajaj menyambut kami subuh itu, pertama kalinya aku ke Jakarta, kota yang tak masuk dalam daftar petualanganku. Udara sesak, pengap, ciri-ciri kekurangan O2, masuk akal jika bikin orang frustasi dan bunuh diri.
Hari Jum’at, kami menuju rumah kerabat salah seorang anggota power ranger—rumah Pak De Yanti. Di sini kami bermaksud transit untuk mandi dan sholat Jum’at, gak ada maksud lain. Gak seperti Idon, yang berharap sekalian dapat makan siang. Sepiring teh dan segelas donat pagi itu masih belum cukup bagi Idon, sedangkan Andri sibuk mengisi paru-parunya dengan awan buatan. Yumi—kucing abu-abu milik tuan rumah—mengantar istirahat kami menjelang waktu sholat tiba.
Pak De: entah mengapa dinamakan demikian, aku mencoba menebak, mungkin saja dia anak ke empat makanya dinamakan begitu, pasti kakak-kakaknya Pak De masing-masing bernama Pak A, Pak Be, dan Pak Ce. Makasih Pak De, udah ngijinin kami istirahat di rumah. Setelah sholat Jum’at, kami undur diri menuju Depok.
Setelah naik angkot dan menyusuri jalan setapak kecil di atas sebuah selokan, kami tiba di halte sebuah bus. Bus aneh berwarna kuning yang bertuliskan “use public transportation to reduce air polution” yang artinya kurang lebih: naiklah bus ini. Anehnya? Semua serba kuning, sampai sepedapun di cat kuning. Segera kuketahui dari Yanti kalo itu adalah bus dan sepeda milik kampus yang akan kami masuki. Dengan bantuan benda serba kuning, bermesin dan bisa jalan lagi itu akhirnya kami sampai di kos-kosan.
Kos-kosan. Kami menyewa dua buah kamar seukuran 3 x 3 lengkap dengan kamarmandi di dalamnya, akan menjadi markas power ranger dalam beberapa hari kedepan. Pintu kedua kamar kami saling berhadapan. Jendela kamar masing-masing menghadap arah depan rumah dan belakang rumah. Aku dan Rifa menempati kamar yang jendelanya menghadap depan rumah karena kami sudah memperhitungkan keadaan sebelumnya. Kamar yang jendelanya menghadap belakang rumah memang tidak nyaman, kasurnya sudah butek, kapuknya menyembul-nyembul—indikasi sarang kutu dan bikin gatal. Terlebih lagi di luar jendela yang menghadap belakang rumah ada sebuah pohon besar yang berdaun rindang—seperti rumah setan, ada sebuah dahan yang menjuntai horizontal dan sangat proporsinal untuk tempat kuntilanak duduk sambil cekikikan, sangat mengerikan kalo malam. Akhirnya kamar itu hanya menjadi tempat menyimpan celana dalam basah, Andri dan Idon gak berani tidur di sana, dalam pikiran mereka hanya membayangkan kuntilanak itu.
Sebuah ruangtamu sengaja disediakan tepat di depan kamar kami, di sini, kami berlatih, bertapa, belajar dan mamperbanyak ilmu. Kami menjadi penguasa kos-kosan dalam beberapa hari tanpa menghiraukan penghuni yang lainnya. Hukum rimba benar-benar berlaku di sini, siapa yang banyak dialah yang menang. Inilah hidup kawan.
Kami memang berlima, tapi Yanti—wanita satu-satunya—nginep di rumah Pak De nya tadi. Lima orang saja akan sangat sulit dikalahkan, apalagi ditambah dengan sebuah robot. Robot aneh berbahan dasar daging, kepala kotak, mata sayu dan berjenggot—Hendri Novialdi. Hendri datang ke kosan sehari sebelum pertarungan dimulai.
5 juli 2008, pertarunganpun dimulai, monster-monster sudah menunggu kami di sana, sebuah tempat yang dinamakan Universitas Indonesia. Dengan peralatan seadanya dan rasa percayadiri yang tinggi, lebih tinggi dari isi kepala, kamipun memulai hari itu. Lima jam berlalu, dan kamipun kembali ke kos-kosan dengan ekspresi berbeda. Ikhtiar sudah dilakukan, sekarang tak ada yang dapat menolong kita lagi selain kekuatan doa. Fenomena yang terjadi, sehabis ujian semuanya pada rajin sholat. (kegiatan positif: Ujian membuat orang jadi taat ibadah). He….
Sekarang kami kembali ke Jogja—tanpa robot, menunggu kepastian nasib kami, karena kalah atau tidaknya monster ditentukan dalam beberapa minggu. Pendek kata, tanggal 11 Juli 2008 aku, Andri dan robot yang berhasil mengalahkan monster, sementara Idon, Rifa dan Yanti bertapa di Jawatengah, Semarang.
Sedih rasanya kami harus berpisah. Formasi yang kami susun selama beberapa bulan belakangan hancur begitu saja setelah adanya pesan dari situs itu. Kami punya jalan masing-masing, jalan ke Roma gak cuma satu. Sekarang kami terpisah antara Depok dan Semarang. Semoga kita tetap bersatu…
2 komentar:
mengharukan bel !!!
sedih jg klo mengingat masa2 test d UI .... haha
bel ajari blog bel,
ni blog q " www.ketoepatrendank.blogspot.com "
tinggal nulis aja apa yang ada di pikiran dan hati, gak penting tata bahasa, titik koma, yang penting hantam. apa adanya....
Posting Komentar