03 September 2009

Anak Adopsi

Ini cerita sewaktu masih pacaran dengan Meli.

Kami masih belum dikaruniai apapun, aku merasa sunyi hidup berdua saja, aku ingin ada sesuatu yang bisa menggantikan aku saat aku sudah tua nanti. (Didramatisir biar seru). Suatu hari, kusampaikan pada Meli kalau aku ingin mengadopsi anak—anak kucing. Walaupun saat itu dia tidak begitu suka pada kucing, tapi demi aku dia setuju untuk mengadopsi anak, bahkan dia menemaniku ke panti asuhan kucing.

Kuku: singkatan dari kata kucingku. Kucing kecil berkelamin cowok berwarna putih. Kuku tak begitu mengenal ibu yang mengadopsinya, dibandingkan Meli, aku yang lebih banyak merawat Kuku, mulai memberi makan, memandikannya, menidurinya (meninaboboinnya) dan membersihkan pupnya dari dia kecil sampe dia bisa sendiri.

Bulu yang dulu putih bersih, kini sudah agak kekuningan, walaupun setiap minggu selalu aku mandikan. Dia menemani hari-hariku. Makan bersama dengannya, tentu makanan yang beda, berbagi tempat tidurku dengannya, meski aku sering sakithati kasurku selalu dikencingi. Aku gak marah, karna dia masih terlalu kecil untuk dimarahi.

Awal-awal gigi susunya tumbuh, dia jadi ganas, suka menggigit aku dan setiap temanku yang datang ke kosan. Aku juga maklum. Awalnya gak sakit, lama kelamaan, semakin dia gede semakin menjadi-jadi. Berulangkali aku digigitnya, bosan sudah aku melarangnya, sampai suatu saat kesabaranku hilang, kupukul dia saat mencoba menggigit untuk keenam kalinya, baru dia berhenti. Tapi aku jadi sedih sendiri, Kuku termenung dipojok kamar seakan menyadari leluconnya gak lagi lucu, gigitannya gak lagi seperti dulu. Dia kelihatan menyesal. Segera aku hampiri dan minta maaf padanya:

Ku, Maafin Papa, Papa gak ada maksud menyakiti Kuku” sambil kuelus bulunya yang gampang rontok itu.

Meong” Kuku membalas. Kuanggap ini adalah ungkapan kalo Kuku telah memaafkanku dan dia juga menyesal. Besok-besoknya lagi, Kuku gak pernah menggigitku. Kalo teman-temanku, terserah.

Sore itu, ketika aku telah selesai packing barang-barang yang akan kubawa pulang kampung dan menyiapkan sebuah kardus kosong untuk membawa Kuku—aku pergi mandi, sementara Kuku masih di kamar nonton tipi.

Setelah selesai mandi, kutemui kamar dalam keadaan gak seperti biasa, pintu kamarku terbuka kecil, padahal tadi seingatku sudah aku kunci sebelum berangkat mandi. Apa ada pencuri masuk? Ternyata tidak, Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa seperti yang kubayangkan—telepon genggam dan dompet yang tergeletak di lantai masih ada, di kosanku ini sering terjadi kemalingan, itu yang membuatku kuatir.

Segera kukenakkan pakaian setelah mengeringi badan dengan handuk. Setelah selesai, baru aku sadar:

Mana Kuku?” batinku, setauku tadi dia di sini nonton tipi.

Sebentar lagi aku mau berangkat ke terminal, busku berangkat pukul 18.00 wib ini, sedangkan Kuku entah kemana. Aku panik, segera aku keluar dan menanyakan kesetiap teman kos—dimana Kuku berada. Tapi gak ada yang tau, aku jadi tambah panik, waktuku tinggal sebentar lagi. Kuku harus ikut, kalo aku pergi tanpa dia, dia mau tinggal sama siapa? Sementara ibunya sudah pulang kampung sebelumnya.

Aku ingat, biasanya dia sering main di atap mesjid samping kosanku, aku coba memanggilnya:

Kuku, Kuku, Kuku” kuteriakkan namanya.

Dia tak jua datang. Apa dia gak mau ikut denganku? Atau dia betah hidup di Jogja ini? Hanya satu alasan kuat yang bisa dia buat, Susi, ya Susi, dia jatuh cinta sama kucing tetangga, mungkin dia sedang menemui Susi untuk pamitan ikut Papanya Pulkam. Tapi, apa dia gak tau sekarang jam berapa?

Aku gak bisa menunggu lagi, maafkan Papa Ku!. dengan sedih aku tinggalkan kosan, tanpa membawa Kuku. Kardus yang kosong tadi kuisi selimut dan kubiarkan terbuka dan kuletakkan di depan pintu kamarku, semoga dia tau dimana dia harus nginap.

Aku diantar ke terminal oleh mas Ari—teman kosanku. Diperjalanan, aku masih sedih, aku masih teringat Kuku, ragu meninggalkannya, ragu kalo dia gak bisa bertahan tanpa aku. Anak sekecil itu belum bisa apa-apa, cari makan sendiripun belum bisa. Tapi apa boleh buat, aku gak boleh telat ke terminal.

Sebelum berangkat tadi, aku sempat berpesan sama teman kosan yang lain, sekiranya Kuku datang sementara busku belum berangkat, aku mohon dengan sangat, kuku diantar ke terminal. Aku tak henti-hentinya berdoa sepanjang jalan tadi semoga Kuku baik-baik saja.

Setibanya di terminal, ternyata busku delay beberapa jam. Aku hanya ada kesempatan untuk menunggu Kuku, bukan menjemputnya, karena jarak terminal dengan kos cukup jauh.

Tulit, tulit, tulit—telepon genggamku berbunyi, kulihat discreennya, owh, Mas Iful—teman kosanku. Ada apa gerangan?

Halo, ada apa Mas Iful?”

Kuku udah pulang Bel, barusan dia meong-meong panggil kamu”

Aku masih di terminal Mas, busku belum berangkat”

Kalo gitu aku ke sana sekarang anterin Kuku”

Kuku ditemukan Mas iful dalam keadaan ngantuk, gak sadar kalo dia ditinggalkan Papanya.

Doaku terjawab akhirnya. Sebuah doa yang tulus dari Papa kepada anaknya, meski bukan anak kandung. Akhirnya Kukuku kembali, aku terharu menyambut kedatangannya, sampai tak sadar airmata ini menetes membasahi lantai terminal sore itu.

Di Ujungbatu…

Sebenarnya, perjalanan dua hari dua malam melintasi dua pulau yang berbeda ini melelahkan sekali, tapi kalo besama Kuku aku merasa tidak. Kuku menjadi penyemangat hidupku, aku tidak bisa terpisahkan dengannya. Begitu sayang aku padanya.

Naas baginya, suatu hari dia ketabrak mobil karena dia main di pinggir jalan, kebetulan rumahku terletak di pinggir jalanraya. Kuku di temukan oleh Mama yang saat itu sedang menyapu halaman rumah:

Bel, ke sini cepat!” Mama berteriak sambil melepaskan sapu lidi dari pegangannya

Gak biasanya Mama memanggil aku sekeras itu.

Apa ma?” Aku yang sedang santai menonton tipi, meluncur keluar rumah secepatnya seakan tak mau ketinggalan

Kuku ketabrak mobil” Mama mengatakan sambil menunjuk pada segumpal bulu putih di pinggir jalan

Kuku?, tidaaaaakkkk” Segera kuhampiri Kuku dan kugendong kemana-mana

Pinggang kanannya keliatan ada bekas luka, dan matanya merah seperti menahan sakit.

Kuku, jangan tinggalkan Papa, Papa tak bisa hidup tanpa kamu, Kuku mau makan apa? Whiskas, ayam, ikan, bilang aja, tapi jangan mati sekarang!”

Tidak Papa, Kuku akan baik-baik saja, maafin atas kecerobohan Kuku sehingga Kuku ketabrak mobil ya, Pa!”

Ya, lain kali, dengar nasehat Papa!”

Adegan itu seperti di telenovela, sedih sekali. Kuku terkulai tak berdaya, setelah kuperiksa ternyata kaki kanannya patah. Kuku kubaringkan dibawah tempat tidur dan kurawat. Setiap hari kuantarkan makanannya. Papaku juga prihatin dengan nasib Kuku, beliau juga membantu mengobati Kuku.

Setelah satu minggu dirawat, akhirnya kuku sembuh, tapi dia gak bisa berjalan seperti kucing biasanya, kakinya masih pincang. Dia cacat. Tapi dia tetap ceria seperti dulu dan tetap Kuku yang dulu kukenal.



Tidak ada komentar: