12 Agustus 2009

Masa depan

Tinut, tinut ,tinut, jam weker di kamarku berbunyi tepat jam 6 pagi, mata masih berat bangun, gak biasanya bangun jam segini. Hari ini: hari pertama aku masuk sekolah, Mama sekolahin aku di sekolahnya Uni—SDN 003 Ujungbatu. Uni sekarang sudah kelas 2.

“Bangun Bel, gimana sih nih anak SD?” kata Mama sambil menarik selimutku.

“Haaa, apaaa?” jawabku agak malas-malas

“Mandi sana, mau berangkat bareng sama Uni gak? Atau dah tau jalan sendiri?”

“Iya-iya. Uni mana ma?”

“Dah pergi mandi tuh, cepetan, ntar ditinggal, baru tau rasa”

“Oke” segera aku bergegas, ambil handuk dan perlengkapan mandi lainnya menuju sungai. Di rumah gak ada kamar mandi apalagi wc, emang begitu di sini, semua kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan MCK mengandalkan sungai itu.

Ditepian sungai, setelah melucuti semua pakaian dan menyisakan celanadalam, bukannya langsung mandi, aku malah duduk termenung sambil memegangi sikat gigi yang sudah diodoli: karena saking kedinginannya, baru kali ini mandi sepagi ini.

“Hei, mandilah!” perintah Adi sambil mencipratkan air ketubuhku yang duduk ditepian.

Adi: teman sekelas Uni, dia juga teman mainku kalo di rumah, kita bertetangga. Bapaknya penambang pasir di sungai ini.

“Sialan” ketusku.

Seperti orang baru tersadarkan dari mimpi indah, tapi gak apa, kalo bukan karena Adi, mungkin aku akan tetap membatu sampai siang dan telat masuk sekolah—hari pertamaku sekolah SD. Segera bergegasku menuntaskan mandi, teringat akan kata-kata Mama tadi, aku gak mau ditinggal Uni.

Seragam baru, sepatu baru, tas baru, buku-buku baru, semua serba baru, hanya aku yang kelamaan:

“Lama banget sih Abel ma? Dah mau berangkat nih” Uni gusar, takut telat masuk sekolah.

“Sabaaar!, adikmu itu belum ngerti” Mama menenangkan.

“Cepetan Bel, ntar kita telat ni!” Uni semakin panik saat menyelesaikan sarapannya.

Aku masih di dalam kamar, aku dalam masalah besar, ini menyangkut masa depanku. Ini bukan masalah sepele. Aku gak mau awal pertamaku sekolah menjadi akhir dari segalanya. Akhirnya Mama menyusulku ke kamar, Mama kuatir kalo aku tidur lagi sehabis pulang dari mandi tadi, dan:

“Abel, what’s up? Somethings happen? Tell me, all u trouble!” tau beliau bilang apa? pasti tau, kamu kan pintar.

Mama hanya ketawa geli menyaksikanku dalam kesulitan, bertarung dengan masa depanku yang di ujung tanduk.

“Bom-bom terjepit Ma” jawabku sambil menahan sakit.

Bom-bom: sebuah daging kecil yang menonjol yang letaknya sejengkal di bawah puserku. Baru kali ini aku pake celana yang ada resletingnya, karena buru-buru makanya terjepit deh.

“Owh ini masalahnya, sini Mama bantuin”

Tangan Mama memang ajaib, dengan bantuan Mama dan gak butuh waktu lama, masa depanku akhirnya selamat. Ffiiyuhh…

“Berangkat dulu ma, doakan anakmu, assalamualaikum” sambil menciumi tangan Mama, tak lupa mengambil sepotong pisang goreng di meja, kan belum sempat sarapan.

“Pamitan dulu sama Nenek sana!”

“Sip”

Aku dan Uni ke sekolah dengan manaiki kaki sendiri, ya, seperti anak-anak lain pada umumnya. Belum banyak kendaraan seperti sekarang. Jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh untuk anak seukuran itu. Tapi toh bukan aku dan Uni aja yang jalankaki, kalo rame-rame begini, gak terasa jauh.

Ada 2 jalur alternatif menuju sekolah: pertama, yang paling deket: lewat depan pabrik kerupuk, trus ada tanjakan tinggi yang kalo musim hujan bikin terpeleset, kalo lagi gak beruntung bisa diuber-uber anjing. Alternatif Ke-dua, lumayan jauh: jalan datar, cuma nanjak dikit, yang paling aman, tapi agak muter. Gak apalah, baru hari pertama sekolah, jangan cari penyakit dulu. Karena gak mau ambil resiko, kami pilih yang ke-dua. Pisss.

Duapuluh meteran mendekati gerbang sekolah, loncengpun bergemonceng, ceng ceng, ceng ceng, begitu bunyinya. Segera kami tambah kecepatan perjalanan.

Hari ini Senin, upacara bendera. Setelah menumpuk tas di dalam ruangan yang di pintu depannya ada tulisan angka 1, ya taulah, percuma aku TK kalo gak tau angka 1 itu gimana wujudnya. Anak kecil aja tau. Aku dan yang lainnya berlari menuju lapangan upacara yang terletak di depan kelas. Masing-masing kelas menyiapkan barisannya, khusus anak kelas 1, diatur oleh Bu guru. Bu guru baik ya?

“Baris menurut ketinggian, bikin dua berbanjar!” perintah Bu guru sambil mengarahkan dengan gerakan tangannya. Aku dapet posisi ke 3, itu karena tubuhku gak pendek-pendek amat, tentu lain halnya kalo dibariskan menurut ketampanan, pasti aku yang paling depan.

“Para perserta upacara diperkenankan meninggalkan lapangan upacara, upacara selesai, laporan selesai” teriak sang pemimin upacara di tengah lapangan.

Finally, acara baris-berbaris ini selesai juga. Pegel nih kaki, gak pernah berdiri selama ini. Apa-apaan ini, kalo bisa dihapuskan saja acara seperti ini, buang-buang waktu. Bagi anak ini yang belum tau makna upacara bendera.

Semua siswa masuk ke kelas masing-masing. Ruang kelas 1 terletak paling pojok sebelah kanan menghadap jalanraya, meskipun demikian, ventilasi yang menghadap jalanraya itu dirancang tinggi, sehingga tidak mengganggu konsentrasi siswa ketika ada kendaraan lewat.

Aku duduk di bangku nomor dua dari depan, aku duduk berdampingan dengan Safar, aku tau namanya dari daftarhadir yang dibaca Bu guru sebentar tadi, belum ngerti cara memperkenalkan diri masing-masing. Bu guru juga tidak mempersilakan kami memperkenalkan diri masing-masing, beliau hanya memperkanalkan namanya dan mendata kami satu persatu.

Hari pertama sekolah, belum ada pelajaran yang diberikan guru. Mungkin sengaja, biar gak bikin otak-otak kecil ini jadi kaget. Hanya ada kegiatan pemilihan ketuakelas, pembagian tugas piket harian, dan Bu guru juga membagikan selembar kertas berisi daftar matapelajaran dari Senin sampai Sabtu. Udah, gitu doank. Kami dipersilakan pulang.

Tidak ada komentar: