AKU MULAI masuk ke kampus ini tepat satu minggu setelah perkuliahan dimulai. Aku harus menyelesaikan satu dan lain hal sebelum ke Jogja.
Aku gak pernah mengetahui gimana rasanya di ospek oleh kakak-kakak angkatan, punya kenangan indah waktu ospek, atau yang berhubungan dengannya. Kalo bisa disebut aku menyesal dengan semua itu. Sampai sekarang, kalo lagi duduk nongkrong bareng teman-teman dan membicarakan masalalu, aku paling minder kalo mereka sudah mulai membahas: OSPEK.
Gak ada bel yang bunyi, gak seperti waktu di sekolah SMKku dulu. Sekarang hari Senin, mata kuliah Gambar Teknik, para mahasiswa angkatan duaribu lima masuk ke ruangan gambar di lantai dua, sebelah timur kampus. Ruangan gambar ini lebiih besar tiga kali dari ruang gambar di sekolahku. Lebih kurang limapuluh meja gambar ada di dalamnya.
Bu Winarni: Dosen, tengah menjelaskan materi gambar teknik hari ini, semua mahasiswa mengikuti dengan konsen, hanya aku: masih terbebani pikiran ini, gak bisa konsen sama pelajaran, coretan-coretan spidol Bu Winarni di depan kelas seakan gak berarti bagiku. Ya, aku masih ada satu tugas yang penting, daftarulang di gedung pusat.
Gambar-gambar itu pernah aku pelajari di SMK dulu—sangat mudah—gambar teknik dasar, tapi tiba-tiba terasa sulit bagiku, kucoba untuk fokus, berhenti memikirkan yang lain untuk sementara. Wah, aku ketinggalan informasi yang barusan disampaikan Bu winarni, tak mungkin kusuruh beliau mengulanginya lagi untukku. Kutanya teman di sampingku saja:
“Gimana pren, itu tadi?” Tanyaku pada seorang yang belum kukenal namanya.
Anak lelaki berbaju hitam dan memakai topi hitam pula. Dia nampak serius sekali, wajahnya tak bersahabat. Aku berharap dia menjelaskan semua yang disampaikan Bu Winarni tadi di depan kelas.
“Itu tadi apaan? Liat ajalah!” jawabnya ketus.
“Wow, anak ini, sombong amat. Belum tau lu siapa gue, gue jago silat” Batinku.
Karena gak mau ambil resiko lagi, akhirnya aku berhenti bertanya. Aku Cuma mengikuti apa yang ada di papan tulis.
“Yah, cuma gitu doang, gampang kok. Kenapa lelaki berbaju hitam itu tak mau menjelaskan padaku?” Aku jengkel padanya.
Aku mulai menggambar, aku melakukannya dengan cepat, karena ini memang sudah aku pelajari di sekolahan. Zig zak, sat set, clup clup, selesai tigaperempatnya, waktu sudah pukul sepulu wib, aku harus ke gedung pusat sebelum jam istirahat. Ya sudah, apa boleh buat, aku tinggalkan kelas dengan kertas gambar masih terbentang di atas mejagambar.
Aku ke gedung pusat dengan berjalan kaki. Terakhir kuketahui ternyata aku jalan memutar, makanya terasa jauh. Aku memang susah kalo menghafal jalan, minimal harus melintasi empat atau lima kali baru aku bisa hafal jalannya. Segera aku sampai di sana, ku urus semua urusanku, sekiranya tak ada lagi, aku kembali ke kampus.
Setibanya di kampus, aku berkeringat, tadi jalan sangat cepat karena aku takut ketinggalan tugasku. Aku kembali kerjakan gambarku tadi dan selesai juga sebelum waktu habis. Fiyuh. Lho, padahal aku udah tinggal ke gedung pusat, gambarku selesai, kok Abid kertasnya masih kosong seperti tadi, hanya ada sedikit coretan yang tak berarti. Abid—temanku yang lainnya. Barulah aku merasa kalo gak sia-sia belajar serius di sekolah dulu. Abid lulusan SMA sehingga dia gak biasa dengan menggambar seperti ini. Dan anak lelaki berbaju hitam dan bertopi hitam itu gambarnya juga tak lebih bagus dari aku.
Siangnya. Mata kuliah agama Islam. Pertama kali kukenal dengan Aan—anak Jogja asli. Gak seperti lelaki berbaju hitam, Aan baik, pertama kenal aja dia sudah berbagi Al-quran denganku, dari sana aku mengambil kesimpulan kalo orang Jogja itu memang baik-baik, walau terlalu dini menyimpulkan, karena aku rasa bener. Dari sana aku mulai akrab dengannya. Dengan berakhirnya pelajaran dari Pak Nur, berakhir juga pertemuan kami siang itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar