Kelas 3. ujian cawu I telah selesai, saat yang mendebarkan, menanti hasil pembagian rapor dan pengumunan juara kelas. Semua siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 dibarsikan di lapangan depan kelas, suasana dan keadaannya beda dengan upacara bendera. Sekarang semua berbaris menghadap ruang kelas, sebuah mimbar putih berdiri di depan kami, tempat Pak Kepala sekolah menyampaikan pidatonya. Bukan pidatonya yang menarik, but…
Selama ini, aku hanya masuk jajaran sepuluh besar dikelasku. Aku pikir aku gak terlalu bodoh, hanya saja aku kurang beruntung. Aku gak pernah bermimpi untuk masuk tiga besar, apalagi untuk menjadi juara umum. Hmmm, kayaknya gak mungkin. But, nothing is impossible.
Suasana yang tadi gaduh tiba-tiba berubah jadi tenang seketika setelah Pak Kepala sekolah selesai menyampaikan pidatonya. Saat yang mendebarkan dan dinantikan: pengumuman juara.
Aku sih biasa aja, tetap berdiri di posisi barisan yang sama seperti upacara bendera, santai menyaksikan pengumuman juara kelas. Dan juara untuk kelas 3 pun dibacakan. Kucermati dengan hati-hati suara Pak Kepala sekolah saat membacakan pengumuman. Aku berharap dia memanggil namaku. Hanya sekedar harapan tanpa usaha. Ujiannya juga aku kerjakan apa adanya. Tapi apa yang terjadi, Tuhan berkehendak lain, dan:
“Juara 3, dengan nilai rata-rata 7,9. Afret Nobel” Suara Pak Kepala sekolah terdengar gak seperti biasa, kenapa begitu? Karena dia memanggil namaku?...
Aku terkaget terkatung-katung, untung bagiku tidak mengidap penyakit jantung. Aku juara kelas, oh yes. Aku maju ke depan barisan dengan canggung, untuk pertamakalinya aku juara kelas. Ternyata Mama tidak sia-sia mengajarkan aku cara sholat dan berdo’a. karena memang usaha itu harus dibarengi dengan doa. Mungkin aku usaha 10 persen dan doa 80 persen, untung doaku manjur. 10 persennya lagi: Nasib.
Setelah semua selesai, aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Tapi kalau mimpipun aku merasa tak rugi. Setidaknya pernah jadi juara, meski di dunia tak nyata. Tapi syukurlah bukan. Aku pulang ke rumah dengan hati yang berbangga.
Cawu berikutnya aku gak dapat juara lagi, gak tau kenapa, padahal aku udah berusaha semaksimal mungkin. Gak seperti dulu, yang hanya mengandalkan doa, sekarang aku sama-sama seratus persen usaha dan doa, tapi mengapa gak juara. Kembali lagi ke: Nasib.
Jadi timbul pikiran negatif dalam otak ini. Mungkin saja karena kemarin aku lupa mengucapkan terimakasih kepada Bu Guru bahwasanya aku dapat juara, yaah, saat itu, setidaknya harus memberi kado sebagai ucapan terimakasih kepada guru jika masih ingin jadi juara di cawu berikutnya lagi.
Ya sudah, gak apa, setidaknya aku sudah berusaha...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar