Masih di kelas yang sama di Cawu yang beda. Hari itu pelajaran Matematika. Bu Guru lagi menerangkan tentang konversi satuan baku.
Bu Guru gak kelihatan seperti biasa, kali ini suaranya begitu lantang seperti orang sedang emosi, matanya merah, giginya bergaris-garis, kukunya seperti meruncing dan timbul tanduk di kepalanya. Gak segitunya kali, mungkin lagi datang tamu. Ditengah-tengah pelajaran, Bu Guru mengajukan pertanyaan kepada kami semua:
“Satu kwintal itu sama dengan berapa kilogram? Kamu!” dibaca satu tarikan napas: Suara Bu Guru penuh emosi saat menunjuk salah seorang temanku yang duduk di pojok belakang yang tadi sedang berbincang dengan teman di sebelahnya saat Bu Guru menerangkan pelajaran konversi satuan baku.
Dia—temanku itu—tidak ngerti jawaban dari pertanyaan Bu Guru. Kemudian Bu Guru menunjuk teman yang duduk di sebelahnya lagi:
“Kalau begitu, kamu yang di sebelahnya”
Sama saja, tetap ga bisa. Akhirnya Bu Guru memberi pertanyaan yang sama pada semua siswa, semua bertanggungjawab menyelesaikannya.
Tetap gak ada yang bisa menjawab, meski seorang yang memperhatikan gurupun daritadi tetap tak bisa menjawabnya karena Bu Guru memang belum menjelaskan sampai ke sana. Kami yang bodoh atau Bu Guru yang tidak bisa mengajarkan?
“Kenapa? Gak ada yang bisa jawab? Makanya, kalo guru lagi menerangkan pelajaran, tolong diperhatikan!” Bu Guru menyalahkan kami semua.
“Sekarang silakan kalian cari jawabannya! Ibu tunggu sebelum jam istirahat!”
Ini gak adil, karena gula setitik rusak susu sebelahnya. Karena perbuatan temanku itu, kami semua kena getahnya.
Semua siswa dipersilakan keluar, seperti lagu Rice Band: mencari sebuah jawaban. Tanpa pikir panjang, kami menuju ruang kelas 6. Tentu mereka lebih tau, mereka lebih senior daripada kami.
Karena masih jam pelajaran, tak ada satupun kakak kelas yang bisa ditemui untuk ditanyain, kami menemukan kebuntuan, gak mungkin nanya sama Ibu kantin, kembalian uang jajan saja sering salah-salah. Ada juga temanku yang nekad nanya padanya, diperoleh jawaban yang macam-macam: bisa 100 ribu, 50 ribu, bahkan 1 juta, tergantung apa nama barang yang berat satu kwintal. Dia cuma tau kalo satu kwintal itu jika dikonversikan ke harga. Huuu…
Sebelum jam istirahat, kamipun kembali ke kelas. Kami sudah putus asa tidak memperoleh jawaban apapun, yang terjadi terjadilah, pasrah semua. Segera semua duduk kembali di bangkunya masing-masing dengan kepala tertunduk.
“Gimana? Sudah ketemu jawabannya?” Suara Bu Guru kayak pake Toa.
“Belum Bu…” Seisi kelas serempak menjawab tanpa aba-aba
Bu Guru semakin emosi, bak gunung api yang segera meletus. Mata, gigi, kuku dan tanduk Bu Guru kelihatan semakin jelas dibayangan. Firasatku akan terjadi sesuatu yang hebat sebentar lagi.
Disuruhnya kami semua maju bergantian ke depan kelas. Dibariskanya seperti orang yang antri bbm. Dipukulnya masing-masing kami dengan sebilah kayu tebal mirip penggaris papantulis. Tak ada yang luput satupun. Untung aku dapat posisi sedikit terakhir, sehingga Bu Guru sudah kehabisan tenaga saat memukuli aku. Sedapnya bukan main, sampai merah-merah lengan ini.
Ceng, ceng, ceng… Loncengpun berbunyi. Jam istirahat. Seperti biasa, aku dan teman-teman lainnya menuju kantin. Semua siswa kelas 3 kelihatan berjalan sambil memegang lengannya, termasuk aku. Tapi kok hanya terlihat siswa laki-laki kelas 3 saja yang di kantin, yang wanitanya mana?
Kudapati mereka kantin, semua wanita kelas 3 berkumpul di sana, apa yang mereka lakukan? No women no cry is true.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar