03 September 2009

Putus-putus

Setelah dengan teman-teman yang lainnya, akhirnya aku kenal dengannya. Meli—anak Lampung, Sumatra, salahsatu dari enam wanita di kelasku.

Hai, namaku Meli, kamu Abel kan?” sambil mengulurkan tangannya hendak bersalaman

Iya, kok kamu tau?” Tanyaku keheranan

ya tau aja”

Ternyata dia begitu perhatian padaku, dia tau aku ngekos dimana, dia tau aku orang Sumatra juga, tapi dia gak sampai tau kalo aku takut sama kecoa

Kesan pertama aku melihatnya: aku tidak tertarik sama sekali padanya. Aku biasa aja, tidak menaruh perhatian apapun padanya, sama kepada lima wanita yang lainya, dia hanya teman biasa bagiku. Lagipula, aku sudah punya pacar, udah tahun keempat aku pacaran dengannya, pacar LDRku. Aku gak mau menyakitinya, orang yang cinta padaku itu.

Mulanya kami bisa bertahan selama ini karena saling percaya, ya, aku percaya padanya dan dia juga percaya pacaku, tapi lama kelamaan kepercayaan itu memudar seiring berjalannya waktu. Aku mulai tergoda untuk selingkuh, kayaknya gak salah kalo aku pacaran lagi, lagipula aku juga gak tau pacarku di sana gimana, setia atau gak, karena kami sudah jarang komunikasi. Memang susah kalo LDR tanpa saling percaya.

Meli yang mulai duluan. Sinyalnya kurasakan sekali begitu dia ada di sekitarku. Bukan ge er, aku mengatakan ini bukan tanpa sebab, aku sudah mencium indikasinya. Dia suka padaku, padahal dia juga sudah punya pacar, LDR juga, sama sepertiku. Akhirnya, aku dan Meli jadian. Tapi gak apa, ini cuma untuk sesaat, bukan hubungan serius. Kami tidak pernah punya komitmen apa-apa.

Gak lama pacaran dengan Meli, kami putus. Aku yang minta putus, gak tau alasannya apa. Yang pasti saat itu aku udah gak tertarik lagi sama dia, dia gak bisa berubah. Dia masih seperti pertama aku kenal. Cuek, gak mau tau, gak disiplin, gak teratur, asal-asalan dan banyak yang buat aku gak suka. Kalo gini, kenapa kemarin harus jadian? Kuanggap aja ini sebagian dari perjalanan hidupku. Dan akan kukenang selalu sebagai pelajaran hidup. Pesan: jangan mencintai seseorang kalau gak yakin dengan cintamu.

Ternyata karma bagiku, gak lama setelah putus dengan Meli, Rasti—pacar LDR ku, kuketahui selingkuh dengan seorang polisi anak bawang alias pangkat rendahan, begitu aku menyebut polisi itu karena saking bencinya. Ini suatu fenomena di kotaku Ujungbatu, para wanita berlomba-lomba mencari lelaki polisi. Mereka bangga kalo punya pacar polisi, karena dimata mereka, kalo sudah punya suami seorang polisi maka akan kehidupan akan terjamin. Memang benar sih, kan polisi banyak uangnya. Tapi, apakah cinta hanya sekedar materi? Kebencianku pada polisi menjadi dilema: Pak Wo ku polisi, Om ku polisi, bahkan teman baikku juga polisi, tapi entahlah.

Perbuatan Rasti membuatku menjadi antipati sama semua wanita, aku beranggapan kalo cinta itu sebenarnya gak ada, gak ada bagi orang yang tidak mampu. Keyakinan itu bertahan sampai aku ketemu dengan DIA.



1 komentar:

-Wardha- mengatakan...

Gak sabar nunggu postingan berikutnya...
penasaraaaannn...!!!!