12 Agustus 2009

Kantong plastik

Hari-hari berikutnya, sekolahanku berjalan seperti biasa, belajar menulis, membaca dan berhitung. Aku juga tidak terlalu bodoh, semua pelajaran dapat dengan mudah kupahami meskipun sedikit lambat.

Hari itu: Senin—hari yang lain—aku sudah kelas 3 SD. Karena sudah terbiasa bangun pagi sebagai anak sekolahan, gak ada lagi telat-telat mandi, gak ada lagi bom-bom terjepit, sarapanpun berjalan mulus. Hanya saja, sebelum berangkat sekolah:

“Sepatu Abel masih basah nih, Ma?”kataku dengan wajah kesal.

“Salah sendiri, kemarin disuruh cuci sepatu pagi-pagi, kamu malah cuci sore hari, ya belum kering nah” jawab mama sambil menyalahkanku.

Kebiasaan tiap hari minggu memang begitu, sepatu aku dan Uni, kami yang cuci sendiri di sungai. Kemarin minggu pagi-pagi sekali, aku sudah terbang main bola di tanah lapang dekat bekas teminal lama di samping mesjid. Trus kelupaan deh sama kewajiban cuci sepatu. Uni lagi, gak pengertian, kok gak sekalian dicuciin sepatu adikmu ini. Kok aku jadi nyalahin Uni.

“Malas ah ke sekolah dengan sepatu basah gini” sambil menggerutu kugeser dengan kaki sepatu itu dari hadapanku.

“Gak ada alasan malas ke sekolah, hanya lembab dikit kok, nanti dilapisi kantongplastik aja biar kakinya gak kedinginan” Mama menyarankan.

Kantongplastik dengan bahasa latinnya kresek.

Dengan berathati, aku ambil kantongplastik di kedai Nenek, segera kupasangkan dikakiku setelah memasang kaoskaki. Warna plastiknya hijau dan hitam. Aku malu kalo sampai ketahuan sama teman-temanku, kutusukkan dengan jaritanganku bagian-bagian kantongplastik yang muncul dipergelangan kaki.

“Dah ya Ma, berangkat dulu” aku berlari mengejar Uni yang sudah duluan sedari tadi.

Diperjalanan. Aku bersama Uni dan Adi melintasi jalan setapak yang dikiri-kanannya berupa semak rendah yang masih basah oleh embun. Tiba-tiba seekor anjingkampung berlari dari arah yang berlawanan menuju kami. Kebetulan waktu itu sedang musimnya anjing gila berkeliaran. Spontan saja, Adi menerobos semak yang basah tadi mencari perlindungan tanpa kompromi, sementara Uni hanya bisa duduk sambil meraih sebuah batu yang gak jelas ditangan kanannya, sedangkan aku cuma bisa terdiam menyaksikan peristiwa itu, semua terjadi begitu cepat.

Aku gak bisa berbuat apa-apa, maafkan aku Adi, maafkan aku Uni. Halah lebay. Gak ada apa-apa kok, anjing itu hanya numpang lewat. Satu pelajaran yang kuperoleh dari peristiwa ini adalah “kekuatiran yang berlebihan, akan menyebabkan sepatu basah atau tangan kotor”. Itu.

Kembali pada sepatuku yang basah tadi. Sepulangnya dari sekolah, aku lega. Ternyata ide Mama mantap juga, kakiku gak kedinginan sama sekali, hanya pucat sedikit, setidaknya kantongplastik menyelamatkan aku dari kutuair. Gak ada yang gak mungkin jika mau usaha.

Tidak ada komentar: