03 September 2009

The special one

Di Pekanbaru…

Aku mendaftar di sebuah sekolah kejuruan teknik di sini, aku gak tau pasti alasanku masuk ke sekolah ini, entah hanya sekedar ikut-ikutan (tapi ikut siapa?, toh gak ada temanku di sini). Aku mengambil jurusan teknik bangunan, Omku pernah bersekolah di sini juga, sekarang dia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor bangunan. Pernah terpikir untuk masuk jurusan teknik mesin, tapi Papa tak mengijinkan, dengan alasan yang dangkal dan waktu itu aku rasa cukup meyakinkan.

Pertama kali mendaftar di sekolah ini, aku gak yakin bakal diterima. Peminat sekolah ini banyak sekali. Semua diseleksi dengan nilai ujian akhir nasional. Nilai ujianku saat itu tak tinggi-tinggi juga. Aku hanya bisa berdoa.

Eh gak taunya, waktu pengumuman penerimaan, aku mendapati namaku di urutan ke dua dari atas yang berarti nilaiku tertinggi ke dua disekian ratus pendaftar yang diterima. Clap, clap. Hal itu membuat aku lebih pede, aku pasti bisa menjadi terbaik diberikutnya.

Di sekolah, aku selalu berusaha menonjol dari yang lain. Menjadi ketuakelas merupakan langkah awalku. Tidak gampang menjadi ketuakelas. Tidak jarang aku mendapat tekanan dari teman-teman yang jahat dan suka bolos sekolah. Mereka selalu minta daftarhadirnya diisi olehku, sedangkan mereka pergi terbang entah ke mana. Aku seorang diri menghadapi semua itu, awal-awal sekolah belum punya teman dekat yang bisa diajak berbagi. Meskipun di bawah tekanan itu, aku sekalipun tidak pernah menuruti kata-kata mereka, kalo aku turuti, sama saja aku menghianati profesiku sebagai pemimpin. Aku tetap teguh pada pendirianku, aku hanya ingat sebuah kata-kata dari khatib saat mendengar khutbah jum’at bahwa “seorang pemimpin akan mempertanggung-jawabkan kepemimpinannya kelak di hari akhir”. Aku harus bisa bertahan.

Berkat keteguhan hatiku selama menjadi ketuakelas, dan menjadi orang yang teraniaya melulu. Tuhan memberikan jalan buatku, satu persatu orang-orang jahat di kelasku berguguran, tak melanjutkan sekolah lagi. Tuhan menolongku, Dia mendengar doaku, orang teraniaya.

Di sekolah, di kelasku ini kebanyakan atau hampir semuanya cowok atau 99,90 persen cowok. Hanya Duwi—cewek satu-satunya di kelasku. Memang gak seperti sekarang, jurusan bangunan ini masih dianggap jurusannya pekerja kasar yang hanya cocok dimasuki anak laki-laki, itu jelas-jelas pandangan yang salah, itu hanya pikiran orang kampung yang gak ngerti apa-apa. Kalo mau jadi pekerja kasar atau kuli bangunan buat apa sekolah.

Duwi anaknya baik, pinter pula. Selama dua semester dia selalu juara satu kelas dan aku selalu setingkat di bawahnya. Sebenarnya aku bisa saja yang nomor satu, tapi gak lah, kasian Duwi. Hahaha (becanda)…

Semester satu dan dua aku lalui dengan gemilang… tapi masih kalah dari dia—the special one: Duwi.

Tidak ada komentar: