12 Agustus 2009

No women no cry

Masih di kelas yang sama di Cawu yang beda. Hari itu pelajaran Matematika. Bu Guru lagi menerangkan tentang konversi satuan baku.

Bu Guru gak kelihatan seperti biasa, kali ini suaranya begitu lantang seperti orang sedang emosi, matanya merah, giginya bergaris-garis, kukunya seperti meruncing dan timbul tanduk di kepalanya. Gak segitunya kali, mungkin lagi datang tamu. Ditengah-tengah pelajaran, Bu Guru mengajukan pertanyaan kepada kami semua:

“Satu kwintal itu sama dengan berapa kilogram? Kamu!” dibaca satu tarikan napas: Suara Bu Guru penuh emosi saat menunjuk salah seorang temanku yang duduk di pojok belakang yang tadi sedang berbincang dengan teman di sebelahnya saat Bu Guru menerangkan pelajaran konversi satuan baku.

Dia—temanku itu—tidak ngerti jawaban dari pertanyaan Bu Guru. Kemudian Bu Guru menunjuk teman yang duduk di sebelahnya lagi:

“Kalau begitu, kamu yang di sebelahnya”

Sama saja, tetap ga bisa. Akhirnya Bu Guru memberi pertanyaan yang sama pada semua siswa, semua bertanggungjawab menyelesaikannya.

Tetap gak ada yang bisa menjawab, meski seorang yang memperhatikan gurupun daritadi tetap tak bisa menjawabnya karena Bu Guru memang belum menjelaskan sampai ke sana. Kami yang bodoh atau Bu Guru yang tidak bisa mengajarkan?

“Kenapa? Gak ada yang bisa jawab? Makanya, kalo guru lagi menerangkan pelajaran, tolong diperhatikan!” Bu Guru menyalahkan kami semua.

“Sekarang silakan kalian cari jawabannya! Ibu tunggu sebelum jam istirahat!”

Ini gak adil, karena gula setitik rusak susu sebelahnya. Karena perbuatan temanku itu, kami semua kena getahnya.

Semua siswa dipersilakan keluar, seperti lagu Rice Band: mencari sebuah jawaban. Tanpa pikir panjang, kami menuju ruang kelas 6. Tentu mereka lebih tau, mereka lebih senior daripada kami.

Karena masih jam pelajaran, tak ada satupun kakak kelas yang bisa ditemui untuk ditanyain, kami menemukan kebuntuan, gak mungkin nanya sama Ibu kantin, kembalian uang jajan saja sering salah-salah. Ada juga temanku yang nekad nanya padanya, diperoleh jawaban yang macam-macam: bisa 100 ribu, 50 ribu, bahkan 1 juta, tergantung apa nama barang yang berat satu kwintal. Dia cuma tau kalo satu kwintal itu jika dikonversikan ke harga. Huuu…

Sebelum jam istirahat, kamipun kembali ke kelas. Kami sudah putus asa tidak memperoleh jawaban apapun, yang terjadi terjadilah, pasrah semua. Segera semua duduk kembali di bangkunya masing-masing dengan kepala tertunduk.


“Gimana? Sudah ketemu jawabannya?” Suara Bu Guru kayak pake Toa.

“Belum Bu…” Seisi kelas serempak menjawab tanpa aba-aba

Bu Guru semakin emosi, bak gunung api yang segera meletus. Mata, gigi, kuku dan tanduk Bu Guru kelihatan semakin jelas dibayangan. Firasatku akan terjadi sesuatu yang hebat sebentar lagi.

Disuruhnya kami semua maju bergantian ke depan kelas. Dibariskanya seperti orang yang antri bbm. Dipukulnya masing-masing kami dengan sebilah kayu tebal mirip penggaris papantulis. Tak ada yang luput satupun. Untung aku dapat posisi sedikit terakhir, sehingga Bu Guru sudah kehabisan tenaga saat memukuli aku. Sedapnya bukan main, sampai merah-merah lengan ini.

Ceng, ceng, ceng… Loncengpun berbunyi. Jam istirahat. Seperti biasa, aku dan teman-teman lainnya menuju kantin. Semua siswa kelas 3 kelihatan berjalan sambil memegang lengannya, termasuk aku. Tapi kok hanya terlihat siswa laki-laki kelas 3 saja yang di kantin, yang wanitanya mana?

Kudapati mereka kantin, semua wanita kelas 3 berkumpul di sana, apa yang mereka lakukan? No women no cry is true.

Dugaan kkn

Kelas 3. ujian cawu I telah selesai, saat yang mendebarkan, menanti hasil pembagian rapor dan pengumunan juara kelas. Semua siswa dari kelas 1 sampai kelas 6 dibarsikan di lapangan depan kelas, suasana dan keadaannya beda dengan upacara bendera. Sekarang semua berbaris menghadap ruang kelas, sebuah mimbar putih berdiri di depan kami, tempat Pak Kepala sekolah menyampaikan pidatonya. Bukan pidatonya yang menarik, but…

Selama ini, aku hanya masuk jajaran sepuluh besar dikelasku. Aku pikir aku gak terlalu bodoh, hanya saja aku kurang beruntung. Aku gak pernah bermimpi untuk masuk tiga besar, apalagi untuk menjadi juara umum. Hmmm, kayaknya gak mungkin. But, nothing is impossible.

Suasana yang tadi gaduh tiba-tiba berubah jadi tenang seketika setelah Pak Kepala sekolah selesai menyampaikan pidatonya. Saat yang mendebarkan dan dinantikan: pengumuman juara.

Aku sih biasa aja, tetap berdiri di posisi barisan yang sama seperti upacara bendera, santai menyaksikan pengumuman juara kelas. Dan juara untuk kelas 3 pun dibacakan. Kucermati dengan hati-hati suara Pak Kepala sekolah saat membacakan pengumuman. Aku berharap dia memanggil namaku. Hanya sekedar harapan tanpa usaha. Ujiannya juga aku kerjakan apa adanya. Tapi apa yang terjadi, Tuhan berkehendak lain, dan:

Juara 3, dengan nilai rata-rata 7,9. Afret Nobel” Suara Pak Kepala sekolah terdengar gak seperti biasa, kenapa begitu? Karena dia memanggil namaku?...

Aku terkaget terkatung-katung, untung bagiku tidak mengidap penyakit jantung. Aku juara kelas, oh yes. Aku maju ke depan barisan dengan canggung, untuk pertamakalinya aku juara kelas. Ternyata Mama tidak sia-sia mengajarkan aku cara sholat dan berdo’a. karena memang usaha itu harus dibarengi dengan doa. Mungkin aku usaha 10 persen dan doa 80 persen, untung doaku manjur. 10 persennya lagi: Nasib.

Setelah semua selesai, aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Tapi kalau mimpipun aku merasa tak rugi. Setidaknya pernah jadi juara, meski di dunia tak nyata. Tapi syukurlah bukan. Aku pulang ke rumah dengan hati yang berbangga.

Cawu berikutnya aku gak dapat juara lagi, gak tau kenapa, padahal aku udah berusaha semaksimal mungkin. Gak seperti dulu, yang hanya mengandalkan doa, sekarang aku sama-sama seratus persen usaha dan doa, tapi mengapa gak juara. Kembali lagi ke: Nasib.

Jadi timbul pikiran negatif dalam otak ini. Mungkin saja karena kemarin aku lupa mengucapkan terimakasih kepada Bu Guru bahwasanya aku dapat juara, yaah, saat itu, setidaknya harus memberi kado sebagai ucapan terimakasih kepada guru jika masih ingin jadi juara di cawu berikutnya lagi.

Ya sudah, gak apa, setidaknya aku sudah berusaha...

Kantong plastik

Hari-hari berikutnya, sekolahanku berjalan seperti biasa, belajar menulis, membaca dan berhitung. Aku juga tidak terlalu bodoh, semua pelajaran dapat dengan mudah kupahami meskipun sedikit lambat.

Hari itu: Senin—hari yang lain—aku sudah kelas 3 SD. Karena sudah terbiasa bangun pagi sebagai anak sekolahan, gak ada lagi telat-telat mandi, gak ada lagi bom-bom terjepit, sarapanpun berjalan mulus. Hanya saja, sebelum berangkat sekolah:

“Sepatu Abel masih basah nih, Ma?”kataku dengan wajah kesal.

“Salah sendiri, kemarin disuruh cuci sepatu pagi-pagi, kamu malah cuci sore hari, ya belum kering nah” jawab mama sambil menyalahkanku.

Kebiasaan tiap hari minggu memang begitu, sepatu aku dan Uni, kami yang cuci sendiri di sungai. Kemarin minggu pagi-pagi sekali, aku sudah terbang main bola di tanah lapang dekat bekas teminal lama di samping mesjid. Trus kelupaan deh sama kewajiban cuci sepatu. Uni lagi, gak pengertian, kok gak sekalian dicuciin sepatu adikmu ini. Kok aku jadi nyalahin Uni.

“Malas ah ke sekolah dengan sepatu basah gini” sambil menggerutu kugeser dengan kaki sepatu itu dari hadapanku.

“Gak ada alasan malas ke sekolah, hanya lembab dikit kok, nanti dilapisi kantongplastik aja biar kakinya gak kedinginan” Mama menyarankan.

Kantongplastik dengan bahasa latinnya kresek.

Dengan berathati, aku ambil kantongplastik di kedai Nenek, segera kupasangkan dikakiku setelah memasang kaoskaki. Warna plastiknya hijau dan hitam. Aku malu kalo sampai ketahuan sama teman-temanku, kutusukkan dengan jaritanganku bagian-bagian kantongplastik yang muncul dipergelangan kaki.

“Dah ya Ma, berangkat dulu” aku berlari mengejar Uni yang sudah duluan sedari tadi.

Diperjalanan. Aku bersama Uni dan Adi melintasi jalan setapak yang dikiri-kanannya berupa semak rendah yang masih basah oleh embun. Tiba-tiba seekor anjingkampung berlari dari arah yang berlawanan menuju kami. Kebetulan waktu itu sedang musimnya anjing gila berkeliaran. Spontan saja, Adi menerobos semak yang basah tadi mencari perlindungan tanpa kompromi, sementara Uni hanya bisa duduk sambil meraih sebuah batu yang gak jelas ditangan kanannya, sedangkan aku cuma bisa terdiam menyaksikan peristiwa itu, semua terjadi begitu cepat.

Aku gak bisa berbuat apa-apa, maafkan aku Adi, maafkan aku Uni. Halah lebay. Gak ada apa-apa kok, anjing itu hanya numpang lewat. Satu pelajaran yang kuperoleh dari peristiwa ini adalah “kekuatiran yang berlebihan, akan menyebabkan sepatu basah atau tangan kotor”. Itu.

Kembali pada sepatuku yang basah tadi. Sepulangnya dari sekolah, aku lega. Ternyata ide Mama mantap juga, kakiku gak kedinginan sama sekali, hanya pucat sedikit, setidaknya kantongplastik menyelamatkan aku dari kutuair. Gak ada yang gak mungkin jika mau usaha.

Masa depan

Tinut, tinut ,tinut, jam weker di kamarku berbunyi tepat jam 6 pagi, mata masih berat bangun, gak biasanya bangun jam segini. Hari ini: hari pertama aku masuk sekolah, Mama sekolahin aku di sekolahnya Uni—SDN 003 Ujungbatu. Uni sekarang sudah kelas 2.

“Bangun Bel, gimana sih nih anak SD?” kata Mama sambil menarik selimutku.

“Haaa, apaaa?” jawabku agak malas-malas

“Mandi sana, mau berangkat bareng sama Uni gak? Atau dah tau jalan sendiri?”

“Iya-iya. Uni mana ma?”

“Dah pergi mandi tuh, cepetan, ntar ditinggal, baru tau rasa”

“Oke” segera aku bergegas, ambil handuk dan perlengkapan mandi lainnya menuju sungai. Di rumah gak ada kamar mandi apalagi wc, emang begitu di sini, semua kegiatan masyarakat yang berhubungan dengan MCK mengandalkan sungai itu.

Ditepian sungai, setelah melucuti semua pakaian dan menyisakan celanadalam, bukannya langsung mandi, aku malah duduk termenung sambil memegangi sikat gigi yang sudah diodoli: karena saking kedinginannya, baru kali ini mandi sepagi ini.

“Hei, mandilah!” perintah Adi sambil mencipratkan air ketubuhku yang duduk ditepian.

Adi: teman sekelas Uni, dia juga teman mainku kalo di rumah, kita bertetangga. Bapaknya penambang pasir di sungai ini.

“Sialan” ketusku.

Seperti orang baru tersadarkan dari mimpi indah, tapi gak apa, kalo bukan karena Adi, mungkin aku akan tetap membatu sampai siang dan telat masuk sekolah—hari pertamaku sekolah SD. Segera bergegasku menuntaskan mandi, teringat akan kata-kata Mama tadi, aku gak mau ditinggal Uni.

Seragam baru, sepatu baru, tas baru, buku-buku baru, semua serba baru, hanya aku yang kelamaan:

“Lama banget sih Abel ma? Dah mau berangkat nih” Uni gusar, takut telat masuk sekolah.

“Sabaaar!, adikmu itu belum ngerti” Mama menenangkan.

“Cepetan Bel, ntar kita telat ni!” Uni semakin panik saat menyelesaikan sarapannya.

Aku masih di dalam kamar, aku dalam masalah besar, ini menyangkut masa depanku. Ini bukan masalah sepele. Aku gak mau awal pertamaku sekolah menjadi akhir dari segalanya. Akhirnya Mama menyusulku ke kamar, Mama kuatir kalo aku tidur lagi sehabis pulang dari mandi tadi, dan:

“Abel, what’s up? Somethings happen? Tell me, all u trouble!” tau beliau bilang apa? pasti tau, kamu kan pintar.

Mama hanya ketawa geli menyaksikanku dalam kesulitan, bertarung dengan masa depanku yang di ujung tanduk.

“Bom-bom terjepit Ma” jawabku sambil menahan sakit.

Bom-bom: sebuah daging kecil yang menonjol yang letaknya sejengkal di bawah puserku. Baru kali ini aku pake celana yang ada resletingnya, karena buru-buru makanya terjepit deh.

“Owh ini masalahnya, sini Mama bantuin”

Tangan Mama memang ajaib, dengan bantuan Mama dan gak butuh waktu lama, masa depanku akhirnya selamat. Ffiiyuhh…

“Berangkat dulu ma, doakan anakmu, assalamualaikum” sambil menciumi tangan Mama, tak lupa mengambil sepotong pisang goreng di meja, kan belum sempat sarapan.

“Pamitan dulu sama Nenek sana!”

“Sip”

Aku dan Uni ke sekolah dengan manaiki kaki sendiri, ya, seperti anak-anak lain pada umumnya. Belum banyak kendaraan seperti sekarang. Jarak dari rumah ke sekolah lumayan jauh untuk anak seukuran itu. Tapi toh bukan aku dan Uni aja yang jalankaki, kalo rame-rame begini, gak terasa jauh.

Ada 2 jalur alternatif menuju sekolah: pertama, yang paling deket: lewat depan pabrik kerupuk, trus ada tanjakan tinggi yang kalo musim hujan bikin terpeleset, kalo lagi gak beruntung bisa diuber-uber anjing. Alternatif Ke-dua, lumayan jauh: jalan datar, cuma nanjak dikit, yang paling aman, tapi agak muter. Gak apalah, baru hari pertama sekolah, jangan cari penyakit dulu. Karena gak mau ambil resiko, kami pilih yang ke-dua. Pisss.

Duapuluh meteran mendekati gerbang sekolah, loncengpun bergemonceng, ceng ceng, ceng ceng, begitu bunyinya. Segera kami tambah kecepatan perjalanan.

Hari ini Senin, upacara bendera. Setelah menumpuk tas di dalam ruangan yang di pintu depannya ada tulisan angka 1, ya taulah, percuma aku TK kalo gak tau angka 1 itu gimana wujudnya. Anak kecil aja tau. Aku dan yang lainnya berlari menuju lapangan upacara yang terletak di depan kelas. Masing-masing kelas menyiapkan barisannya, khusus anak kelas 1, diatur oleh Bu guru. Bu guru baik ya?

“Baris menurut ketinggian, bikin dua berbanjar!” perintah Bu guru sambil mengarahkan dengan gerakan tangannya. Aku dapet posisi ke 3, itu karena tubuhku gak pendek-pendek amat, tentu lain halnya kalo dibariskan menurut ketampanan, pasti aku yang paling depan.

“Para perserta upacara diperkenankan meninggalkan lapangan upacara, upacara selesai, laporan selesai” teriak sang pemimin upacara di tengah lapangan.

Finally, acara baris-berbaris ini selesai juga. Pegel nih kaki, gak pernah berdiri selama ini. Apa-apaan ini, kalo bisa dihapuskan saja acara seperti ini, buang-buang waktu. Bagi anak ini yang belum tau makna upacara bendera.

Semua siswa masuk ke kelas masing-masing. Ruang kelas 1 terletak paling pojok sebelah kanan menghadap jalanraya, meskipun demikian, ventilasi yang menghadap jalanraya itu dirancang tinggi, sehingga tidak mengganggu konsentrasi siswa ketika ada kendaraan lewat.

Aku duduk di bangku nomor dua dari depan, aku duduk berdampingan dengan Safar, aku tau namanya dari daftarhadir yang dibaca Bu guru sebentar tadi, belum ngerti cara memperkenalkan diri masing-masing. Bu guru juga tidak mempersilakan kami memperkenalkan diri masing-masing, beliau hanya memperkanalkan namanya dan mendata kami satu persatu.

Hari pertama sekolah, belum ada pelajaran yang diberikan guru. Mungkin sengaja, biar gak bikin otak-otak kecil ini jadi kaget. Hanya ada kegiatan pemilihan ketuakelas, pembagian tugas piket harian, dan Bu guru juga membagikan selembar kertas berisi daftar matapelajaran dari Senin sampai Sabtu. Udah, gitu doank. Kami dipersilakan pulang.

Antara

Setahun berjalan sangat cepat… gak kerasa sekarang sudah giliran aku yang sekolah TK. Aku sekolah di TK Barunawati, tempat yang tak asing bagiku, sekolah Uni yang dulu. Hari-hari pertama sekolah. Tugas Mama bertambah, setelah mengantarku ke sekolah, beliau juga mengantar Uni.

Entah karena demam panggung atau kebodohanku (belakangan aku tahu aku bukan anak yang bodoh), aku tak pernah menyelesaikan sekolah sampai jam pulang. Aku minggat dari sekolah ditengah-tengah anak-anak lain asik bermain pada jam istirahat, bu guru tidak tahu. Biasanya aku lebih dulu tiba di rumah sebelum Mama datang dari pasar. Mama Cuma bisa berdecak kagum melihat tingkahku.

Aku Cuma bertahan satu minggu sekolah di sana. Bukan karena di drop out atau sebagainya. keluargaku pindah ke Ujungbatu.

o

Ujungbatu, sebuah kotakecil di provinsi yang sama, Nenekku—Ibunya mama, tinggal di sana. Kakek (aku memanggilnya Datuk) sedang sakit. Mama sebagai anak tertua dikeluarga diminta pulang untuk mendampingi Nenek. Gak lama setelah kami sekeluarga pindah ke Ujungbatu, Datuk wafat.

Aku gak begitu ingat saat-saat bersama Datuk, karena lama merantau dengan orangtua. Ketemu datuk saat aku masih terlalu kecil. Datuk pernah mengajakku main kapal-kapalan dari kotak sabun dengan sungainya sebuah baskom besar yang diisi air. Mungkin Datuk mengajarkan aku menjadi sepertinya. Datuk adalah seorang sopir Boat. Rumah nenek di pinggir sungai, saat itu penduduk di bagian hulu masih mengandalkan transportasi air untuk berdagang atau membeli keperluan sebulan-bulan di Ujungbatu.

Satu lagi yang kuingat dari cerita Mama, detik-detik menjelang Datuk di timbun di pemakaman, “Ma, kok Datuk ditaruh di tanah, ntar bajunya kotor?” kata-kata terakhir untuk Datuk terdengar sangat menyedihkan buat Mama.

Setelah kepergian Datuk, kami menetap di Ujungbatu. Keluargaku tinggal di rumah kontrakan, bersebelahan dengan rumah nenek. Rumah papan gaya arsitektur kuno dengan loteng yang tinggi, sengaja dibuat untuk menyelamatkan barang-barang kalo sedang musim banjir. Rumah Mama ada dapurnya, tapi gak pernah digunakan untuk memasak, Nenek saat itu masih punya kedai nasi.

Aku masuk sekolah TK lagi, melanjutkan sekolahku yang sempat terputus sebentar. Kali ini, aku gak seperti dulu, gak pernah melarikan diri saat jam istirahat, kebetulan jarak rumah dengan sekolah lumayan jauh. Pergi dan pulang sekolah, aku dan teman-teman diantar oleh pak Ogut, sopir becak dayung.

Bu Mis nama guruku, diajarkannya kami banyak hal, mulai dari membiasakan mencuci tangan sebelum makan, baris berbaris, manggambar, menyanyi dan sebagainya. Di sekolah yang baru ini aku punya banyak teman. Ada Syam, Anang, Desi, Hesti, Dian dan lainnya. Terlalu banyak kisah yang aku lupa.

Pertemanan kami terpisahkan seiring dengan karnaval sekolah, acara perpisahan sekolah selalu dirayakan. Yaitu pawai keliling kota menggunakan pakaian adat macam-macam daerah. Aku mengenakkan pakaian adat Aceh: baju dan celana licin berwarna hitam kemilau, dengan rencong diselipkan di ikat pinggang tebalnya dan topi kerucut berenda. Teman-teman itu tak kutemui lagi setelah aku tamat di TK itu, TK Melati.

Romo my lovely cat



Aroma masakan Mama menembus masuk ke jantungku, mengalir ke setiap inci tubuhku, membuyarkan konsentrasi, nafsu makanku kambuh. Biasanya Romo udah curi start duluan, mengantah kepala ikan teri. Tapi tumben, dia belum kelihatan sedari pagi. Mungkin dia lagi pilek sehingga tidak mencium aroma masakan yang menggetarkan ini.

Romo adalah kucing keluarga kami. Warnanya belang amburadul, gak jelas. Karena saking sayang padanya, Romo udah kuanggap sebagai adik sendiri. Romo kucing yang jinak, tentu saja lebih jinak dari merpati. Kalo pas lagi laper-lapernya dipanggil, larinya kencang sekali. Delapanpuluh kilometer per jam. Bukan main.

Udara di luar begitu terik, membuat aku malas-malasan di rumah. Mama lagi memasak untuk makan siang di dapur, Uni belum pulang dari sekolah. Wanto tetanggaku juga sekolah. Pak Wo dan Ibuk depan rumah tengah berjualan di pasar. Aku kesepian gak ada teman. Papa gak dapat shift kerja hari ini. Beliau sedang memberi makan siang Ilot di samping rumah.

“Main sana! Papa lagi beri makan Ilot tuh di samping.” Mama menyarankan. Tapi aku tak tertarik sama Papa, apalagi Ilot.

“Males ah ma, bosan sama Ilot melulu” kujawab sambil menopang daguku dengan kedua tangan yang bersandar di sandaran sofa ruangtamu. Tiba-tiba aku teringat adikku itu:

“Romo mana ma? Biasanya siang gini udah ke rumah minta makan.”

“Gak tau tuh, mungkin lagi tidur di teras depan, coba panggil sana, suruh ke sini, kepala ikan teri banyak ni”

Romo gak mungkin lupa jadwal makan kepala ikan teri. Romo pasti kecapean trus ketiduran. Kebiasaan alami kucing. Kucing makhluk yang paling suka tidur. Waktunya lebih banyak dipakai untuk tidur daripada berbuat hal-hal yang bermanfaat. Biasanya Romo Tidur diteras depan rumah Pak Wo, atau di ayunan ban pohon jambu depan rumah. Sejak kejadian itu Romo memang jadi suka tidur. Seperti kehilangan semangat hidup. Aku menyesal telah melakukan itu padanya. Gak kusangka dia kucing yang ngambekan. Padahal aku cuma bercanda, suer. Biasanya aja lebih dari itu: smack downku sudah menjadi makanannya, kaki belakangnya kuselotip sehingga dia susah jalan juga sering—dia gak marah. Pasti ada sesuatu yang gak beres.

Ternyata benar firasatku, ada yang gak beres. Seminggu yang lalu kami sekeluarga—minus Romo, asik bercengkarama nonton tipi. Dan tiba-tiba Uni nanya sama Mama. Pertanyaan yang sensitip. Pertanyaan yang seharusnya gak ditanyakan oleh Uni. Dan Mama mulai bercerita:

Romo itu sebenarnya anak pungut. Mama menemukannya di selokan depan rumah Pak Wo waktu Mama pulang dari pasar—dia masih sangat kecil. Karena kasian makanya Mama pelihara.Dia itu anak yang tak diharapkan orangtuanya karena diantara saudara-saudaranya, warna bulunya gak ada hubungannya dengan ortunya. Bapaknya cokelat dan Ibunya kuning. Romo kalian tau sendiri seperti apa warnanya—amburadul gak jelas. Uni pun: “Oooowww….” Panjang O nya. Melongo kayak orang bego.

Ternyata, pembicaraan kami itu didengar oleh Romo. Kami gak sadar dia sudah terpaku di samping sofa dari tadi. Dia sudah menyimak dan tau semuanya. Kami segera mengalihkan pembicaraan dan seolah-olah menganggap Romo baru datang, Uni pun nanyain Romo gimana kabarnya—mesra sekali pertanyaan Uni, gak seperti biasa.

Selepas hari itu, kulihat Romo sangat murung. Aku gak tega melihatnya. Berkali-kali dia mencakar sandaran sofa dan aku biarkan saja. Aku juga tak berkutik melarangnya. Aku lagi membalsemi kakiku yang terkilir karena jatuh dari ayunan ban pohon jambu depan rumah. Aha, tiba-tiba ada bola lampu berpijar di atas kepalaku, pijarnya terang sekali. Ide bagus. Aku akan menggoda Romo. Aku akan membuatnya tertawa lagi seperti dulu. Aku akan membuatnya kembali pada masa kejayaan.

Diam-diam kudekati dia dari belakang. Dia masih asik mencakar sofa, matanya fokus sekali—tatapannya kosong. Saat dia terlengah, kusergap dia. Matanya kututup dengan kedua tanganku.

“Ayo tebak siapa aku?”

Pertanyaan yang bodoh, tentu saja dia mengenal suaraku. Dia melawan sejadi-jadinya, tak diam menebak seperti biasa. Dan spontan dia mencakar tanganku dan lari ke kamar mandi. Menabrak apapun di depannya—dia merem. Loh, kok Romo gitu ya? Akupun bertanya-tanya. Gak taunya, tanganku masih ada balsemnya. Mungkin matanya perih kena balsemku. Dia trauma sama balsem. Waktu aku kecil, atas saran seorang temanPantatnya pernah kuolesi balsem. Makanya sampai sekarang dia ngambek.

Tanpa pikir panjang kusegera kesana. Kulihat Romo sedang tertidur pulas di teras depan rumah tetangga, tak bergeliat sedikitpun, kuhampiri:

“Mo, Romo, hei Mooo” aku panggil sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya yang gumpalan bulu itu.

Romo tak bergerak sedikitpun, bicarapun tidak.

Sekali lagi kucoba bangunkan dia: “jangan becanda ah Mo, gak lucu kamu, bangun dong! Main yuk!”

Sedikitpun tiada merasa terusik olah kegangguanku, aku melihat semut merah lalu lalang ke dalam hidungnya yang dingin seperti salju itu, kuketahuilah kalo ia sudah tiada. “Romo…….”hiks, Innalillahi…

Segera kuberitahukan berita duka kepada Papa yang kebetulan saat itu tengah memberi makan Ilot di samping rumah:

“Pa, Romo pa” dengan nafas terengah-engah kudatangi.

“kenapa?” Papa masih kelihatan sibuk mengurus Ilot.

“Romo mati, Pa” mataku mulai berkaca-kaca.

“owhh, itu, ya sudah, nanti Papa kuburkan” dengan santainya. Papa tak punya perasaan sama Romo, emang, Papa kan gak begitu dekat dengan Romo, Papa jarang ketemu juga dengan Romo karena pekerjaannya. Papa cuma tau Ilot, yang setiap dia datang selalu disambut gonggongan Ilot, Ilot Papa yang beli.

Segera setelah selesai berkutat dengan Ilot, Papa menghampiri Romo dengan membawa kaos-dalamnya—warna putih yang sudah sedikit tak layak pakai, laksana kafan untuk kucing malang itu. Segera dikuburkan Romo. Sampai sekarang, teka-teki kematian Romo belum terpecahkan. Siapakah pembunuh terkutuk itu? Tak kuampuni kau.

Masih dalam suasana dukacita, tak seperti biasanya, setiap Papa pulang kerja, hal yang sering aku dan Uni lakukan ialah memeriksa koper atau kantong celana Papa, kadang selalu ada permen dikantongnya, atau juga bawa oleh-oleh buah apel di dalam kopernya. Tapi kali ini tidak, aku masih belum bisa terima atas kepergian Romo, Papa tahu akan sedihku, akan persahabatan yang telah lama kujalin dan hilang begitu setelah dia pergi.

“Bel, bangun, liat Papa bawa apa!” kata Mama sambil menggosok-gosok punggungku yang sedang tertidur.

Gak biasanya Mama bangunin aku sesubuh ini, ada apa gerangan? Tanpa pikir panjang aku bangun, dan kutemukan sebuah mainan mobil bus-busan gede yang terbuat dari kayu yang terletak di samping tempat tidurku, persis seperti bus asli yang disulap jadi kecil.

“Ini untukku Ma?” sambil memegang bus mainan itu kumasih setengah mengantuk.

“Iya, untuk siapa lagi, Papa yang beli dari Bukittinggi”

“Papa mana Ma?”

“Papa lagi mandi tu, habis ini katanya minta dipijitin sama Abel, Papa capek pulang kerja”

“sip” kataku mantap

Sekejap, pikiranku akan Romo, lenyap begitu saja, padahal kuburan kucing itu belum kering tanahnya, begitu cepat aku melupakannya. Maafkan aku Mo!... Aku sudah punya sahabat baru: bus-busan kayu. Tak ada lagi Romo, sekarang aku berteman dengan benda mati yang tak punya hati. Mending gini, kalo busnya mati aku gak akan sedih-sedih amat. Uni kupaksa bangun untuk menemani aku main bus-busan itu di ruangtamu. Padahal masih subuh. Gelap lagi.

Keluarga

Berawal dari sebuah keluarga yang sederhana dan Alhamdulillah berkecukupan. Papa seorang wiraswasta dan sudah beberapa kali ganti kail. Penghasilan Papa sebagai wiraswastawan lumayan untuk menghidupi kami sekeluarga. Papa dulu yang tidak pernah menginjak-injak nikmatnya bangku sekolahan. Ayahnya Papa: Kakekku—sudah tiada sejak papa masih kecil, begitu dari cerita yang kudengar. Ibunya yang seorangtua itu harus bekerja keras sendiri menghidupi Papa dan tiga orang saudaranya. Papa anak bungsu dikeluarga itu. Nenek: seorang petani yang menggarap sawah sendiri untuk menghidupi anak-anaknya. Pantesan Papa gak sekolah dulu, buat makan aja kayaknya susah. Kasihan anak sekecil itu. Papa tanpa pendidikan formal. Tapi Papa tetap cerdas, hidup yang mengajarkan dia seperti itu.

Papa merupakan teladan bagiku. Dia bisa menjadi besar dan Alhamdulillah sukses seperti sekarang berkat kerja kerasnya dan kasihan dari Tuhan. Ini gak bisa disebut nasib baik sepenuhnya, karena gak mungkin nasib berubah tanpa usaha. ”Allah tidak akan mengubah nasib seseorang kalo orang tsb sendiri tidak berusaha merubahnya”. Sekarang mempunyai rumah sendiri, mobil, kedai harian, dan beberapa kapling kebun sawit dan karet sebelumnya tidak terbayangkan oleh Papa. Papa memulainya semua dari nol: sebuah angka yang tanpa sudut. Aku salut sama Papa—seorang yang tanpa pendidikan formal, sekarang bisa seperti ini.

Mempunyai 5 orang anak, dua lelaki dan tiga perempuan, salah satu lelaki itu: aku—anak ke-dua. Aku merasa bersyukur punya orangtua seperti mereka. Kakakku: Uni—sekarang tengah menyelesaikan kuliah profesinya sebagai Apoteker, aku sendiri baru saja lulus dari Universitas di Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, adik perempuan dibawahku: Rilma, sekolah di sebuah Ponpes di Pekanbaru, dua yang lainnya sekarang di kampung: di dekat Orangtuaku. Aku bertekad: harus bisa lebih hebat dari Papa, aku seorang yang berpendidikan seperti ini.

Papa bisa segalanya—super multi talented, mulai dari pekerjaan sebagai kepala keluarga: mencari nafkah untuk keluarganya sampai urusan dapur juga bisa. Tak jarang beliau masak sendiri kalo lagi pengen sesuatu tanpa menyusahkan Mama. Beliau terkadang serius, terkadang lucu bukan main. Teman-temanku yang pertama kenal dengannya, pasti mengira Papa galak, itu karena tampangnya memang sedikit tegas, rahangnya yang kotak, mengesankan tegas, tubuhnya gak gede-gede amat, padahal, pria ini suka bercanda juga, leluconnya gak pernah terasa basi, setidaknya bagiku, Papa cocok jadi pelawak.

Mama: seorang ibu rumah tangga yang luar biasa. Seorang Ibu yang sangat tangguh. Sekarang Papa udah gak kuat kerja lagi seperti dulu, kehidupan keluarga cuma mengandalkan hasil kebun yang gak seberapa. Mama gantian yang cari duit. Mulai dengan membuka kedai harian kecil, sempat juga berjualan nasi. Berdagang: memang bakat Mama, turunan dari Nenek. Meskipun kedai nasinya sekarang udah tutup semenjak adik terakhirku lahir, tapi kedai hariannya masih berkobar sampai saat ini.

Papa: mulanya, awal berumah tangga dengan Mama, mereka baru punya dua orang anak: aku dan Uni: saat itu berumur 5 dan 6 tahun. Keluargaku sering pindah-pindah tempat tinggal, itu karena pekerjaan papa seorang sopir bus. Papa seorang supir bus Sinar Riau: saat itu sangat terkenal sebagai bus angkutan antarprovinsi Riau-Sumatrabarat. Mulanya kami tinggal di Bukittinggi, kemudian pindah ke Dumai. Kebetulan Bukittinggi-Dumai merupakan trayek Papa. Kami tinggal disebuah rumah kontrakan di Dumai, Riau, kota yang terkenal dengan pelabuhan minyaknya.

Di rumah, kami punya seekor anjing kampung kecil warna kuning keorenan, Ilot namanya: kami ikatkan di samping rumah sebagai penjaga Mama, Uni dan aku. Papa: seorang sopir bus, bekerja seharian penuh diluaran. Berangkat pagi pulang baru subuh hari berikutnya. Ilot, dengan gonggongan supernya, merupakan pertanda bagi kami kalo ada orang yang melintas di dekat rumah, tak jarang itu Papa yang pulang subuh buta di gonggong sama Ilot. Ilot menggonggong Papa berlalu. Tapi Ilot bukan bagian dari keluarga, dia cuma anak pungut.

Pangkalan Koto Baru

UDARA pagi masih begitu sejuk, tetes embun masih menggantung di ujung dedaunan pohon bambu yang tumbuh ditepi sungai depan rumah keluarga besarku. Rumah ini terletak dipinggir sungai. Sungai yang besar dan berbatu-batu mulai dari sebesar biji salak sampai sebesar mobil sedan. Jika sedang musim kemarau, batu-batu itu akan muncul kepermukaan seolah menjadi pulau-pulau kecil yang indah yang dibisa dijadikan jembatan alam untuk menyeberang. Jika musim penghujan datang, sering sungainya meluap, kadang sampai menenggelamkan rumah sampai atap-atapnya.

Rumah keluarga besarku biasa saja—berlantai dua. Lantai bawah terdiri dari lima kamar. Empat kamar utama dan satu kamar tempat menyimpan perkakas. Keempat kamar itu saling tepisah mengelilingi ruang keluarga dan kamar perkakas terletak di bagian belakang di dekat dapur. Sementara lantai dua merupakan gudang dan sangat bermanfaat ketika banjir.

Nenek pernah bercerita: Dulu, waktu Mama masih kecil, rumah keluarga besarku gak seperti sekarang. Dulu rumah ini masih berupa rumah panggung kayu seperti rumah panggung orang Minang pada umumnya. Hanya bagian tangga pintu masuk depan yang di perkeras dengan batu dan semen, selebihnya kayu. Ruang utama rumah sengaja dibuat besar dan memanjang. Jendela besar dua daun di kiri dan kanannya. Langit-langit rumah ditutupi dengan kain warna-warni. Di bagian bawah rumah, anak-anak, kucing, ayam, bebek dan kadang-kadang ular, semuanya mengklaim daerah masing-masing. Undur-undur tak ambil pusing ketika sekawanan ayam mengurai pasir halus di bawah tiang rumah. Bahkan ayampun tak peduli anak-anaknya di incar ular lapar.

Apakah kalian tahu salah satu alasan mengapa peradaban banyak terjadi di pinggir sungai. Sebagai contoh: Peradaban lembah sungai Nil dan Peradaban sungai Eufrat dan Tigris tak lain adalah karena masalah MCK. Tak disangka sebuah peradaban muncul dari masalah yang menurut orang masalah remeh. Rumah ini tidak memiliki kamar mandi seperti sekarang. Semua ritual yang berhubungan dengan MCK dilakukan di sungai depan rumah. Back to nature. Dan terjadilah keseimbangan serta siklus alam. Manusia makan ikan, manusia ee, ikan makan ee. Begitu seterusnya.

Sekarang, di depan rumah keluarga besarku ada sebuah surau lama yang sudah tak dipergunakan lagi—kosong dan tak terurus. Surau itu menjadi saksi bisu sejarah keluarga besarku. Di kanan dan kiri rumah banyak rumah yang ditinggal kosong penghuninya. Entah apa alasan mereka meninggalkan rumah-rumah yang masih bagus itu.

Nama kampung itu Pangkalan. Letaknya di propinsi Sumatera-barat, yakni kabupaten limapuluh kota. Sekitar seratus delapan puluh kilometer dari Bukit-tinggi. Merupakan pintu masuk kendaraan yang datang dari Pekanbaru, Riau menuju Sumatra barat. Tepatnya Pangkalan terletak di batas propinsi.

Pemandangannya yang indah khas Sumaterabarat, udaranya yang sejuk indikasi kaya oksigen. Sekeliling mata memandang hanya terlihat sawah dan hamparan bukit yang saling berpelukan. Jika berada di sini, kita akan merasa seperti seekor kecebong di dalam sebuah mangkok kecil bermotif dedaunan, yang terlihat hanya keindahan.

Secara umum, kampungku ini tanahnya subur. Sawah-sawah membentang luas di kiri kanan jalan. Sawah-sawah yang sudah ditinggal pergi penghuninya. Tak ada yang mengurusi. Hanya sebagai tempat kerbau dan burung bangau mencari nafkah. Begitu tingginya gengsi orang sekarang, menjadi petanipun tak mau. Lebih memilih nongkrong-nongkrong di kedai kopi.

Aku orang minang. Papa dan Mama orang minang. Kakek dan Nenek dari pihak kedua orangtuaku juga orang Minang. Mungkin kalau ditelusuri terus sampai ke atas bisa jadi aku keturunan Iskandar yang agung (alexander the great).

Kampungku hanya ramai pada hari-hari tertentu. Awal memasuki bulan puasa, lebaran idul fitri, lebaran haji, dan jika ada acara kenduri. Selebihnya sepi. Hanya di isi jejeran truk fuso pengangkut semen padang.

Pada awal masuk bulan puasa, sering diadakan acara adat mandi bersama di sungai, namanya: mandi Balimau. Acara tahunan dalam rangka menyambut bulan puasa. Tua muda, miskin kaya, ganteng jelek semua ambil bagian. Pada acara mandi Balimau ini sering diadakan perlombaan kapal hias, pacu sampan, juga baca Alqur’an. Hadiahnya juga tidak tanggung-tanggung: mobil truk enam ban merek Mitsubishi Fuso yang disponsori oleh pabrik Semen dari kota Padang.

Bukan orang minang namanya kalau tidak suka merantau. Aku mencoba berasumsi: Keberhasilan kakek buyut kami: Malin Kundang dalam perantahuan—telah menginspirasi kebanyakan orang minang untuk merantau juga. Tapi keluargaku bukan dari garis keturunan kakek buyut Malin Kundang. Setahuku beliau tidak punya anak, kalaupun ada mungkin sudah keropos di hantam ombak di pantai Airmanis. Aku bukan keturunan anak durhaka.

Mata pencarian kebanyakan penduduk di kampungku adalah sopir. Ya, sopir truk semen enam ban merk Mitsubishi Fuso tadi. Mereka mendistribusikan semen dari Padang ke tempat lain. Tradisi menyopir sudah mendarah daging di kampung kami. Bukan orang Pangkalan namanya kalau gak bisa nyopir. Papaku sopir yang handal. Sopir bus antar provinsi. Omku juga sopir. Tetanggaku sopir. Sopir: sebuah pekerjaan berat dan mulia. Setiap yang dilakukannya pasti berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Sopir bus penumpang: mengangkut penumpang orang banyak dan mengantarnya ke tempat tujuan. Sopir truk sembako: mengangkut sembako untuk kebutuhan hidup orang banyak. Sopir adalah cikal bakal Pilot, Nakhoda, dan Masinis.

Pangkalan adalah tempatku dilahirkan, tapi tidak dibesarkan.