Seminggu Pertama Di Depok…
Hari ke dua, 310909
“Tok tok tok, bangun Bel, sahur!” teriak Hendri dari luar kamar sayup-sayup kudengar. Aku bangun, kulihat jam wekerku yang sudah kusetel malam tadi:
“Aah, masih jam segini, kok cepet banget Hendri bangunin sahur?” batinku.
“Mau sahur bareng gak, Bel?”
“Iya-iya, sabar dong Hen!” kok nyuruh Hendri sabar aku yang jadi emosi.
Segera kukenakkan pakaianku, tadi malam aku tidur pake cd doang, sumpah, Depok puanas banget coy, mana kamar belum ada kipasanginnya (baru pindahan, jadi belum sempet beli). Habis cuci muka, Aku, Hendri, dan Andri berangkat ke rumahmakan Padang langganan. Ini rumahmakan, jadi untung gede semenjak kami datang, mulai dari tes masuk sampai sekarang jadi mahasiswa disini.
Pulang dari makan sahur, aku kembali ke khayangan, tidur maksudnya, sholat subuh ntar aja kalo bangun lagi.
Gak ada kokok ayam yang bangunin, lagian sapa juga yang melihara ayam di kota gini. Jam wekerku berdering: jam 09.00, kumatiin, tidur lagi… mumpung bulan puasa, tidur merupakan ibadah.
“Allahuakbar, Allahuakbar…..” kumandang adzan dari mesjid samping kosan. Aku bangun dan bergegas mandi. Sehabis mandi sholat zuhur, trus bangunin Andri via sms aja. Meski kamar Andri hanya berjarak sepuluh langkah dari kamarku, tapi puasa membuatnya menjadi sangat jauh.
“Saudaraku Andri, bangun dan mandilah, ingat rencana yang sudah kita susun kemarin!” kata-kata yang kukirim via sms.
“Yup, bel” jawabnya gitu doang.
Andri paling lelet, suka menunda-nunda pekerjaan, doyan online facebookan, main poker, sekarang ini mulai kecanduan permainan baru lagi yang sulit aku mengerti. Dia punya restoran yang toiletnya terbuka tanpa sekat atau pembatas dengan ruang makannya, toilet pria dan wanita juga berdampingan tanpa sekat. Orang yang waras dan berakal sehat gak akan ada yang mau singgah di sana. Sungguh vulgar dan bikin ilfil. Aku mati-matian memprotes restorannya namun tak diacuhkan. Jawabannya hanya: “belum cukup duit”.
Dia punya cita-cita jadi manager bank di kampungnya, cita-sita yang sedikit banyak tidak berhubungan dengan jurusan yang sedang digelutinya sekarang—teknik sipil. Tapi mana kita tau. Seorang anak tukang semir sepatu bisa saja sepuluh tahun yang akan datang punya toko sepatu, seorang anak yang suka menipu orang tua mungkin saja limabelas tahun yang akan datang jadi anggota dewan, atau seorang penggosok gigi buaya akan mati sia-sia. Tuhan yang ngatur semuanya, daripada aku sampai saat ini belum punya cita-cita, masih umum: hidup bahagia dunia akhirat.
Berselang waktu satusetengah jam dari sms “Yup, Bel” tadi, baru Andri datang ke kamarku, tu kan lelet banget…
“Jadi pergi An?” aku pura-pura nanya aja, padahal dah dari tadi nunggu
“Yok lah!”
Kumatikan laptop yang tadi menghiburku dengan lagu-lagunya Andra n The Backbone, SEMPURNA…
Lagi puasa, jam setengah dua, panas full, lengkaplah sudah… untuk menghemat pengeluaran, yang biasanya naik ojeg diganti naik sepeda, sepedakuning milik UI, mumpung gratis, gak deng, kan kita bayar SPP. Semua di UI serba kuning, mulai dari jaket Almamater, Bus kuning (Bikun), Sepeda kuning, dan gigi.
Kami mengayuh sepeda tak kenal lelah, mulai dari kampus teknik samapi gerbang masuh UI nun jauh disana. Hauuussss…
“Sampai sini aja, Bel! Kalo terus ke depan lagi kita muter dong.” Andri bilang sambil terengah-engah.
“Ya udah, ntar kita tanya-tanya aja kalo mau kemana-mana”.
“Bang, kalo mau cari perlengkapan kosan yang murah dan deket dimana ya?” aku memulai pembicaraan serius dengan abang petugas penjaga sepeda.
“Kalo dari sini sih yang agak murah dan deket, Pasarminggu. Ada lagi sih yang murah tapi jauh, Tanahabang!.
“Makasi, bang!” aku mengakhiri pembicaraan.
“Ya udah An, kita ke Pasarminggu aja!” aku menyarankan.
“Dah jam berapa nih? cukup gak nanti? Jam empat kita dah masuk” Andri masih ragu-ragu untuk beranjak.
Aku pastikan dulu…
“Pasarminggu dari sini jeuh gak Bang?” aku memberanikan diri bertanya pada seseorang yang tak dikenal yang juga duduk di halte tempat kami meragu dan terombang-ambing.
“Deket, tu angkot ke Pasarminggu” jawabnya sambil menunjuk ke arah angkot cokelat kusam jurusan Depok timur-Pasarminggu.
Tanpa ngucapin terimakasih kami bergegas naik angkot, jangan ditiru kayak gini, gak baik.
Di dalam angkot, kok belum sampai-sampai. Sekedar memastikan, aku bertanya lagi sama Ibu-ibu yang duduk berhadapan denganku di dalam angkot:
“Pasarminggu masih jauh, Bu?”
“Masih”
Hmmm, mamam tu, mana yang bisa dipercaya nih, abang-abang tadi bilang deket, nih Ibu-ibu bilang masih jauh. Kesimpulan: “Jarak jauh dan dekat itu relatif, jawaban yang berbeda-beda akan Anda dapatkan pada setiap orang yang ditanyai”. Saran: Votting aja.
Finally, sampai juga di Pasarminggu…
“Bergegas Bel! Waktu kita gak banyak” kata Andri.
Kami menelusuri setiap toko elektronik yang terdekat, hanya sempat menemukan tiga toko dan waktu dah mepet, kami memutuskan untuk membeli fan di toko yang pertama kami samperin berhubung karena lebih murah. Selisih seratus ribu. Fan dah dapet, tapi gak sempet cari karpet, ya sudahlah… kapan-kapan lagi aja.
Kamipun pulang dengan cara yang sama seperti waktu berangkat tadi, hanya kebalik. Pertama naik angkot, trus naik sepeda. Ngerti kan maksudku? Udah jam tiga lewat tigapuluh menit, aku belum sholat ashar dan mandi, setengah jam lagi kuliah, kuliah perdana di UI. Cukuplah setengah jam…
Mandi ngebut dan sholat tetap khusyuk dong (harus). Kemudian berangkat ke kampus tanpa persiapan apa-apa, hanya bawa tasransel kosong buat gaya-gaya doang, belum sempet beli kertas dan binder, penapun Andri yang kasih.
“Kuliah di ruang berapa, Bel?” Lazu: temanku yang lain, nge smsku.
Lazuardi Lasimpala: di Diploma dulu aku tahu namannya tanpa Lasimpala. Dia tinggal di Bekasi, puluhan kilo dia tempuh tiap hari bolak-balik kampus dan rumah. Karena orang Bekasi, dia sudah biasa ngomong pake lu gue lu gue.
“Wah, gue gak tau Di, gue juga baru berangkat dari kosan” kalo ngomong sama Lazu, aku bisa pake lu gue.
Eh di shelter sepedakuning ketemu Hendri, dia baru pulang kerja, bareng deh kekampus bertiga. Aku, Andri dan Hendri. Tanpa menemukan kesulitan yang berarti kamipun tiba di kelas yang saat itu sudah rame. Ketemu deh sama Lazuardi, Dodik dan mas Ade (mereka teman dari UGM juga yang lolos masuk UI).
Kuliah perdana, Ilmu Lingkungan atau bahasa lainnya Enviromental Science. Pak dosennya gaul dan lucu. Ini kuliah apa ngelawak, kok gak serius pak? Meneketehe, mungkin memang gini kuliah di UI, ekstensi Tekniksipil pula. Kesimpulan kuliah yang kudapat adalah Manusia = Sampah.
Kuliahpun berakhir seiring adzan maghrib tanda buka puasa… sekian untuk hari ini.
Hari ke tiga, 010909
Bangun sahur seperti biasa, Andri yang bangunin. Padahal jam wekerku tadi sudah sempat bunyi tapi aku gak nyadar saat menghentikan kebisingannya. Kalo saja Andri gak bangunin sahur, mungkin aku bablas tidur sampai imsak.
Sehabis santap sahur, aku gak langsung tidur seperti hari sebelumnya, dengerin musik dan lantunan Alquran dari speaker laptop sambil menunggu adzan subuh. Aku gak mau sholat subuh pagi-pagi lagi, karena ontime lebih baik. “Dan celakalah mereka yang sholat, orang-orang yang lalai dalam mengerjakan sholatnya”.
Adzanpun berkumandang setelah takmir mesjid melantunkan ayat-ayat Alquran, aku bangkit dari kemalasan dan kedinginan pagi, kuambil wudhu dan berangkat ke mesjid di samping kosan. Alangkah terkejutnya diriku ketika masuk ke mesjid aku melihat Andri sudah disana duluan. Wow, apakah gerangan? Mungkin bukan kali ini saja, mungkin sudah sering, hanya aku yang gak tau kalo Andri rajin ke mesjid, aku baru tau. Andri seorang rokker rock n roll rajin beribadah, aku tak boleh kalah.
Bener kata cerita yang pernah kubaca, bahwa “Bagaimanapun suatu kebaikan, apabila disembunyikan akan kelihatan jua”, maka dari itu, jangan malu berbuat baik.
Jam 08.30, aku bangun dan mandi siang. Hari ini aku mau ke kampus sendirian (Andri masih tidur pastinya) bukan untuk pergi kuliah, melainkan sekedar setting wireless laptop, biar bisa online gratis pake hotspot kampus.
Setibanya di kampus, berlagak kayak mahasiswa lama yang sudah ngerti seluk beluk kampus ini. Kuambil tempat duduk di gazebo yang paling terpencil dan hanya ada sedikit orang disana, niatnya supaya gak ada yang tau kalo aku datang hanya buat nyetting laptop.
Semua petunjuk dari CD akademik sudah aku ikuti dengan baik (menurutku), tapi kok gak berhasil-berhasil juga, gimana nih? Wah katrok. Sekitar dua jam duduk nyetting laptop gak bisa-bisa, aku bete, pulang dah.
Sebelum nyampe kosan, aku mampir dulu di sebuah warnet di sebelah rumahmakan padang yang biasa kami kunjungi. Anehnya warnet disini, gak ada privasi buat pengguna sama sekali, gak ada sekat yang membatasi antar komputer, seperti sama halnya dengan buah hajat di restoran khayalan Andri, jadi gak nyaman kalo mau buka-buka “sesuatu”, misalnya mau buka facebook, YMan, (dll), yang tanda kurung itu punya maksud yang tersembunyi, kalian pasti ngerti.
Coba-coba buka situs UI, gak ada yang berhasil. Warnet apaan nih? Alih-alih selesai ngenet kena duaribu, padahal gak dapet apa-apa, cuma kebagian YMan sebentar doang, suer…
Tit, tit, tit, tit… hapeku berbunyi, ada sms masuk.
“Uang udah dikirim” sms dari ortu.
Kebetulan uang kosan belum dibayar, baru DP doang dari kemarin, gak enak sama yang punya kosan. Sebelum diusir dan barang-barang isi kamar dibanting keluar, ambil uang dulu di ATM deket kampus, lumayan jauh sih, pamit sama Andri dulu, ntar dia nyari-nyari aku lagi. Yaah, ternyata Andri juga mau ikut ke ATM, tapi nunggu dia mandi dulu. Lama juga Andri mandinya, seperti biasa, aku buang rasa bosan menunggu dengan mendengar alunan lagu dari laptopku. Judul lagu: menunggu.
Selepas itu, kami berangkat ke ATM menggunakan sepedakuning milik kampus lagi, ambil duit trus jalan ke Margonda (nama sebuah jalan) untuk mencari apa yang bisa dibeli atau dibutuhkan untuk melengkapi atribut kosan. Andri membeli sebuah coolingpad laptop karena terinspirasi olehku yang sudah punya terlebih dahulu. Kami melanjutkan ke sebuah agen tiket pesawat menanyakan harga tiket untuk pulang ke Pekanbaru nanti. Lumayan mahal, gak jadi beli waktu itu, masih mikir-mikir. Berencana beralih ke agen lainnya namun tak kunjung ketemu, malah kami mendapatkan sebuah toko penjualan rak kain yang terbuat dari aluminium, merasa butuh, dibeli sudah.
Sepulangnya dari itu, kami singgah ke sebuah toko buku di depan stasiunkereta. Aku sengaja beli binder karena belum punya. Karena gak ada hiburan di kosan, aku memutuskan membeli sebuah buku yang filmnya sudah duakali aku tonton, “Laskar Pelangi” yang ditulis Andrea Hirata, penasaran aja, katanya beda film sama novelnya. Kok harganya murah banget, setengahnya dari yang pernah kutau. Aku berfirasat kalo ini buku bajakan. Setibanya di kosan segera kulucuti plastik yang membungkusnya tadi dan kuperiksa seluruh isi bukunya, ternyata benar, ini buku gak asli, ini bajakan. Ya sudahlah, aku hanya orang yang haus akan pengetahuan tapi minim dana.
Keasikan baca buku tak sadar kalo sudah jam empat sore, sejam lagi masuk kuliah. Hendri baru saja pulang dari kerjanya. Kami berangkat bareng bertiga dari kos-kosan.
Di kampus, matakuliah Mechanic of Fluids. Dosennya telat setengah jam lebih karena katanya beliau salah informasi ruangan gitu. Pak Dosen ini gak kalah gokil dengan Pak Dosen hari sebelumnya. Bapak Herr Suryantono. “Gue sepuluh tahun kuliah di Amerika, gimana gak doktor?” lagaknya sombong namun gak terkesan sombong. Dari cerita-certia beliau bisa kuketahui kalo beliau sarat akan pengalaman. Pembawaannya yang lucu dan berusaha membuat kami mengerti sedetail-detailnya apa yang beliau ajarkan. Aku dan kebanyakan mahasiswa lainnya bingung, namun beliau mengatakan, kalo beliau berhasil membuat kami bingung berarti beliau berhasil mengajar kami.
Hari ke empat, 020909
Pagi seperti biasa, tapi kali ini aku telat bangun, Andri dan Hendri kelihatan tak sabaran ingin segera makan sahur, seperti orang yang belum makan bertahun-tahun dan tiba-tiba dapat kesempatan makan. Mereka mengetuk pintu kamarku seperti biasa:
“Makan di mana lagi, Bel?” kata Hendri.
“Warteg Shinta aja, Hen, bosan di warung padang melulu”.
Aku segera cucimuka, masih dalam keadaan mengantuk, malam tadi telat tidur karena keasyikan baca novel Laskar Pelangi, novel ini belum selesai juga aku baca. Selepas keluar dari kamarmandi dan mengunci pintu kamar, aku sudah tidak menemukan siapa-siapa di luar, sialan, aku ditinggal. Segera aku susul ke warteg Shinta tempat aku dan Andri dulu sering makan saat masih cari-cari kosan.
“Lho, dimana mereka, kok jalannya cepet banget?”
Aku berusaha mengejar, mustahil mereka jalan secepat itu, lagian kalo ke warteg Shinta hanya ada satu jalan ini dan jalan lurus pula, kalo mereka belum jauh pasti masih keliahatan punggungnya. Aku terus menyusul.
Di tengah perjalanan, aku merasa gak yakin kalo mereka ke warteg, eh malah ketemu mas Ehul: teman lamaku di kosan Jogja, sekarang jadi teman di Depok juga karena dia juga kuliah di universitas yang sama denganku. Dunia begitu sempit, ketemu orang itu-itu saja.
“Mau kemana, mas?” aku memulai pembicaraan.
“ Eh, Nobel, tak kirain siapa? Ini mau beli pulsa”
Mas Ehul berjalan berlawanan arah denganku, karena warteg masih jauh dan aku juga gak yakin Hendri dan Andri ke sana, aku berbalik arah mengikuti mas Ehul yang berjalan menuju warung makan padang. Mungkin Hendri dan Andri di warung padang, apapun yang terjadi, meskipun tak kutemukan mereka di sana, aku akan memutuskan sendiri di mana aku harus makan.
Sambil berjalan aku masih berpikir ke mana mereka berdua menghilang, gak taunya mereka beneran di warteg, tapi bukan warteg Shinta yang kuceritakan tadi, ini warteg berada di depan warung makan padang itu, namanya warteg Shinta. Aku baru ingat kalo di kawasan ini bertebaran warteg dengan nama Shinta. Ada apa dengan Shinta?
Siangnya…
“Bel, aku dah sampai di stasiun UI, kamu di mana” sms yang kuterima dari sahabat lamaku: Yuher
Yuher adalah teman sekolahku di STM dulu, sekarang dia kuliah di salahsatu universitas di Padang. Di Jakarta ini sekarang dia magang, mumpung deket dengan Depok jadi dia pengen datang main ke tempatku.
“Naik aja buskuning milik UI itu, ntar berhenti di kampus teknik!” balasku.
Setelah dia tiba di kampus teknik segera aku jemput. Jarak kosan dengan kampus teknik gak begitu jauh, hanya tujuhsetengah menit perjalanan.
Sekarang jam 15.00, sejam lagi aku kuliah, daripada Yuher bengong sendirian, trus bunuhdiri di kosan mendingan kuajak ke kampusku aja.
Di kelas, kami langsung di sambut matakuliah Statik (sejenis mekanika struktur di Diploma Sipil), ini Bu Dosen gak ada basa-basi. Kami langsung dikasi pelajaran, untung otak ini gak kaget.
Hari sebelumnya aku udah punya teman sepuluh orang, lima anak Diploma Sipil tempatku berasal dan lima lainnya adalah teman baru: Gebi, Siti Aulia dengan nama gaulnya Delia, Andi, Arya dan Ifan. Aku dapat petuah dari pacarku sewaktu aku masih di Jogja, disuruh mencari orang yang namanya Fanju. Fanju: pacar dari temannya pacarku. Fanju satu-satunya lulusan Poltek Undip yang lolos seleksi UI. Kalo cuma satu-satunya tentu gak begitu sulit mencarinya. Tapi gak semudah yang kubayangkan, aku belum kenal sama sekali, ciri-ciri orangnyapun aku gak tau. Aku tanya Dinda (pacarku), Fanju itu orangnya gemuk dan potongan rambutnya pendek gitu.
Aku berusaha mencari sekuat tenaga dan penglihatanku, kuamati seisi kelas sore ini, namun tak jua aku temukan. Kalo bukan karena selebaran yang di kasi dosen itu, aku gak akan ketemu dengan yang namanya Fanju, entah sampai kapan. Selembar kertas dari dosen itu harus diisi nama orang yang kuliah sambil kerja. Aku tau kalo Fanju juga kerja, pasti dia ikut isi nama di kertas itu.
Dosen memanggil nama mereka satupersatu, dan saat Bu dosen memanggil nama: Ahmad Fanju, mataku segera berkeliaran untuk mencari tau siapa yang punya nama itu, dan kudapatkan. Owh, itu orangnya. Sepulang kuliah segera aku samperin dan minta klarifikasi, ternyata nama panggilannya Ifan, orang yang kukenal sehari sebelumnya. Dia hanya ketawa-ketawa nyengir.
Hari ke Lima, 030909
Tadi malam aku telat tidur, keasikan ngetik diari ini. Terpaksa tidur di bawah tanpa kasur karena kasur udah di kuasai Yuher. Kasurku sempit, gak bisa buat berdua. Untung Andri berbaik hati meminjamkan karpet busanya, kalo gak mungkin badan ini sudah mati kedinginan tidur di lantai tanpa alas.
Hendri dan Andri, dua orang pangacau yang selalu menggangu mimpiku setiap dinihari, sahur, sahur, sahur… begitu teriaknya setiap subuh. Tapi untunglah, kalo gak ada mereka mungkin aku akan bangun kesiangan terus tanpa sempat santap sahur, jam weker pemberian pacarku gak mempan untuk bangunin kerbau yang tidur, apalagi alaram hape.
Makan di tempat biasa, warung padang samping kos-kosan. Gak ada yang istimewa, aku dah bosan ngetik soal warung padang melulu.
Siangnya, jam 13.00 wib. Aku dan Andri pergi ke Margonda hunting tiket pesawat buat pulang besok, kemarin udah boking Batako Air 567 ribu, lumayan mahal dan time limitnya hari ini. Mumpung masih ada waktu, cari yang agak murahan dikit. Akhirnya pergi ke agen tiket yang lain, nanya-nanya, eh dapet yang lebih murah, selisih 158 ribu: Singa Air. Ya sudah, kalo ada yang lebih murah maka yang mahal di eliminasi aja. Tapi kalo naik Singa Air dengan harga segini, kami harus check in jam 06.50, itu berarti harus berangkat dari kosan sehabis sahur dan sebelum sholat subuh. Gila. Tapi gak apalah, ini masalah ekonomi, kalian gak akan ngerti.
Sepulang beli tiket, kebetulan ada Abang yang jual cermin mangkal di pinggir pintu masuk Kukusan (nama kawasan tempatku ngekos), ini cermin adalah salah satu item yang sudah lama kami incar, masuk dalam list wajib kifayah, harus kudu di beli, karena ia merupakan kunci dari penampilan. Udah lima hari ini hidup tanpa cermin, gak tau perubahan apa yang udah terjadi pada diri ini. Kemarin, karena sangat terpaksa, saat menggunting kumis aku memakai kepingan CD sebagai cerminnya. Tragis emang.
“Bang, cermin yang gede berapa?” tanya Andri tegas seperti orang mau nodong aja.
“Limapuluh ribu aja” Abang penjual gak mau kalah.
“Buat apa yang gede, Ndri, ntar susah bawa-bawanya kalo mau pindah kosan” aku setengah berbisik pasa Andri.
“Kalo yang kecil berapa?” Andri terpangaruh nasehatku.
“Tigapuluhlima ribu aja.”
Andri hanya terdiam, seakan setuju dengan harga yang ditawarkan Abang cermin. Aku harus turun tangan, naluriku memanggil, rasa kepahlawananku timbul seketika melihat ketidakberdayaan Andri.
“Duapuluh ribu aja, Bang!” aku keluar sebagai pahlawan.
“Udah deh, tigalima kalo mau!” Abangnya gak mau kalah.
“Mahal banget, Bang, inikan seharusnya setengah harga yang gede” aku mengajak si Abang berpikir logika, karena jelas-jelas si cermin ukurannya setengah dari ukuran yang gede. Apa si Abang ini logikanya sudah mati, atau ini taktik perniagaan yang ia terapkan sehingga orang akan lebih cenderung memilih yang gede karena harganya beda tipis.
“Kita ambil dua, Bang” Andri menambah sugesti, akhirnya dengan negosiasai yang lumayan alot, si Abang gak berkutik.
“Ya udah deh, makan sini apa dibawa pulang?”
Kamipun pulang dengan kemenangan, seperti dua orang bocah habis menang lotere dan dapet boneka beruang. Setibanya di gerbang kosan:
“Eh, Hendri gak dibeliin sekalian?” aku mengingatkan.
“Iya ya, kan dia kemarin pesan juga”
Karena kemarin waktu kami beli rak baju dia juga gak dibeliin, kami takut dia akan merasa didiskriminasi oleh kami sedangkan kami gak bermaksud seperti itu samasekali. Mendiskriminsi Hendri sama aja dengan bunuhdiri dini, mati muda dan hilang masadepan, Hendri adalah tulangpunggung yang kami andalkan, kecerdasan dan kerajinannya harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, terlebih besok aku dan Andri akan pulang kampung, dan Hendri akan menjadi penyelamat absensi kami. Kami menawarkan simbiosis mutualisme di sini, iming-iming oleh-oleh dari kampung sudah pasti jadi andalan. Akhirnya aku dan Andri terpaksa balik ke Abang cermin untuk membeli cermin satu buah lagi. Laris manis.
Jam 16.30 wib. Selagi aku mandi, Andri sudah menggedor-gedor pintu kamarku, tumben sekarang ada dia kemajuan. Udah bisa duluan, malah aku yang telat.
“Dah masuk ni, Bel, cepatlah dikit!” Andri gak sabaran seperti takut ketinggalan menyaksikan pertunjukan topeng monyet di tengah pasar.
“Yo….” Aku mempercepat gerak.
Kuliah hari ini “Jalan Raya I” oleh Ibu dosen Ellen SW Tangkudung, Tangkudung perahu kaleee….(jangan gitu, ntar kualat baru tau rasa) Beliau menjelaskan tentang sejarah asalmula pembuatan jalan, huuu, bosen itu-itu mulu diulang-ulang. Dipenghujung sesi beliau memberi tugas kelompok (1 kelompok masing-masing lima orang), dan kelompoknya beliau yang nentuin. Aku kebetulan kebagian kelompok 8, sepertinya ini nomor keramatku, soalnya di kosan Kepodang (nama kosanku), aku menghuni kamar no. 8 juga. Suatu kebetulan yang direncanakan Tuhan. Apa berikutnya yang berhubungan dengan angka 8, kita tunggu saja!.
Sekarang temanku nambah empat orang lagi, jadi total sudah empatbelas orang. Tadi kenalan sama Agnes, Tri, dan dua orang bernama Dika. Besok siapa lagi?
ATM yang di samping Alfamart deket kampus Fisip rusak, tadi mau ambil uang aja kita terpaksa malam-malam ke Detos (Depok Town Square), bukan Squarepant: Spongebob dong. Mau ambil uang aja harus naik bus, angkot dang ngantri di ATM. Parah, gak semudah di Jogja, ATM bergelimpangan di mana-mana, atau mungkin kami aja yang gak tau.
Hari ke enam, 040909
Andrea Hirata bagai dukun, buku Laskar Pelangi miliknya mengandung pelet (seperti makanan ikan) yang apabila dibaca akan membuat setiap insan merasa ketergantungan sehingga tak akan lepas darinya. Seperti aku, udah empat hari belakangan ini setiap siang saat-saat tak menentu, saat menunggu jadwal kuliah, saat-saat kosong aku gak pernah lepas darinya. Tidak seperti kebanyakan orang yang bisa menuntaskan membaca satu judul buku dalam waktu sebentar saja, menamatkan Samurai atau Eragon dalam satu malam. Apa mungkin mereka membaca tidak dengan penghayatan?. Atau bukan mereka, tapi aku sendiri yang lemot. Hanya sebuah Laskar Pelangi yang tipisnya minta ampun belum selesai aku baca sampai sekarang.
Hari ini libur, kuliah cuma dari Senin s/d Kamis. Jadi malas-malasan di kosan sambil menunggu adzan magrib waktu kemenangan.
1. Monopoli
Masih teringat olehku perbincangan sengit subuh tadi, disela-sela santap sahur, antara aku, Andri dan Hendri. Kami berbincang sengit di warung makan, bisa ditebak di mana: warung makan padang langganan.
Di kawasan sekitar kosan tempatku tinggal, berdiri beberapa unit warteg (warung makan dalam bahasa Padang: Lapau). Kami sama sekali tidak mempermasalkan banyaknya warteg itu, itu jelas suatu keuntungan bagi dirinya atau kami sehingga leluasa memilih tempat makan. Tapi, ternyata sama sekali ia tak ada beda, mulai dari namanya hingga apa yang ada di dalamnya. Seperti yang lalu aku bilang kemarin, saat aku kesusahan mencari di mana keberadaan Andri dan Hendri, ini adalah salahsatu kesalahan warteg itu.
Lebihkurang ada lima buah warteg yang menggunakan nama Shinta (ini bukan melebih-lebihkan tapi kenyataan). Kami selaku mahasiswa yang sedikit kritis dan berpendidikan, mencium adanya persengkongkolan antara warteg tersebut, sebuah monopoli yang terang-terangan, monopoli akibat persaingan pasar bebas. Monopoli ini, apabila dibiarkan lambat laun akan menyulitkan warteg lain (yang bukan dengan nama Shinta) untuk berkembang, dan lama-kelamaan gulung tikar. Seperti yang kami saksikan, warteg Annisa, warteg Alhikmah, dan lainnya keseringan tutup.
Kerugian konsumen akibat monopoli ini adalah adanya ketidakstabilan harga makanan di warteg. Karena itu warteg sejenis sehingga harga bisa mereka tentuin sendiri tanpa ampun. Mahasiswapun selaku konsumen akan merasa terpaksa dan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh mereka. Secara kita butuh makan dan minum. Sebagai contoh simpel: jika Shinta menaikkan harga Es teh manis menjadi limaribu/gelas, maka apa boleh buat, Shinta-Shinta yang lain akan berbuat sama. Pertanyaannya: Apa gak ada tempat makan yang lain? Jawaban: ada dan satu-satunya.
Praktik monopoli sebenarnya sudah banyak beredar dikalangan kita hanya saja masih tersamar sehingga kita tidak menyadari. Sebagai contoh: ubi goreng, teh kencingkuda, miss burger, bahkan Alfamaret, Indomart dan lain-lain. Ini baru langkah awal dari penerapan konsep pasar bebas yang jelas-jelas akan merugikan konsumen. Kesimpulannya: kami selaku pelanggan tetap warung makan: Padang Baru, takut kalo nantinya warung padang berganti nama menjadi warteg Shinta.
Nb: ditulis oleh orang yang ngerti sama sekali dengan konsep pasar bebas dan monopoli, hanya tau sedikit. Kata Ustadz: “Sampaikanlah walau hanya satu ayat”.