16 Oktober 2010

Tumank Gank

INI pertama kalinya aku pisah dengan Mama dan Papa. Aku mendaftar di sebuah sekolah kejuruan teknik di Pekanbaru, tiga jam perjalanan dari Ujungbatu. Aku mengambil jurusan Teknik Bangunan. Pernah terpikir untuk masuk jurusan Teknik Mesin, tapi Papa tak mengijinkan, dengan alasan yang dangkal dan waktu itu aku rasa cukup meyakinkan.

Pertama kali mendaftar di sekolah ini, aku gak yakin bakal diterima. Peminat sekolah ini banyak sekali. Semua diseleksi dengan nilai ujian akhir nasional. Nilai ujianku saat itu tak tinggi-tinggi juga. Aku hanya bisa berdoa. Gak taunya, waktu pengumuman penerimaan, aku mendapati namaku di urutan ke dua dari atas yang berarti nilaiku tertinggi ke dua disekian ratus pendaftar yang diterima. Clap, clap. Hal itu membuat aku lebih pede, aku pasti bisa menjadi terbaik diberikutnya.

Aku tinggal di rumah Tanteku di sebuah perumahan di daerah Panam, tigapuluh menit perjalanan dari sekolah.

Di sekolah, aku selalu berusaha menonjol dari yang lain. Menjadi ketuakelas merupakan langkah awalku. Tidak gampang menjadi ketuakelas. Tidak jarang aku mendapat tekanan dari teman-teman yang jahat dan suka bolos sekolah. Mereka selalu minta daftar hadirnya diisi olehku, sedangkan mereka pergi terbang entah ke mana. Aku seorang diri menghadapi semua itu, awal-awal sekolah belum punya teman dekat yang bisa diajak sharing. Meskipun di bawah tekanan itu, aku sekalipun tidak pernah menuruti kata-kata mereka, kalo aku turuti sama saja aku menghianati profesiku sebagai pemimpin dan tanggungjawabku pada Tuhan.

Berkat keteguhan hatiku selama menjadi ketuakelas, dan menjadi orang yang teraniaya melulu. Tuhan memberikan jalan buatku, satu persatu orang-orang jahat di kelasku berguguran, tersingkir karena alasan yang aku tak perlu tau.

Setelah memasuki kelas dua, aku baru punya teman dekat yang terbentuk sebagai sebuah geng. Nama geng kami terinsinspirasi dari nama seekor anjing yang legendaris, anjing milik Sangkuriang dalam legenda Tangkuban Perahu: Tumang. Anjing itu mati secara tragis dibunuh oleh Sangkuriang. Dan ternyata, anjing itu adalah bapaknya sangkuriang sendiri. Bener gak seperti itu ceritanya? Terlepas dari bener atau tidaknya legenda tadi, jadilah kami: Geng Tumank. Simpel dan penuh makna.

Geng yang tak disegani oleh siapapun ini mempunyai lima orang anggota: Aku, Fadli, Fariz, Adit, Dodi dan Hamdani (yakub). Tak ada ketua geng diantara kami, semua anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Haknya yaitu tau akan kewajiban. Tak ada juga penerimaan anggota baru, enam orang sudah cukup. Uniknya, setiap pagi awal masuk kelas, ketika bertemu dengan salah satu anggota gank, kami wajib menyalak: auukk…auukk………

Akan aku ceritakan satu persatu tentang teman-temanku itu.

Fadli: anak orang kaya namun keliahatan selalu kere. Bapaknya seorang penjabat di perusahaan kontraktor bangunan. Meskipun di rumah ia punya mobil kijang butut dan beberapa sepedamotor namun dia berangkat ke sekolah tetap saja dengan motor yang paling jelek diantara motor-motor yang ia miliki: Astrea keluaran tahun 80an warisan kakeknya. Terakhir motornya di cat airbrush dengan motif tengkorak-tengkorak di kap depannya, dia pikir akan membuat motornya kelihatan gagah. Bila keluarganya pulang kampung saat lebaran, Fadli lah yang selalu mendapat tugas menjaga rumah sendirian, bukan abangnya. Padahal dia juga punya abang laki-laki dan dua orang adik perempuan. Aku curiga kalo Fadli bukan anak kandung keluarga itu.

Fariz: anak sulung daritiga bersaudara, tapi tingkahlakunya tak sesulung umurnya. Setua itu dia masih minta berpegangan kalo menyeberang jalan. Awal masuk sekolah dia disapa Endo, nama lengkapnya Endo Farizca, nama belakangnya seperti nama cewek. Belakangan setelah naik ke kelas tiga, dia minta dipanggil Fariz, biar lebih dewasa, katanya.

Sedangkan Adit: anak dua-duanya di keluarganya. Sungguh orangtuanya sangat patuh pada kebijakan keluarga berencana. Adit orang Jawa satu-satunya di anggota geng kami. Badannya yang kurus dan jidat yang lebar, sering kami ejek sebagai ikan louhan. Itu lho, ikan cantik yang mahal harganya dan egois. Dan mungkin ikan sejenis itu santapan makan siangnya presiden.

T. Dodi Saputra, badannya yang gemuk dan pendek jelas kelihatan jika berjalan dengan anggota geng lainnya yang pada umunya kecil-kecil dan kurus kecuali Fadli. Dodi kelihatan paling makmur. Padahal kedua ortunya gak ada yang gemuk, entah dia ini keturunan siapa. Huruf T di awal namanya singkatan dari Tengku, gelar dari keturunan darah biru. Dodi cukup membuat geng kami menjadi aman dari pengacau, karena bodinya yang gendut itu cukup membuat lawan berpikir dua kali, padahal ya, kuberi tau kalian yang sebenarnya kalo Dodi itu bermental kerupuk.

dan Hamdani, yang kesehariannya sering kami panggil yakub, gak tau dari mana asal kata itu. yakup adalah makhluk yang sangat pede abis 200%. hobinya breakdance. dia punya gang breakdance bernama Paperboy (Pandau permai, tempat tinggalnya). pernah suatu hari, dia mempertunjukkan kebolehannya di depan kelas ketika Pak Zulfa sedang keluar. tapi apes, sewaktu melakukan gerakan putar baling-baling bambu, Pak Zulfa datang, dan kontan, sebuah tangan gempal mendarat di kepala yakup. kami hanya bisa terdiam menahan tawa sekaligus takut.

Aku sendiri: Nobel, sang ketua kelas, sang juara kelas, tukang carmuk di depan guru. Tinggi seratus enampuluh sentimeter dan berat berkisar empatpuluh lima kilo saja. Aku pintar, rajin sholat, mengaji, gemar menabung, patuh pada perintah orangtua dan disayangi mertua.

Di kelas tiga, aku mengambil kejuruan yang lebih spesifik. aku masuk jurusan gambar bangunan. Saat itu cita-citaku adalah menjadi arsitek. Menurutku aku cocok jadi arsitek, aku anak yang kreatif, sama seperti Papa. Bukankah seorang arsitek harus kreatif?. Papa bisa membuat perangkap hewan buas, melobangi batok kelapa dengan sikutnya, dan terakhir membuat kandang kambing tiga lantai dengan konstruksi yang rumit. Dan masih banyak lagi kekreatifan Papa yang tak bisa aku sebutkan satu persatu.

Tapi Tuhan tak mengijinkanku jadi arsitek. Dipertengahan semester akhir, aku disarankan oleh guruku untuk mendaftar di sebuah universitas di Jogja. Universitas Gadjah Mada. Tak ada pilihan lain yang berhubungan dengan jurusanku selain jurusan Teknik Sipil. Akhirnya aku coba daftarkan berkasku.

Aku diterima di UGM, artinya aku akan lebih jauh berpisah dengan oarangtuaku. Aku juga akan jauh berpisah dengan Resti: tetanggaku idolaku.

Hidup tanpa Cita



Sekarang aku terdampar di sini, di kota ini: Depok. Di dalam kamar kos-kosan 2,5x3 meter lengkap dengan kamar mandi di dalamnya dan tentu saja lebih luas daripada kamar kosanku yang dulu—di Jogja. Kukusan teknik atau lebih terkenal dikalangan tukang ojek dan mahasiswa UI dengan sebutan Kutek karena letak kosanku ini dekat dari kampus teknik UI. Kosanku terdiri dari dua lantai, aku sendiri menempati lantai bawahnya karena sudah aku pertimbangkan baik-baik. Aku sudah berpengalaman menghuni lantai dua—kosanku yang di Jogja, tiga tahun cukuplah memberiku pelajaran tentang pahitnya hidup di lantai dua.

Jika matahari panasnya sedang tak terperi, tinggal di lantai dua atau ruangan yang langsung berhadapan dengan atap asbes di atasnya seperti kue yang dipanggang di dalam oven, benak rasanya sudah setengah matang. Jika hujan menjadi-jadi, ada kemungkinan atap bocor karena kesalahan konstruksi atau salah perhitungan daya tampung talang. Dan jika terjadi gempa bumi maka orang di lantai dua lah yang paling repot menyelamatkan diri. Maka kuberitahukan kepada kalian, agar lebih cermat memilih kosan. Aku sudah mengalami semua itu, tiga tahun.

Masih sama seperti dulu, jauh sebelum aku merantau ke pulau Jawa. Aku orang yang jarang bosan meski setiap hari selalu melakukan rutinitas yang sama. Pagi berangkat sekolah, pulangnya makan dan nonton tipi, begitu setiap harinya, bedanya cuma hari minggu: nyuci pakaian. Mungkin orang sepertiku cocok menjadi guru sejarah, yang tiap tahun ajaran baru selalu mengajarkan hal yang sama seperti tahun sebelumnya, tanggal berapa hari kebangkitan nasional, di mana diadakan konferensi meja bundar dan detik-detik burung garuda wafat—tak kan pernah berubah, itulah uniknya sejarah.

Tapi akhir-akhir ini aku lebih banyak merenung, di kamar 2,5x3 meter ini aku berfikir keras mencari jadi diriku, aku mulai sadar setelah membaca “Sang Pemimpi” milik mas Andrea Hirata, itu lho, pengarang tetralogi Laskar Pelangi. Aku sadar kalo selama ini aku tidak pernah berani bermimpi, hidup tanpa rencana dan tak punya cita-cita. Aku bagai kapal dengan layar terkembang di tengah samudera luas—tanpa nakhoda, terombang ambing kesana kemari. Hanya mengikuti kemana angin berhembus. Untung saja selama ini Tuhan selalu membuat angin itu berhembus.

Memang, nasib itu Tuhan yang menentukan, tapi manusia harus tetap punya rencana. Tuhan tak akan merubah diri kita kalo kita sendiri tidak berusaha ingin berubah. Tak ada yang ajaib. Orang yang bangun tidur mendapati dirinya sudah bergelimang duit, memancing di rawa angker menemukan botol jin yang dapat mengabulkan semua permintaan, atau sedang asik berjalan ketiban durian runtuh, itu hanya ada dicerita dongeng. Hidup tak ada yang instant, semua butuh usaha dan proses. Mie instant saja perlu di rebus atau digoreng dulu agar enak dimakan.

Mas Andrea juga bilang: “Bermimpilah, sebab Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”. Kurang apa lagi aku, pinter udah, ganteng apalagi, berkecukupan Alhamdulillah, tapi mengapa masih tak sanggup bermimpi. Mimpi melihat harimau makan buah lengkeng yang dijatuhkan sengaja oleh lutung untuk melemparnya, mimpi motorku ditabrak tukang es dan pagi-pagi aku berusaha mengingat nomor plat motorku empat digit untuk pasang togel, atau mimpi pulang kampus hujan-hujanan berduaan dengan si dia dan paginya kudapati celanaku basah, bukan mimpi seperti itu yang kumaksud. Mengerti dong.

Pernah waktu kecil dulu—saat masih SD, Ibuguru menanyai kami satu persatu masalah cita-cita. Ada yang mau jadi Dokter—umum, ada yang mau jadi Polisi—biasa, ada yang mau jadi Pilot—luar biasa, sedangkan aku mau jadi Arsitek. Meski waktu itu aku tak mengerti pekerjaan semacam apakah Arsitek itu karena aku tak mau sama dengan yang lain dan agar kelihatan lebih moderen. Dan Tuhan pun menghembuskan anginnya ke arah sana tapi agak melenceng. Nanti aku ceritakan perihal melencengnya itu. Positif thinking aja sama Tuhan. Sekarang aku baru mulai untuk bermimpi, mimpiku ialah mempunyai cita-cita.

Cobaan

DI SMK aku punya gank, gank dalam artikata: teman akrab. Nama gank kami terinsinspirasi dari nama seekor anjing yang legendaris, anjing milik Sangkuriang dalam legenda Tangkuban Perahu: Tumang. Anjing itu mati secara tragis dibunuh oleh Sangkuriang. Dan ternyata, anjing itu adalah bapaknya sangkuriang sendiri. Bener gak seperti itu ceritanya? Terlepas dari bener atau tidaknya legenda tadi, jadilah kami: Gank Tumank. Simpel dan penuh makna.

Gank yang tak disegani oleh siapapun ini mempunyai lima orang anggota: aku, Fadli, Fariz, Adit dan Dodi. Tak ada ketua gank diantara kami, semua anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Tak ada juga penerimaan anggota baru, lima orang saja sudah cukup. Uniknya, setiap pagi awal masuk kelas, ketika bertemu dengan salah satu anggota gank, kami akan menyalak, auukk…auukk.

Aku ceritakan satu persatu tentang teman-temanku itu.

Fadli: anak orang kaya namun keliahatan selalu kere. Bapaknya seorang penjabat di perusahaan kontraktor bangunan. Meskipun di rumah ia punya mobil kijang butut dan beberapa sepedamotor namun dia berangkat ke sekolah tetap saja dengan motor yang paling jelek diantara motor-motor yang ia miliki: Astrea keluaran tahun 80an warisan kakeknya. Terakhir motornya di cat airbrush dengan motif tengkorak-tengkorak di kap depannya, dia pikir akan membuat motornya kelihatan gagah. Bila keluarganya pulang kampung saat lebaran, Fadli lah yang selalu mendapat tugas menjaga rumah sendirian, bukan abangnya. Padahal dia juga punya abang laki-laki dan dua orang adik perempuan. Aku curiga kalo Fadli bukan anak kandung keluarga itu.

Fariz: anak sulung daritiga bersaudara, tapi tingkahlakunya tak sesulung umurnya. Setua itu dia masih minta berpegangan kalo menyeberang jalan, tak sanggup kalo disuruh sendirian. Awal masuk sekolah dia disapa Endo, nama lengkapnya Endo Farizca, nama belakangnya seperti nama cewek. Belakangan setelah naik ke kelas tiga, dia minta dipanggil Fariz, biar lebih dewasa menurutnya.

Sedangkan Adit: anak dua-duanya di keluarganya. Sungguh orangtuanya sangat patuh pada kebijakan keluarga berencana. Adit orang Jawa satu-satunya di anggota gank kami. Badannya yang kurus dan jidat yang lebar, sering kami ejek sebagai ikan louhan. Itu lho, ikan cantik yang mahal harganya dan egois. Dan mungkin ikan sejenis itu santapan makan siangnya presiden.

T. Dodi Saputra, badannya yang gemuk dan pendek jelas kelihatan jika berjalan dengan anggota gank lainnya yang pada kurus. Dodi kelihatan paling makmur. Padahal kedua ortunya gak ada yang gemuk, entah dia ini keturunan siapa. Huruf T di awal namanya singkatan dari Tengku, gelar dari keturunan darah biru. Dodi cukup membuat gank kami menjadi aman dari pengacau, karena bodinya yang gendut itu cukup membuat lawan berpikir dua kali, padahal ya, kuberi tau kalian yang sebenarnya kalo Dodi itu bermental kerupuk.

Aku sendiri: Abel, sang ketua kelas, sang juara kelas, tukang carmuk di depan guru, dan anak kesayangan guru. Itu saja.

Sebelum ujian akhir sekolah di SMK Pekanbaru di mulai, teman-temanku seangkatan sudah pada sibuk merencanakan ke mana setelah tamat nanti. Adit, Dodi dan Fariz mau melanjutkan kuliah di Universitas Riau (UNRI), Fadli mau kerja ikut omnya, dan aku gak tau mau kemana. Aku hidup tanpa rencana.

Karena juara kelas dan anak kesayangan guru tadi, aku diberi tau oleh guruku mengenai undangan dari universitas terkenal di Jogja, Universitas Gadjah Mada. Aku disuruh mengikuti pendaftarannya. Dengan bermodalkan nilai semester yang selalu stabil, aku diterima di universitas itu. Hanya ini yang membedakan aku dengan teman yang lainnya, mungkin ini ganjaran dari prestasiku selama ini. Tuhan tak mau menyamakan aku dengan teman yang lainnya.

·

Tas pinggang berisikan spidol warna-warni dan sebuah kamera film, aku berangkat ke sekolah dengan percaya diri. Hari ini hari pengumuman kelulusan sekolah, hari yang mendebarkan bagi kebanyakan orang, aku tak termasuk kebanyakan orang.

Kami di kumpulkan di lapangan basket sekolah. Hari itu kulihat wajah-wajah orang-orang penuh ketegangan, sekali lagi, aku bukan orang-orang itu. Aku asik mengobrol dengan Adit yang duduk di sebelahku—di lapangan basket saat pak Sahril—kepala sekolah kami, tengah sibuk berpidato. Bagi yang lulus ya bersyukur dan bagi yang belum lulus bersabar, begitu kurang lebih pidatonya.

“Dit, habis ini kita mau kemana?” aku menggoda Adit sambil memperlihatkan kamera film yang kubawa, Adit mengerti maksudku.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, pengumuman kelulusan sekarang lebih elit. Kami dibagikan amplop yang berisi pengumuman kelulusan satu persatu, pengumumannya tidak di pajang di papan informasi. Setelah dibagi satu persatu, baru kemudian harus dibuka secara bersamaan, di situ puncak ketegangannya. Dan aku gak mau buru-buru membuka isi amplopku, aku mau menyaksikan teman-temanku dulu.

Satu persatu kulihat keceriaan dari teman-temanku saat mengetahui isi amplopnya. Bermacam-macam ekspresinya. Fariz, Adit dan Dodi senang bukan main karena mereka lulus. Sementara Fadli biasa saja. Mereka rata-rata pada lulus. Inilah saatnya, aku membuka amplopku dan segera kuketahui bahwa untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, kira-kira begitu—aku tidak lulus. Aku berserakan, rencana untuk corat-coret baju dan berfoto ceria bersama teman-teman sirna seketika. Hatiku hancur bertubi-tubi duakali lipat tak tergambarkan dan tambah miris ketika melihat wali kelasku menangis.

Akupun pergi meninggalkan sekolahku. Aku seakan tak percaya pada apa yang baru saja menimpaku. Aku masih berharap ini mimpi. Sebentar lagi pihak sekolah akan menelponku untuk mengabarkan kalo mereka salah ketik surat kelulusan, mereka hanya membuat kejutan untukku, kejutan untuk seorang juara kelas. Tapi, tangisan wali kelasku tadi jelas bukan rekayasa. Mereka bukan bintang film.

Aku merasa dikhianati. Teman-teman yang dulu akrab denganku di sekolah, tak ada yang mempedulikanku. Mereka sibuk berpesta pora merayakan kelulusannya. Bermotor ria keliling kota dengan baju yang bercorat-coret. Habis manis sepah dibuang. Seperti kacang lupa kulitnya. Saat aku lagi tinggi, semua memujaku, saat aku jatuh, tak ada yang mengacuhkan. Inilah hidup.

Aku segera menyadari kesalahanku, kesalahan terbesar dalam hidupku. Mungkin selama ini aku teralu sombong. Aku berlebihan percaya diri. Aku telah mendahului takdirku.

Jangan Menyerah

SIANG INI aku dan teman-teman datang ke-kampus lebih awal dari biasanya. Kami menggerogoti gazebo di bawah pohon beringin—di depan kelas. Akar-akar panjang yang menggantung di pohon itu menandakan usianya yang sudah tua—setua kampus ini. Cuaca agak sedikit mendung. Sekarang sedang musim hujan. Andri, Aris, dan Ferdi tengah sibuk mengerjakan tugas besar statik. Sementara aku membaca buku tak jelas.

Ada sesuatu yang bergetar di atas pahaku, kupikir gempa lagi. Akhir-akhir ini bumi lagi hobi gempa. Kemarin kukira kursi kamarku yang goyang, nyatanya gempa di Pangandaran terasa sampai Depok. Telepon genggam-ku bergetar. Sebuah panggilan dari nomor yang tak kukenal. Nomor telepon rumah dengan kode wilayah Jakarta. Penelpon gelap pikirku.

Aku suntuk dari pagi sampai siang di kosan melulu. Selain membaca buku, mencuci pakaian dan tidur, tak banyak yang bisa kulakukan. Aku mau cari kerjaan saja. Kerjaan part-time. Tak peduli kerja apa, yang penting halal. Koran dan internet sudah aku telusuri. Semua perusahaan yang berhubungan dengan profesiku sudah aku kirimi surat lamaran.

Ternyata dugaanku benar. Telepon yang kuterima dari sebuah perusahaan yang tempo hari kukirimi lamaran. Aku tak beranjak dari gazebo saat menerima telpon itu. Di antara keberisikan dan daun-daun beringin yang berjatuhan, kukeluarkan buku dan pulpenku. Jl. Pejaten Raya No. 51A, Pasarminggu, Jaksel. Nama perusahaannya PT. Rekamatra, kalo ku gak salah dengar. Kusalin sudah suara dari telpon itu. Besok siang aku disuruh ke sana untuk wawancara.

Aku nervous. Ini pengalaman pertamaku wawancara kerja. Apa yang harus aku lakukan. Waktu tersisa duapuluh jam lagi. Mengapa begitu mendadak seperti hujan lebat turun tanpa mendung sebelumnya. Jangankan persiapan untuk wawancara kerja, alamatnya saja aku gak begitu familiar. Aku belum pernah berkelana sendirian di Jakarta.

Malam ini, empat jam setelah panggilan telepon itu. Aku berangkat ke kampus dengan membawa laptopku. Di kampusku ada hotspot internet. Mencari kepastian perusahaan yang menelponku tadi melalui email yang kukirim. Aku harus memastikan bahwa aku tidak salah alamat. Belakangan karena frustasi, aku telah banyak sembarang kirim lamaran ke berbagai perusahaan. Saking banyaknya, aku gak tau lagi perusahaan mana saja.

Memang, dari sekian banyak surat lamaran yang aku kirim, hanya dua yang mendapat tanggapan. Salahsatunya PT. Rekamatra itu. Tapi di situ—pihak perusahaannya, menanyakan tentang salary yang aku inginkan dan mengenai studiku yang sekarang masih berjalan. Aku sudah reply, tapi tak ada respon lagi setelah itu. Apa mungkin benar Rekamatra yang menelpon aku siang tadi?. Aku search di Google mengenai Rekamatra, aku tak menemukan apa yang kuinginkan. Positif thinking aja lah. Mau gak mau aku harus datang besok jam dua siang. Biar semua jelas. Yang pasti, malam ini aku gak tenang.

Akhirnya, ku ngantuk juga. Setelah membaca sedikit bab penting dari buku Job Interview yang sempat aku beli di Jogja. Bab penting itu sudah pernah aku baca. Tak kusangka, besok, tepat jam dua siang, bab penting itu akan terealisasikan: Bab 6 “Wawancara Kerja”.

Aku bangun pagi masih dalam keadaan ngantuk berat. Semalam nyawa baru hilang sekitar jam satu dinihari setelah membayangkan kemungkinan yang akan terjadi hari ini. Setelah sholat subuh, biasanya aku tidur lagi sampai tengah hari. Tapi kali ini tidak. Aku takut kebablasan tidur sampai sore, hari ini hari pertamaku wawancara kerja. Pisang takkan berbuah dua kali begitu juga pohon jengkol ditepi danau UI. Dan hidup hanya sekali.

Kusiapkan pakaian terbaikku: celana abu-abu bukan jeans merk Gabrielle andalanku dan kemeja gelap bermotif garis-garis. Tiba-tiba telepon genggamku berbunyi lagi, aku dag dig dug saat melirik lcd hapeku, eh ternyata temanku dari Jogja yang menelpon: Andi. Andi teman satu kosanku waktu di Jogja. Aku sangat akrab dengannya, bahkan sudah seperti Tom & Jerry. Kuceritakan perihal panggilan wawancaraku, kebetulan Andi sudah pengalaman dengan wawancara kerja. Dia malang melintang di dunia pelamaran pekerjaan. Karena segudang ilmu dan pengalaman yang dia miliki, setiap lamaran yang dia kirim selalu mendapat respon yang baik. Bolak-balik Jakarta-Jogja hanya untuk wawancara kerja sudah sering ia lakukan. Namun selalu tak pernah ada kata sepakat mengenai salary. Salary: kata kunci terakhir. Aku pikir Andi terlalu tinggi mematok harga dirinya. Tapi wajar, juara tiga olimpiade matematika di Iran. Dia sering menyombongkan diri.

Mungkin Andi sengaja diutus Tuhan untuk menelponku. Kalo tidak diingatkannya, mungkin aku pergi wawancara dengan sepatu converse-ku, tidak dengan sepatu pantofel-ku. Sepatu yang hanya sekali ku pakai waktu wisuda dulu. Dan jelas ini kesan pertama yang harus meyakinkan.

Semua sudah lengkap. Setelan gaya eksekutif amatir lengkap dengan sepatu pantofel. Rambut yang biasanya acak-acakadul sengaja kurapikan dengan sedikit wax, dan tak pernah absen sepuluh jepret casablanca aqua. Masih jam sebelas lewat sedikit. Setelah sholat zhuhur, aku ke kampus lagi. Browsing peta Jakarta di internet. Ternyata tempat yang akan aku tuju dekat dari Pasarminggu. Yang aku tau dari Jakarta Selatan hanya Pasarminggunya. Aku sudah sering berkunjung kesana.

Jam duabelas pas aku berangkat. Tiba di Pasarminggu jam setengah satu.

“Ke Pejaten raya 51A, berapa ongkosnya?” sudah berada di atas ojek baru ditanyain, suatu kesalahan. Abang ojeknya tidak menjawab, dia masih ragu menetapkan tarif.

“Saya juga agak-agak lupa jalannya, gak begitu hafal nama jalan” jawab si abang ojek. Terjadilah berkeliling ria tak tentu arah.

“Oh ya bang, kayaknya di sini”. Aku menyetop perkelilingan tak tentu arah di depan sebuah sekolah tinggi: Next Academy, Pejaten Raya no.51. Aku teringat kata-kata Academy dari penelponku hari kemarin.

“Berapa, bang?” setelah turun baru kutanyakan lagi, kesalahan besar tentunya. Seandainya si abang bilang limapuluh ribu? Gimana? Tapi pake logika aja, ini gak begitu jauh.

“Terserahlah, mau bayar sepuluh ribu juga gak apa?” jawab si abang ojek. Kata “terserah” di depannya melambungkan aku ke langit dan seketika angka sepuluh ribu menghujamkan aku ke dasar bumi. Buset, perasaan Cuma muter-muter sini-sini saja dari tadi.

Tapi dimana rumah dengan no.51A. Pasti gak jauh dari sini. Dasar kota sembrawut, nomor rumah dipasang seenaknya, acak-acakan. Di samping no.51 kok ada no. 32, 20 dan sebagainya. Mustahil kutemukan no.51A kalo begini ceritanya. Aku mengutuki kota ini sendiri.

“PT. Rekamatra di mana, pak/bu?” setiap satpam, pedagang kaki lima atau orang yang kebetulan ketemu kutanyai. Tak ada yang tau. Seolah mereka juga baru dengar nama itu. Plakkkk, bodohnya aku. Aku memukul keningku sendiri dengan telapak tangan. Aku baru ingat. Mengapa tak kuhubungi aja nomor yang menelponku kemarin siang.

Tuutttt, tuutttt,…”Halo, PT. Rekamatra?”aku bertanya dengan ramahnya. “Bukan!” Tiiiiiiitttttttt……. Segera kututup teleponku. Memang gak sopan, dah salah sambung, gak minta maaf lagi. Gak mungkin aku salah sambung, ini nomor yang menghubungiku kemarin. Nomornya masih tersimpan di receive calls. Satu-satunya nomor asing yang menelponku kemarin. Mati aku, sudah jauh-jauh datang ke sini tapi alamat yang dituju gak jelas. Salahku, kemarin gak minta alamat sedetail-detailnya.

Tak ada salahnya aku coba ulangi lagi menelpon nomor yang tadi, sekedar memastikan. Tuutttt, tuutttt,…”Halo, apa benar ini PT. Rekamatra?” aku ragu-ragu. “Maaf, salah sambung. Mas yang tadi ya?” Tiiiiiiitttttttt……. Asem. Semua sudah terjawab, aku tertipu. Ku-setop angkot 36A jurusan Pasarminggu, aku pulang.

“Sial Hen, aku tak menemukan alamatnya, itu alamat fiktif”. Aku bagi kekesalanku pada Hendri yang tengah duduk di depan meja komputer kamarnya. “Aku sudah telepon juga, tapi nomornya salah sambung. Aku tertipu, Hen”. Aku sudah tau Hendri mau menanyakan itu, makanya ku jawab lebih dulu. “Kok bisa, Bel? hei hei. Gak mungkin menipu lah, lagian apa modusnya menipu kamu?” Hendri mencoba membesarkan hatiku. “Iya juga ya? Kok aku baru kepikiran. Apa gunanya mereka menipu aku?” keyakinanku yang telah pudar bangkit kembali. Gak mungkin mereka tau nomor telepon genggam-ku kalo aku gak kirim surat lamaran ke mereka.

Kusingkirkan dulu pikiranku dari masalah pekerjaan, kucoba fokus pada kuliahku. Aku capek berkelana seharian ini. Tapi aku tak kan menyesal. Ini pengalaman yang berharga bagiku. Satu hal yang dapat kupetik : mencari kerja itu gak mudah.

Aku kembali ke kamarku di lantai bawah. Aku capek dan ngantuk. Kulihat tangan kasur dan bantal sudah melambai-lambai, siap untuk memelukku. Dan tiba-tiba, Tuutttt, tuutttt,…telpon genggamku berbunyi lagi dari nomor yang menghubungi aku tadi siang.

“Halo, bener ini Afret Nobel?” Pertanyaan yang sama seperti kemarin, suaranya persis seperti orang yang menelponku kemarin.

“Ya, Pak, bener” jawabku singkat. Aku gak sabar ingin mendengarkan kata-kata si penelpon itu selanjutnya.

“Besok siang bisa datang ke kantor, sekitar jam dua!” Pertanyaan itu sama seperti kemarin, persis sekali. Tapi gak mungkin, kenapa dia menelponku seperti seolah-olah belum terjadi apa-apa sebelumnya. Kalo memang ini dari perusahaan yang kemarin, pasti pertanyaannya beda. Pasti dia menanyakan perihal ketidak-datanganku hari ini.

“Ya, bisa, Pak.” Kali ini aku lebih waspada. Aku sudah siaga dengan buku dan pulpen di tanganku.

“Catat alamatnya! PT. Methapora, Pejaten Raya 51A, Pasarminggu”

Aku tersenyum kecil mendengar kata-kata si penelpon itu. Terjawab sudah teka-teki itu. Pantesan setiap orang yang kutanyai tidak mengetahui nama yang kutanyakan. Ternyata aku salah catat nama perusahaannya. Akupun balik bertanya. “Ini yang deket Next Academy itu ya, Pak?” Aku ingin memastikan.

“Iya, Betul sekali”

Benar dugaanku, aku salah catat nama perusahaannya. Kesalahan fatal. Catat itu.

“Bisa minta alamat detailnya, Pak! Soalnya tadi siang saya sudah ke sana, tapi tidak menemukan lokasi perusahaan bapak, saya sudah tanya-tanya kesemua orang yang saya temui, gak ada yang tau”.

“Masa sih, Anda tanya sama siapa? emang apa yang Anda tanyakan?”

“Satpam tua yang di depan Next Academy, pak.” Aku jawab singkat saja, dan pertanyaan yang kedua sengaja tak kujawab karena memang aku yang salah tanya.

“Keterlaluan sekali bapak itu gak tau.” Bapak si penelpon menyalahkan pak satpam itu. Aku jadi merasa bersalah. Kasian Bapak satpam tidak tahu apa-apa.

Hari ini hari Jum’at. Nanti jam sepuluh, aku dan teman-teman janjian main futsal di lapangan UI. Sialnya, setiba di lapangan, yang datang hanya enam orang. Gak apalah, sudah jauh-jauh datang mending main saja seadanya. Panasnya Depok siang itu membuat kami cepat lelah. Permainanpun selesai dalam waktu singkat.

Aku sudah menimbang-nimbang sebelumnya, aku akan berangkat mencari kantor itu sehabis sholat jum’at. Satu setengah jam perjalanan cukuplah.

Selepas sholat jum’at dan makan di warung nasi padang langganan. Aku berangkat menuju halte UI. Dari halte, aku naik angkot warna cokelat jurusan Pasarminggu, angkot 40A. Setibanya di pasarminggu, aku memberanikan naik angkot menuju pejaten. Gak naik ojek lagi, uangku pas-pasan.

“Angkot menuju Pejaten nomor berapa, Pak?” Aku bertanya pada seorang bapak petugas pengatur lalulintas Dishub, orang yang kuanggap bisa dipercaya.

“Naik aja M17!, ini angkotnya” beliau menjawab sambil menyetop angkot yang dia maksud.

“Terimakasih, Pak.” Pak Dishub gak peduli, dia sibuk mengatur lalulintas.

Sepanjang jalan mataku selalu awas, melirik kanan-kiri. Sedikit banyak aku sudah hafal jalan yang aku telusuri hari kemarin. Aku harus berhenti di Next Academy. Sesuai petunjuk dari bapak yang menelponku kemarin malam.

Angkot menelusuri jalan kolektor sempit, jalan Pejaten raya. Aku semakin waspada. Kanan-kiri aku amati. Jalan ini persis yang aku lalui kemarin. Hanya, pas dipertigaan itu angkot belok kiri, seharusnya lurus. Ya sudahlah, kuitkuti saja permainan si abang angkot ini. Ternyata diluar rencana, aku tersesat jauh sampai ke Jagakarsa, sangat bertolak belakang dengan jalur yang seharusnya kutuju. Sial.

Satu demi satu terungkap kecerobohanku. Mulai dari salah nama perusahaan, naik ojek sepuluh ribu jarak dekat, dan terakhir, yang ini, salah jurusan. Salahku juga kenapa gak bertanya dulu sama bapak angkotnya.

Aku terdampat di bawah jembatan tol Lenteng agung. Aku dirundung dilema. Sementara jam sudah menunjukkan pukul dua tigapuluh. Artinya aku telat menepati janji. Aku hampir putus asa. Kalo bukan karena motivasi dari Andrea Hirata, mungkin aku sudah naik angkot dan pulang ke kosan. Aku sudah sejauh ini. Aku gak mau semua berakhir dengan nihil. Setidaknya aku harus tau perusahaan yang menelponku itu. Setidaknya aku mencoba wawancara dulu walaupun sekiranya aku ditolak. Daripada seumur hidup aku menyesal.

Kubangun lagi semangatku, Bismillahirohmanirrohim…. Aku menyetop angkot menuju Pasarminggu lagi. Aku punya semangat baru. Aku mulai dari nol lagi. Aku melupakan semua kejadian yang membuatku hampir putus asa. Dan Alhamdulillah, aku sampai di tempat yang dimaksud dengan menaiki angkot no.36 dari Pasarminggu.

“Ternyata di sini tempatnya”. Aku bergumam sendiri dalam hati. Tempat ini tempat yang kemarin pernah aku lewati. Aku bertemu dengan bapak penelponku itu. Dan akupun menjelaskan mengenai ketidak hadiranku pada panggilan yang pertama.

“Owh, Rekamatra itu Cuma nama kami di email, perusahaan kami namanya PT. Methapora, jadi besok kamu datang lagi ke sini. Kamu mulai kerja besok.”

Akhirnya terjawab sudah perjuanganku dua hari ini. ^_^