03 September 2009

Berawal dari Donat

Sepulang dari kampus, aku memang tidak kemana-mana, hanya satu tujuanku: kos. Mail, teman sekampusku yang juga baru kukenal: anak asal Kudus, Jawatengah ini sudah berapa hari ini pulang bareng denganku dan lewat jalan yang sama, kami berbincang di perjalanan:

Ngekos deket mana, Bel?”

Di samping masjid Nurul Iman, Il, knapa?”

Aku penasaran e mau ke kosanmu” dengan logat jawanya yang lumayan kental

Owh, dengan senanghati kalo kamu mau berkunjung ke kosanku” Kata-katanya gak seperti ini, ini dilebih-lebihkan biar sedikit keren tapi gak dibilang lebai. Mail ikut denganku ke kosan. Di sebuah persimpangan:

Kalo kosanku di sana, lewat sini” dia menjelaskan sambil menunjuk ke arah jalan yang becabang ke kiri tempat dimana kosannya berada.

owh, ternyata kosan kita gak begitu jauhan, nanti aku sempatkan juga main ke tempatmu deh”

Setibanya di kosan… Kupesilakan dia masuk, kosanku di lantai dua. Kusuguhi sebuah donat yang ada di meja kamarku. Kami asik bercerita, tak ingat cerita apa, yang pasti masih seputar pekenalan. Saking asik cerita sampai kami tak ingat juga pada waktu.

Eh iya, sudah sore, aku pamit pulang, Bel!

Ya, besok aku juga mau lihat tempat kosanmu”

oke”

Selepas magrib berganti isya, seperti pada malam-malam sebelumnya, aku duduk sendirian di pagar balkon kos-kosan, hanya berteman sebatang rokok Malbor merah. Ini bukan kebiasaanku, aku tidak perokok, ini hanya pelarian dari kesendirianku. Rokok jadi temanku melewati malam saat itu dan dan beberapa malam berikutnya. Thanks buat rokok.

Sedangkan dengan teman-teman di kosan, aku juga belum kenal banyak, mereka ada juga yang kakak tingkatku di kampus. Mereka sibuk dengan tugas-tugasnya, sehingga aku tak enak hati untuk minta ditemani. Aku kesepian. Rokok habis, akupun berangkat tidur.

Hari setelahnya…

Tak lagi kudengar kokokan ayam seperti waktu di kampung, di sini gak ada ayam berkeliaran. Kumantapkan hati dan melangkah pergi ke kampus, hari ini aku harus punya kenalan baru lagi, aku harus punya banyak teman, aku gak mau sendirian terus tiap malam, kalo perlu, lelaki berbaju hitam dan bertopi hitam yang ketus itu juga aku jadikan teman kalo bener-bener terpaksa.

Gayungpun bersambut, aku dapat banyak teman hari itu. Tiga orang sekaligus yang masih satu spesies: orang Minang, setidaknya Satu pulau denganku. Ilham, Rifa, Hendri, masing-masing dari Padangpanjang, Padangpanjang dan Bukittinggi. Aku sih ngakunya dari Pekanbaru, padahal kelahiran Pangkalan, Sumatrabarat juga, sama seperti mereka. Belakangan kuketahui, Hendri juga ngaku-ngaku sebagai anak Sumatrabarat padahal sebenarnya dia anak Riau. Aku mengambil kesimpulan sendiri atas hal ini, mungkin Hendri begitu supaya bisa ngekos di Asrama Padang. Hahaha. Pis Hen.

Sekarang, aku gak kesepian lagi, sudah punya banyak teman. Ada yang temani waktu makan siang di kampus, makan malam di luar, belajar bareng, semakin hari semakin akrab. Kadang kalo lagi free, kami sempatin main band di kampus, kebetulan ada alat band yang bisa dipake gratis.

Tak bisa dihindari, lelaki berbaju hitam dan bertopi hitam itu. Akhirnya kukenal dengannya: Ikal—anak Pulau Buton, Sulawesitenggara. Orangnya ternyata memang begitu, terbiasa hidup di lingkungan yang keras membuatnya juga keras, seekor katak yang hidup berdampingan dengan buaya akan merasa dirinya seperti buaya. Sekarang katak itu, hidup dengan kebanyakan kupu-kupu, dia akan segera bermetamorfosa seiring dengan berjalannya waktu, walaupun sekarang masih tetap ulat.

Gak disangka, Ikal—sekarang jadi teman yang paling akrab denganku, meskipun pada awalnya dia memanfaatkan keadaan dengan mengambil keuntungan sehingga dia berteman denganku. Begini ceritanya:

Di Jogja, Ikal tidak ngekos, berbeda dengan anak-anak lainnya. Ikal tinggal di rumah tentenya bersama sepupu dan duapupunya. Jarak rumah dan kampus yang lumayan jauh membuat Ical kebingungan saat jam istirahat siang, sementara nanti ada kuliah lanjutan lagi. Gak efektif kalo waktu yang hanya sejam ini digunakan untuk bolak balik ke rumahnya, sedangkan kecepatan motor yang dibawanya maksimal 40 km/jam—motor pitung kuning tahun 70an. Itu berarti setengah dari jam istirahat akan dia habiskan di perjalanan bolak balik rumah dan kampus. Capek deh.

Dengan alasan lebih kurang begitu, dia berusaha mendekati teman yang punya kosan di dekat kampus, sehingga dia tidak perlu pulang ke rumahnya atau menunggu bosan di kampus yang sepi sampai jam kuliah dimulai lagi. Dia mencari tempat untuk istirahat. Nah, dia menjatuhkan pilihannya padaku, orang yang pernah di tak acuhkannya, diketusinnya. Sungguh aku harap kamu tarik lagi kata-katamu dulu dan baik-baik denganku dulu. Pesan: besikap baiklah dengan setiap orang, mungkin suatu saat kita membutuhkannya.

Sama seperti waktu Mail berkunjung ke kosan, aku suguhi dia donat juga, untung gak aku racuni, walaupun masih jengkel mengingat peristiwa yang lalu. Tapi sudahlah, aku memaafkan hal itu. Akan aku simpan di pojok terdalam di sudut hatiku. Biarlah aku dan Tuhan yang tau serta orang-orang yang membaca tulisan ini.

Hari pertama kedua dia datang, masih kuperlakukan sama. Kusuguhkan donat, dia ketagihan datang terus, mungkin saja karena donat mungkin saja tidak, aku gak boleh buruksangka. Hari berikutnya dia datang, dia bukan tamu lagi, dia penghuni gelap kos-kosanku. Mulai sekarang, harap donat dibeli sendiri.

Ikal menjadi temanku sehari-hari, sudah mendarahdaging. Dimana ada aku di sana ada Ikal. Setiap ada tugas kelompok dari kampus, kami selalu kerjakan bersama, menjadi team yang solid tak terkalahkan. Praktek Ilmu Ukur Tanah, Kerja Struktur Bangunan, Ilmu Pelaksanaan Bangunan, Kerja Teknik Fondasi, dan lainnya. Dia menjadi sahabat sekaligus partnerku menjalani kuliah yang “menyenangkan” ini.

Sekarang, dia sudah gak ada, hus, bukan Ikal—Donat, yang dulu setiap hari aku beli karena ada yang nganter ke kosan, si pengantar donat gak datang-datang lagi. Ini donat dijual atas dasar kepercayaan, yang mau beli harus ninggalin duitnya di kotak donat tersebut, mungkin saja ada yang cuma ngambil trus gak dibayar, mungkin Ikal. Donat yang menjadi awal persahabatanku dengan beberapa teman. Dia telah banyak berjasa. Sekiranya dia makhluk hidup, akan kujadikan sahabat juga dia. Tapi sudahlah. Sampai saat ini, setiap kali kami makan donat, pasti teringat lagi peristiwa-peristiwa itu.



1 komentar:

ichal mengatakan...

ha...
bro bukannya u yg suruh aq ambil aj donatnya,
kt mu orang nya g tw..!!itulah pertama kali aq jd pencuri.pencuri donat.hwakakakakak...