MULANYA biasa saja kita saling bercanda (seperti lantunan lagu lawas entah karangan siapa). Kelas satu SMP ku kenal dengannya. Dia beda. Dwi cewek tomboi. Kulitnya hitam manis dan rambut sebahu, dan itu tak penting bagiku. Hanya keramahannya yang membuat aku menyenanginya.
Namun tak berlangsung lama. Belum lagi sempat mengenalnya lebih jauh, Dwi pergi. Dia pindah sekolah dan aku gak tau dia pindah ke mana. Dia gak pamitan sedikitpun denganku. Iya juga, emang aku siapanya.
aku duduk sebangku dengan Rio martin, teman-teman biasa memanggilnya ciling, Tapi aku lebih suka memanggil dengan nama yang sebenarnya. Rio anak yang jahil. Dia sering menteror cewek-cewek di kelasku. Hobinya mengintip celana dalam cewek dengan modus menjatuhkan pulpen ke bawah meja.
Cewek-cewek di kelasku—kelas satu-tiga—banyak yang cakep-cakep. Ada Rika: cewek pendek rambut sebahu dan kulit putih. Desi: hampir sama cuma agak tinggi dan sedikit tomboi. Siska: cerewet dengan rambut ekor kuda. Silvia Leni dan Silvia Amrina: cewek cubby dan cantik. Tapi aku sama sekali tak tertarik sama mereka. Cinta butuh chemistry.
Aku punya tetangga, namanya Roza. Roza comblangin aku dengan temannya--Cintya. Dan aku langsung tertarik sama Cintya. Aku orangnya mudah tergoda, apalagi dia memang cantik. Kulitnya hitam manis dan rambutnya ikal seperti mie telur cap dua bulan. Kalau di dekatnya kita akan merasa lapar.
Cintya anak orang kaya, orangtuanya punya ruko dan bengkel motor. Aku sempat minder ketika pertama tau dia. Secara aku bukan siapa-siapa.
Aku dan Cintya sering bertukar surat cinta. Roza sendiri yang jadi perkutut posnya. Bertukar isi hati dan perasaan melalui tinta, jarang sekali bertemu muka (seperti lagu band negeri jiran: UK’S).
Karena kangenku yang sangat, kami memutuskan untuk janjian ketemu di depan kantor kepaladesa, tempat yang sebenarnya tak aman buat pacaran karena kantor kepaladesa ini letaknya dikelilingi rumah penduduk. Duduk berduaan di sana akan merasa diawasi ratusan ribu pasang mata dari balik kaca jendela rumah mereka. Tapi gak lah, mereka juga pernah muda.
Kalo lagu band Jamrud tigapuluh menit tanpa bicara, kami udah satusetengah jam diam-diam aja, cuma duduk bersebelahan dan gak berani saling memandang. Malam kencan pertama itu berlalu tanpa banyak kata. Aku belum berani ngomong, baru pertama ini duduk berduaan dengan makhluk Tuhan yang cantik ini.
Dia juga begitu, gak berani memulai pembicaraan, apa aku yang harus selalu mulai? Apa aku yang harus selalu tanya duluan? Gimana kabarnya? Dan seterusnya. Kan gak ada diperaturan, apa-apa harus cowok yang duluan. Jadi cewek agresif dikit dong! kalo kayak gini terus mau jadi apa negara ini. Akhirnya kami putuskan untuk komunikasi dengan telepati. Melalui sinyal yang kukirim padanya, dia setuju. Kami jadian.
Mama…. Anakmu sudah punya pacar, Ma. Aku sudah bisa pacaran, Ma. Meski masih minta uang dari ortu. Gak malu?
o
Malam minggu. Setelah memastikan ruang keluarga—tempat gagang telpon bersemayam dalam keadaan sepi. Aku mulai beraksi. Aku mau telepon kekasihku dulu, mau bikin janjian meeting.
Tiiit… tuuuttt…. Tiiit… tuuuttt….
“Halo, ini siapa?” suara seorang lelaki dewasa dari seberang sana menyambutku. Berarti itu Bapaknya. Segera kututup telponku. Dan kuhubungi lagi lima menit berikutnya. Tiiit… tuuuttt…. Tiiit… tuuuttt….
“Halo, siapa ya?” angin surga berhembus kencang, suara wanitaku di seberang sana menyapa lembut, syukurlah. Aku gak tau apa yang dia lakukan pada Bapaknya dalam lima menit terakhir. Mungkin bapaknya diikat kaki dan tangannya lalu diceburin ke sumur sehingga dia dengan leluasa menerima telponku. Aku tahu dia sudah ada di sekitar telepon menungguku.
“Sepuluh menit lagi tunggu aku di pertigaan, aku datang” Aku seperti orang ngajak berantem, gak ada mesra-mesranya. Kututup gagang telepon tanpa kata I love u, atau muah muah yang gak jelas itu.
Kami bertemu untuk malam mingguan ke dua kalinya setelah jadian. Aku mengajaknya makan bakso tak jauh dari rumahnya. Pacarannya? Ya gitu-gitu aja, gak ada yang beda sejak pertama bertemu dulu, masih diam terpaku saat ketemuan. Pacaran apaan? Harusnya kan….? Hehe. Inikah namanya pacaran, sesuatu yang membuat orang gugup bukan kepalang jika bertemu dengan pasangan?
Hubungan kami tak bertahan lama. Tanpa sebab yang jelas, dia mengirimku sepucuk surat pengunduran diri:
“Pacarku, aku rasa hubungan kita cukup sampai di sini, aku tau kamu duain aku, kamu punya pacar lagi kan?. Kamu gak usah jawab, aku sudah tahu semuanya. Yona kan?... Pesanku: berhentilah merokok, jaga kesehatanmu”
Seperti petir tunggal disiang bolong. Apa-apaan ini? Gak ada angin dan hujan, aku gak salah apa-apa kok diputusin. Pake sebut-sebut nama cewek lain lagi, Yona? Siapa itu Yona? Kenal aja gak. Aku pasti difitnah, atau memang dia cari-cari alasan saja untuk mutusin aku. Mungkin saja dia yang sudah punya pacar lagi. Atau dia baru merasa aku tak sebanding dengannya. Segala macam pertanyaan dan anggapan berterbangan di kamarku dan seketika dikacaukan adik perempuanku yang masuk kamar dengan membawa raket nyamuk.
Ya sudahlah kalo memang begitu maunya. Sesuai permintaannya, suratnya tak aku balas. Suatu saat dia pasti menyesal karena mengambil keputusan yang salah. Aku tak seperti yang dia duga. Semua surat darinya masih tersimpan rapi di laci lemari kamarku. Akan kubuang setelah aku dapat pacar baru.
o
Sejak surat malam minggu kedua kali itu, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Cintya seakan hilang ditelan bumi. Oh cintaku sesaat.
Episod baru: Aku punya teman akrab namanya Doni: tetangga sekaligus adik kelas di SMP. Doni bertubuh lebih kecil dari aku, rambutnya belah tengah tak sempurna, dan serinya pecah separuh karena jatuh tersungkur waktu main bola. Kemana-mana aku selalu dengannya. Main videogame, jalan-jalan ke pasar, main bola dan makan mie ayam. Susah senang suka duka kami lalui bersama, dia sudah kuanggap saudara sendiri.
Entah ini kebetulan atau memang jalan yang dibuat Tuhan untuk aku. Melalui Doni aku kenal dengan Yona—cewek yang dimaksudkan Cintya. Swear, aku baru kenal dengannya sekarang, kok Cintya bilang aku selingkuh dengannya. Dari mana? Jangan-jangan dia anak peramal. Karena kemarain aku melihat bola kristal dimatanya.
Yona memang cantik, rambutnya lurus panjang sepunggung, pipinya merah bak buah naga, bodinya seperti gitar Inggris. Secara keseluruhan seperti cewek penggoda.
Perkenalan itu hanya awalnya, seterusnya kami semakin dekat dan semakin dekat. Aku dan Doni sering pergi main atau sekedar jalan-jalan sore dengannya. Getaran itu terasa lagi, getaran yang telah lama hilang saat terakhir pacaran. Itu getaran perasaanku. Oh tidak, aku menyukainya, aku terpanah asmara. Seperti yang pernah aku bilang, aku mudah tergoda. Ternyata dari kemarin Dewa Amor mengikutiku terus. Entah kapan dia akan melepaskan busur panahnya.
Meskipun sama seperti waktu dengan Cintya, setiap ketemu jarang ngomong-ngomongan. Tapi kami sering ketemuan. Frekuensi ketemuan itulah yang menumbuhkan rasa sukaku padanya.
“Yona, kamu anak astronot ya?”
“Ah, gak. Kenapa emangnya?” dia bertanya keheranan.
“Aku melihat bintang-bintang di matamu. Maukah kamu jadi pacarku?”
Dia tersipu malu-malu, seperti kucing kepingin kawin. Tanpa banyak kata aku berhasil jadi pacarnya. Ini pertama kalinya aku nembak cewek langsung dengan kata-kata. Entah siapa yang ngajarin, aku lupa.
Aku sering grogi bila berada di dekatnya. Dia begitu indah (seperti lagu Padi). Jalan berdua dengan cewek secantik itu ternyata juga tidak nyaman. Aku merasa selalu diawasi. Aku minder kalo jalan dengannya.
Waktu itu dia maksa ngajak jalan-jalan ke kebun salak, tapi aku gak ada duit. Demi dirinya, aku bongkar celengan ayamku yang susah payah aku tabung dan ternyata isinya hanya limapuluh ribu. Dan uang itu habis hanya dalam sekali traktiran makan nasi goreng. Pengorbananku demi dia.
Dipenghujung masaku di SMP, saat ujian akhir nasioal: merupakan hari-hari yang tak menentu hubungan kami. Aku dan Yona sudah jarang berkomunikasi. Aku lebih harus fokus kepada ujianku. Bagiku masa depan lebih penting. Maafkan aku pacarku!.
Setelah lulus dari SMP dan aku melanjutkan sekolah ke luar kota, aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Kami anggap semuanya telah berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar