Di penghujung semester kesekiankalinya—liburan, aku memutuskan untuk pulangkampung. Dah kangen sama keluarga. Meskipun secara perjalanan dari Pekanbaru ke rumahku hanya tiga jam saja, tapi saat itu terasa jauh banget. Aku pulangkampung juga jika ada waktu libur yang cukup panjang, biasanya akhir semester sehabis ujian.
Di Ujungbatu, aku punya banyak teman. Gak seperti di Pekanbaru, sehabis pulang sekolah aku hanya mendekam di rumah tante menghabiskan waktu untuk sekedar menonton tipi atau otak-atik komputer, tapi semua itu tidak pernah membuat aku bosan.
Malam itu, ada acara nikahan. Tradisi disini, kalo ada yang nikahan, pasti malam harinya akan diadakan hiburan orgen, itu lho, alat musik yang sangat komplit dan bisa mengeluarkan berbagai macam musik yang mengiringi biduannya bernyanyi di panggung. Aku gak tau pasti tradisi ini sejak kapan, yang pasti makin tahun makin parah. Gak seperti dulu-dulu, sekarang artisnya berani tampil buka-bukaan. Ini jaman edan. Subhanallah.
Kembali ke malam itu, malam ini malam minggu, malam yang asik buat pacaran, malam panjang kata orang-orang. Aku pergi main dengan teman-temanku seperti biasa, pergi ke pusat keramaian, kemana lagi kalo bukan nonton acara orgen. Nonton hanya selingan saja, tujuan utama ialah mencari gebetan.
Adalah bang Feri, kok seperinya dia mengerti kalo sekarang aku sedang butuh pendamping hidup (halah), pacar maksudnya. Bang Feri mempertemukan aku dengan dia, orang yang sudah aku kenal juga. Tetangga depan rumah, adik temanku, teman sekolahku di SMP dulu juga. Ya, bener: Rasti.
Beng Feri kok tau juga kalo aku menaruh hati pada gadis yang satu ini, sungguh suatu kebetulan lagi, kenapa selalu begini, aku selalu diberi kemudahan. Terimakasih Tuhan. Tanpa pikir panjang lagi dan emang sudah suka samasuka, kamipun jadian.
Berhubung aku sekolah di kota lain dan dia di sini, maka kamipun menjalankan hubungan jarak jauh (LDR), hubungan yang hanya akan bertahan dengan dasar kepercayaan. Tak beda dengan cintamonyetku, aku dan Rasti juga sering berbalas surat. Namun tradisi itu lenyap seketika aku dan dia sudah punya hape (telepon genggam, ponsel atau mobilephone, susah amat jelasinnya).
Aku dan Rasti ketemu dalam frekuensi enambulanan, ialah saat libur semester doang. Itupun pas di Ujungbatu kami gak ketemu tiap hari juga, hanya malam minggu saja biasanya. Kami hanya menghabiskan malam berdua di sebuah lapangan bola yang kami namakan “Lapangan Cinta”. Gak bosan hanya sekedar mengobrol seputar kehidupan. Malam itu duapuluh dua Mei—ulangtahunnya. Aku memberinya sebuah boneka beruang gede warna putih, boneka itu aku beri nama Vallen.
Pacaran dengan Rasti tidak menyenangkan, kami backstreet selama ini. Aku sungkan sama abangnya dia yang juga temanku sepermainan. Tapi kakak perempuannya sangat mendukung hubungan kami. Tak jarang dia memfasilitasi pertemuan kami.
Tiga tahun sudah aku pacaran dengannya sampai saat ini, sekarang aku akan benar-benar jauh, bukan hanya jarak tiga jam perjalanan dari Pekanbaru-Ujungbatu, aku diterima di sebuah perguruantinggi di Jogja. Aku harus pergi jauh demi cita-cita, meninggalkan dirinya. Jogja-Ujungbatu, sebuah tantangan baru yang lebih berat tentunya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar