12 Agustus 2009

Antara

Setahun berjalan sangat cepat… gak kerasa sekarang sudah giliran aku yang sekolah TK. Aku sekolah di TK Barunawati, tempat yang tak asing bagiku, sekolah Uni yang dulu. Hari-hari pertama sekolah. Tugas Mama bertambah, setelah mengantarku ke sekolah, beliau juga mengantar Uni.

Entah karena demam panggung atau kebodohanku (belakangan aku tahu aku bukan anak yang bodoh), aku tak pernah menyelesaikan sekolah sampai jam pulang. Aku minggat dari sekolah ditengah-tengah anak-anak lain asik bermain pada jam istirahat, bu guru tidak tahu. Biasanya aku lebih dulu tiba di rumah sebelum Mama datang dari pasar. Mama Cuma bisa berdecak kagum melihat tingkahku.

Aku Cuma bertahan satu minggu sekolah di sana. Bukan karena di drop out atau sebagainya. keluargaku pindah ke Ujungbatu.

o

Ujungbatu, sebuah kotakecil di provinsi yang sama, Nenekku—Ibunya mama, tinggal di sana. Kakek (aku memanggilnya Datuk) sedang sakit. Mama sebagai anak tertua dikeluarga diminta pulang untuk mendampingi Nenek. Gak lama setelah kami sekeluarga pindah ke Ujungbatu, Datuk wafat.

Aku gak begitu ingat saat-saat bersama Datuk, karena lama merantau dengan orangtua. Ketemu datuk saat aku masih terlalu kecil. Datuk pernah mengajakku main kapal-kapalan dari kotak sabun dengan sungainya sebuah baskom besar yang diisi air. Mungkin Datuk mengajarkan aku menjadi sepertinya. Datuk adalah seorang sopir Boat. Rumah nenek di pinggir sungai, saat itu penduduk di bagian hulu masih mengandalkan transportasi air untuk berdagang atau membeli keperluan sebulan-bulan di Ujungbatu.

Satu lagi yang kuingat dari cerita Mama, detik-detik menjelang Datuk di timbun di pemakaman, “Ma, kok Datuk ditaruh di tanah, ntar bajunya kotor?” kata-kata terakhir untuk Datuk terdengar sangat menyedihkan buat Mama.

Setelah kepergian Datuk, kami menetap di Ujungbatu. Keluargaku tinggal di rumah kontrakan, bersebelahan dengan rumah nenek. Rumah papan gaya arsitektur kuno dengan loteng yang tinggi, sengaja dibuat untuk menyelamatkan barang-barang kalo sedang musim banjir. Rumah Mama ada dapurnya, tapi gak pernah digunakan untuk memasak, Nenek saat itu masih punya kedai nasi.

Aku masuk sekolah TK lagi, melanjutkan sekolahku yang sempat terputus sebentar. Kali ini, aku gak seperti dulu, gak pernah melarikan diri saat jam istirahat, kebetulan jarak rumah dengan sekolah lumayan jauh. Pergi dan pulang sekolah, aku dan teman-teman diantar oleh pak Ogut, sopir becak dayung.

Bu Mis nama guruku, diajarkannya kami banyak hal, mulai dari membiasakan mencuci tangan sebelum makan, baris berbaris, manggambar, menyanyi dan sebagainya. Di sekolah yang baru ini aku punya banyak teman. Ada Syam, Anang, Desi, Hesti, Dian dan lainnya. Terlalu banyak kisah yang aku lupa.

Pertemanan kami terpisahkan seiring dengan karnaval sekolah, acara perpisahan sekolah selalu dirayakan. Yaitu pawai keliling kota menggunakan pakaian adat macam-macam daerah. Aku mengenakkan pakaian adat Aceh: baju dan celana licin berwarna hitam kemilau, dengan rencong diselipkan di ikat pinggang tebalnya dan topi kerucut berenda. Teman-teman itu tak kutemui lagi setelah aku tamat di TK itu, TK Melati.

Tidak ada komentar: