UDARA pagi masih begitu sejuk, tetes embun masih menggantung di ujung dedaunan pohon bambu yang tumbuh ditepi sungai depan rumah keluarga besarku. Rumah ini terletak dipinggir sungai. Sungai yang besar dan berbatu-batu mulai dari sebesar biji salak sampai sebesar mobil sedan. Jika sedang musim kemarau, batu-batu itu akan muncul kepermukaan seolah menjadi pulau-pulau kecil yang indah yang dibisa dijadikan jembatan alam untuk menyeberang. Jika musim penghujan datang, sering sungainya meluap, kadang sampai menenggelamkan rumah sampai atap-atapnya.
Rumah keluarga besarku biasa saja—berlantai dua. Lantai bawah terdiri dari lima kamar. Empat kamar utama dan satu kamar tempat menyimpan perkakas. Keempat kamar itu saling tepisah mengelilingi ruang keluarga dan kamar perkakas terletak di bagian belakang di dekat dapur. Sementara lantai dua merupakan gudang dan sangat bermanfaat ketika banjir.
Nenek pernah bercerita: Dulu, waktu Mama masih kecil, rumah keluarga besarku gak seperti sekarang. Dulu rumah ini masih berupa rumah panggung kayu seperti rumah panggung orang Minang pada umumnya. Hanya bagian tangga pintu masuk depan yang di perkeras dengan batu dan semen, selebihnya kayu. Ruang utama rumah sengaja dibuat besar dan memanjang. Jendela besar dua daun di kiri dan kanannya. Langit-langit rumah ditutupi dengan kain warna-warni. Di bagian bawah rumah, anak-anak, kucing, ayam, bebek dan kadang-kadang ular, semuanya mengklaim daerah masing-masing. Undur-undur tak ambil pusing ketika sekawanan ayam mengurai pasir halus di bawah tiang rumah. Bahkan ayampun tak peduli anak-anaknya di incar ular lapar.
Apakah kalian tahu salah satu alasan mengapa peradaban banyak terjadi di pinggir sungai. Sebagai contoh: Peradaban lembah sungai Nil dan Peradaban sungai Eufrat dan Tigris tak lain adalah karena masalah MCK. Tak disangka sebuah peradaban muncul dari masalah yang menurut orang masalah remeh. Rumah ini tidak memiliki kamar mandi seperti sekarang. Semua ritual yang berhubungan dengan MCK dilakukan di sungai depan rumah. Back to nature. Dan terjadilah keseimbangan serta siklus alam. Manusia makan ikan, manusia ee, ikan makan ee. Begitu seterusnya.
Sekarang, di depan rumah keluarga besarku ada sebuah surau lama yang sudah tak dipergunakan lagi—kosong dan tak terurus. Surau itu menjadi saksi bisu sejarah keluarga besarku. Di kanan dan kiri rumah banyak rumah yang ditinggal kosong penghuninya. Entah apa alasan mereka meninggalkan rumah-rumah yang masih bagus itu.
Nama kampung itu Pangkalan. Letaknya di propinsi Sumatera-barat, yakni kabupaten limapuluh kota. Sekitar seratus delapan puluh kilometer dari Bukit-tinggi. Merupakan pintu masuk kendaraan yang datang dari Pekanbaru, Riau menuju Sumatra barat. Tepatnya Pangkalan terletak di batas propinsi.
Pemandangannya yang indah khas Sumaterabarat, udaranya yang sejuk indikasi kaya oksigen. Sekeliling mata memandang hanya terlihat sawah dan hamparan bukit yang saling berpelukan. Jika berada di sini, kita akan merasa seperti seekor kecebong di dalam sebuah mangkok kecil bermotif dedaunan, yang terlihat hanya keindahan.
Secara umum, kampungku ini tanahnya subur. Sawah-sawah membentang luas di kiri kanan jalan. Sawah-sawah yang sudah ditinggal pergi penghuninya. Tak ada yang mengurusi. Hanya sebagai tempat kerbau dan burung bangau mencari nafkah. Begitu tingginya gengsi orang sekarang, menjadi petanipun tak mau. Lebih memilih nongkrong-nongkrong di kedai kopi.
Aku orang minang. Papa dan Mama orang minang. Kakek dan Nenek dari pihak kedua orangtuaku juga orang Minang. Mungkin kalau ditelusuri terus sampai ke atas bisa jadi aku keturunan Iskandar yang agung (alexander the great).
Kampungku hanya ramai pada hari-hari tertentu. Awal memasuki bulan puasa, lebaran idul fitri, lebaran haji, dan jika ada acara kenduri. Selebihnya sepi. Hanya di isi jejeran truk fuso pengangkut semen padang.
Pada awal masuk bulan puasa, sering diadakan acara adat mandi bersama di sungai, namanya: mandi Balimau. Acara tahunan dalam rangka menyambut bulan puasa. Tua muda, miskin kaya, ganteng jelek semua ambil bagian. Pada acara mandi Balimau ini sering diadakan perlombaan kapal hias, pacu sampan, juga baca Alqur’an. Hadiahnya juga tidak tanggung-tanggung: mobil truk enam ban merek Mitsubishi Fuso yang disponsori oleh pabrik Semen dari kota Padang.
Bukan orang minang namanya kalau tidak suka merantau. Aku mencoba berasumsi: Keberhasilan kakek buyut kami: Malin Kundang dalam perantahuan—telah menginspirasi kebanyakan orang minang untuk merantau juga. Tapi keluargaku bukan dari garis keturunan kakek buyut Malin Kundang. Setahuku beliau tidak punya anak, kalaupun ada mungkin sudah keropos di hantam ombak di pantai Airmanis. Aku bukan keturunan anak durhaka.
Mata pencarian kebanyakan penduduk di kampungku adalah sopir. Ya, sopir truk semen enam ban merk Mitsubishi Fuso tadi. Mereka mendistribusikan semen dari Padang ke tempat lain. Tradisi menyopir sudah mendarah daging di kampung kami. Bukan orang Pangkalan namanya kalau gak bisa nyopir. Papaku sopir yang handal. Sopir bus antar provinsi. Omku juga sopir. Tetanggaku sopir. Sopir: sebuah pekerjaan berat dan mulia. Setiap yang dilakukannya pasti berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Sopir bus penumpang: mengangkut penumpang orang banyak dan mengantarnya ke tempat tujuan. Sopir truk sembako: mengangkut sembako untuk kebutuhan hidup orang banyak. Sopir adalah cikal bakal Pilot, Nakhoda, dan Masinis.
Pangkalan adalah tempatku dilahirkan, tapi tidak dibesarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar