Berawal dari sebuah keluarga yang sederhana dan Alhamdulillah berkecukupan. Papa seorang wiraswasta dan sudah beberapa kali ganti kail. Penghasilan Papa sebagai wiraswastawan lumayan untuk menghidupi kami sekeluarga. Papa dulu yang tidak pernah menginjak-injak nikmatnya bangku sekolahan. Ayahnya Papa: Kakekku—sudah tiada sejak papa masih kecil, begitu dari cerita yang kudengar. Ibunya yang seorangtua itu harus bekerja keras sendiri menghidupi Papa dan tiga orang saudaranya. Papa anak bungsu dikeluarga itu. Nenek: seorang petani yang menggarap sawah sendiri untuk menghidupi anak-anaknya. Pantesan Papa gak sekolah dulu, buat makan aja kayaknya susah. Kasihan anak sekecil itu. Papa tanpa pendidikan formal. Tapi Papa tetap cerdas, hidup yang mengajarkan dia seperti itu.
Papa merupakan teladan bagiku. Dia bisa menjadi besar dan Alhamdulillah sukses seperti sekarang berkat kerja kerasnya dan kasihan dari Tuhan. Ini gak bisa disebut nasib baik sepenuhnya, karena gak mungkin nasib berubah tanpa usaha. ”Allah tidak akan mengubah nasib seseorang kalo orang tsb sendiri tidak berusaha merubahnya”. Sekarang mempunyai rumah sendiri, mobil, kedai harian, dan beberapa kapling kebun sawit dan karet sebelumnya tidak terbayangkan oleh Papa. Papa memulainya semua dari nol: sebuah angka yang tanpa sudut. Aku salut sama Papa—seorang yang tanpa pendidikan formal, sekarang bisa seperti ini.
Mempunyai 5 orang anak, dua lelaki dan tiga perempuan, salah satu lelaki itu: aku—anak ke-dua. Aku merasa bersyukur punya orangtua seperti mereka. Kakakku: Uni—sekarang tengah menyelesaikan kuliah profesinya sebagai Apoteker, aku sendiri baru saja lulus dari Universitas di Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada, adik perempuan dibawahku: Rilma, sekolah di sebuah Ponpes di Pekanbaru, dua yang lainnya sekarang di kampung: di dekat Orangtuaku. Aku bertekad: harus bisa lebih hebat dari Papa, aku seorang yang berpendidikan seperti ini.
Papa bisa segalanya—super multi talented, mulai dari pekerjaan sebagai kepala keluarga: mencari nafkah untuk keluarganya sampai urusan dapur juga bisa. Tak jarang beliau masak sendiri kalo lagi pengen sesuatu tanpa menyusahkan Mama. Beliau terkadang serius, terkadang lucu bukan main. Teman-temanku yang pertama kenal dengannya, pasti mengira Papa galak, itu karena tampangnya memang sedikit tegas, rahangnya yang kotak, mengesankan tegas, tubuhnya gak gede-gede amat, padahal, pria ini suka bercanda juga, leluconnya gak pernah terasa basi, setidaknya bagiku, Papa cocok jadi pelawak.
Mama: seorang ibu rumah tangga yang luar biasa. Seorang Ibu yang sangat tangguh. Sekarang Papa udah gak kuat kerja lagi seperti dulu, kehidupan keluarga cuma mengandalkan hasil kebun yang gak seberapa. Mama gantian yang cari duit. Mulai dengan membuka kedai harian kecil, sempat juga berjualan nasi. Berdagang: memang bakat Mama, turunan dari Nenek. Meskipun kedai nasinya sekarang udah tutup semenjak adik terakhirku lahir, tapi kedai hariannya masih berkobar sampai saat ini.
Papa: mulanya, awal berumah tangga dengan Mama, mereka baru punya dua orang anak: aku dan Uni: saat itu berumur 5 dan 6 tahun. Keluargaku sering pindah-pindah tempat tinggal, itu karena pekerjaan papa seorang sopir bus. Papa seorang supir bus Sinar Riau: saat itu sangat terkenal sebagai bus angkutan antarprovinsi Riau-Sumatrabarat. Mulanya kami tinggal di Bukittinggi, kemudian pindah ke Dumai. Kebetulan Bukittinggi-Dumai merupakan trayek Papa. Kami tinggal disebuah rumah kontrakan di Dumai, Riau, kota yang terkenal dengan pelabuhan minyaknya.
Di rumah, kami punya seekor anjing kampung kecil warna kuning keorenan, Ilot namanya: kami ikatkan di samping rumah sebagai penjaga Mama, Uni dan aku. Papa: seorang sopir bus, bekerja seharian penuh diluaran. Berangkat pagi pulang baru subuh hari berikutnya. Ilot, dengan gonggongan supernya, merupakan pertanda bagi kami kalo ada orang yang melintas di dekat rumah, tak jarang itu Papa yang pulang subuh buta di gonggong sama Ilot. Ilot menggonggong Papa berlalu. Tapi Ilot bukan bagian dari keluarga, dia cuma anak pungut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar