Aroma masakan Mama menembus masuk ke jantungku, mengalir ke setiap inci tubuhku, membuyarkan konsentrasi, nafsu makanku kambuh. Biasanya Romo udah curi start duluan, mengantah kepala ikan teri. Tapi tumben, dia belum kelihatan sedari pagi. Mungkin dia lagi pilek sehingga tidak mencium aroma masakan yang menggetarkan ini.
Romo adalah kucing keluarga kami. Warnanya belang amburadul, gak jelas. Karena saking sayang padanya, Romo udah kuanggap sebagai adik sendiri. Romo kucing yang jinak, tentu saja lebih jinak dari merpati. Kalo pas lagi laper-lapernya dipanggil, larinya kencang sekali. Delapanpuluh kilometer per jam. Bukan main.
Udara di luar begitu terik, membuat aku malas-malasan di rumah. Mama lagi memasak untuk makan siang di dapur, Uni belum pulang dari sekolah. Wanto tetanggaku juga sekolah. Pak Wo dan Ibuk depan rumah tengah berjualan di pasar. Aku kesepian gak ada teman. Papa gak dapat shift kerja hari ini. Beliau sedang memberi makan siang Ilot di samping rumah.
“Main sana! Papa lagi beri makan Ilot tuh di samping.” Mama menyarankan. Tapi aku tak tertarik sama Papa, apalagi Ilot.
“Males ah ma, bosan sama Ilot melulu” kujawab sambil menopang daguku dengan kedua tangan yang bersandar di sandaran sofa ruangtamu. Tiba-tiba aku teringat adikku itu:
“Romo mana ma? Biasanya siang gini udah ke rumah minta makan.”
“Gak tau tuh, mungkin lagi tidur di teras depan, coba panggil sana, suruh ke sini, kepala ikan teri banyak ni”
Romo gak mungkin lupa jadwal makan kepala ikan teri. Romo pasti kecapean trus ketiduran. Kebiasaan alami kucing. Kucing makhluk yang paling suka tidur. Waktunya lebih banyak dipakai untuk tidur daripada berbuat hal-hal yang bermanfaat. Biasanya Romo Tidur diteras depan rumah Pak Wo, atau di ayunan ban pohon jambu depan rumah. Sejak kejadian itu Romo memang jadi suka tidur. Seperti kehilangan semangat hidup. Aku menyesal telah melakukan itu padanya. Gak kusangka dia kucing yang ngambekan. Padahal aku cuma bercanda, suer. Biasanya aja lebih dari itu: smack downku sudah menjadi makanannya, kaki belakangnya kuselotip sehingga dia susah jalan juga sering—dia gak marah. Pasti ada sesuatu yang gak beres.
Ternyata benar firasatku, ada yang gak beres. Seminggu yang lalu kami sekeluarga—minus Romo, asik bercengkarama nonton tipi. Dan tiba-tiba Uni nanya sama Mama. Pertanyaan yang sensitip. Pertanyaan yang seharusnya gak ditanyakan oleh Uni. Dan Mama mulai bercerita:
Romo itu sebenarnya anak pungut. Mama menemukannya di selokan depan rumah Pak Wo waktu Mama pulang dari pasar—dia masih sangat kecil. Karena kasian makanya Mama pelihara.Dia itu anak yang tak diharapkan orangtuanya karena diantara saudara-saudaranya, warna bulunya gak ada hubungannya dengan ortunya. Bapaknya cokelat dan Ibunya kuning. Romo kalian tau sendiri seperti apa warnanya—amburadul gak jelas. Uni pun: “Oooowww….” Panjang O nya. Melongo kayak orang bego.
Ternyata, pembicaraan kami itu didengar oleh Romo. Kami gak sadar dia sudah terpaku di samping sofa dari tadi. Dia sudah menyimak dan tau semuanya. Kami segera mengalihkan pembicaraan dan seolah-olah menganggap Romo baru datang, Uni pun nanyain Romo gimana kabarnya—mesra sekali pertanyaan Uni, gak seperti biasa.
Selepas hari itu, kulihat Romo sangat murung. Aku gak tega melihatnya. Berkali-kali dia mencakar sandaran sofa dan aku biarkan saja. Aku juga tak berkutik melarangnya. Aku lagi membalsemi kakiku yang terkilir karena jatuh dari ayunan ban pohon jambu depan rumah. Aha, tiba-tiba ada bola lampu berpijar di atas kepalaku, pijarnya terang sekali. Ide bagus. Aku akan menggoda Romo. Aku akan membuatnya tertawa lagi seperti dulu. Aku akan membuatnya kembali pada masa kejayaan.
Diam-diam kudekati dia dari belakang. Dia masih asik mencakar sofa, matanya fokus sekali—tatapannya kosong. Saat dia terlengah, kusergap dia. Matanya kututup dengan kedua tanganku.
“Ayo tebak siapa aku?”
Pertanyaan yang bodoh, tentu saja dia mengenal suaraku. Dia melawan sejadi-jadinya, tak diam menebak seperti biasa. Dan spontan dia mencakar tanganku dan lari ke kamar mandi. Menabrak apapun di depannya—dia merem. Loh, kok Romo gitu ya? Akupun bertanya-tanya. Gak taunya, tanganku masih ada balsemnya. Mungkin matanya perih kena balsemku. Dia trauma sama balsem. Waktu aku kecil, atas saran seorang temanPantatnya pernah kuolesi balsem. Makanya sampai sekarang dia ngambek.
Tanpa pikir panjang kusegera kesana. Kulihat Romo sedang tertidur pulas di teras depan rumah tetangga, tak bergeliat sedikitpun, kuhampiri:
“Mo, Romo, hei Mooo” aku panggil sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya yang gumpalan bulu itu.
Romo tak bergerak sedikitpun, bicarapun tidak.
Sekali lagi kucoba bangunkan dia: “jangan becanda ah Mo, gak lucu kamu, bangun dong! Main yuk!”
Sedikitpun tiada merasa terusik olah kegangguanku, aku melihat semut merah lalu lalang ke dalam hidungnya yang dingin seperti salju itu, kuketahuilah kalo ia sudah tiada. “Romo…….”hiks, Innalillahi…
Segera kuberitahukan berita duka kepada Papa yang kebetulan saat itu tengah memberi makan Ilot di samping rumah:
“Pa, Romo pa” dengan nafas terengah-engah kudatangi.
“kenapa?” Papa masih kelihatan sibuk mengurus Ilot.
“Romo mati, Pa” mataku mulai berkaca-kaca.
“owhh, itu, ya sudah, nanti Papa kuburkan” dengan santainya. Papa tak punya perasaan sama Romo, emang, Papa kan gak begitu dekat dengan Romo, Papa jarang ketemu juga dengan Romo karena pekerjaannya. Papa cuma tau Ilot, yang setiap dia datang selalu disambut gonggongan Ilot, Ilot Papa yang beli.
Segera setelah selesai berkutat dengan Ilot, Papa menghampiri Romo dengan membawa kaos-dalamnya—warna putih yang sudah sedikit tak layak pakai, laksana kafan untuk kucing malang itu. Segera dikuburkan Romo. Sampai sekarang, teka-teki kematian Romo belum terpecahkan. Siapakah pembunuh terkutuk itu? Tak kuampuni kau.
Masih dalam suasana dukacita, tak seperti biasanya, setiap Papa pulang kerja, hal yang sering aku dan Uni lakukan ialah memeriksa koper atau kantong celana Papa, kadang selalu ada permen dikantongnya, atau juga bawa oleh-oleh buah apel di dalam kopernya. Tapi kali ini tidak, aku masih belum bisa terima atas kepergian Romo, Papa tahu akan sedihku, akan persahabatan yang telah lama kujalin dan hilang begitu setelah dia pergi.
“Bel, bangun, liat Papa bawa apa!” kata Mama sambil menggosok-gosok punggungku yang sedang tertidur.
Gak biasanya Mama bangunin aku sesubuh ini, ada apa gerangan? Tanpa pikir panjang aku bangun, dan kutemukan sebuah mainan mobil bus-busan gede yang terbuat dari kayu yang terletak di samping tempat tidurku, persis seperti bus asli yang disulap jadi kecil.
“Ini untukku Ma?” sambil memegang bus mainan itu kumasih setengah mengantuk.
“Iya, untuk siapa lagi, Papa yang beli dari Bukittinggi”
“Papa mana Ma?”
“Papa lagi mandi tu, habis ini katanya minta dipijitin sama Abel, Papa capek pulang kerja”
“sip” kataku mantap
Sekejap, pikiranku akan Romo, lenyap begitu saja, padahal kuburan kucing itu belum kering tanahnya, begitu cepat aku melupakannya. Maafkan aku Mo!... Aku sudah punya sahabat baru: bus-busan kayu. Tak ada lagi Romo, sekarang aku berteman dengan benda mati yang tak punya hati. Mending gini, kalo busnya mati aku gak akan sedih-sedih amat. Uni kupaksa bangun untuk menemani aku main bus-busan itu di ruangtamu. Padahal masih subuh. Gelap lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar