16 Oktober 2010

Tumank Gank

INI pertama kalinya aku pisah dengan Mama dan Papa. Aku mendaftar di sebuah sekolah kejuruan teknik di Pekanbaru, tiga jam perjalanan dari Ujungbatu. Aku mengambil jurusan Teknik Bangunan. Pernah terpikir untuk masuk jurusan Teknik Mesin, tapi Papa tak mengijinkan, dengan alasan yang dangkal dan waktu itu aku rasa cukup meyakinkan.

Pertama kali mendaftar di sekolah ini, aku gak yakin bakal diterima. Peminat sekolah ini banyak sekali. Semua diseleksi dengan nilai ujian akhir nasional. Nilai ujianku saat itu tak tinggi-tinggi juga. Aku hanya bisa berdoa. Gak taunya, waktu pengumuman penerimaan, aku mendapati namaku di urutan ke dua dari atas yang berarti nilaiku tertinggi ke dua disekian ratus pendaftar yang diterima. Clap, clap. Hal itu membuat aku lebih pede, aku pasti bisa menjadi terbaik diberikutnya.

Aku tinggal di rumah Tanteku di sebuah perumahan di daerah Panam, tigapuluh menit perjalanan dari sekolah.

Di sekolah, aku selalu berusaha menonjol dari yang lain. Menjadi ketuakelas merupakan langkah awalku. Tidak gampang menjadi ketuakelas. Tidak jarang aku mendapat tekanan dari teman-teman yang jahat dan suka bolos sekolah. Mereka selalu minta daftar hadirnya diisi olehku, sedangkan mereka pergi terbang entah ke mana. Aku seorang diri menghadapi semua itu, awal-awal sekolah belum punya teman dekat yang bisa diajak sharing. Meskipun di bawah tekanan itu, aku sekalipun tidak pernah menuruti kata-kata mereka, kalo aku turuti sama saja aku menghianati profesiku sebagai pemimpin dan tanggungjawabku pada Tuhan.

Berkat keteguhan hatiku selama menjadi ketuakelas, dan menjadi orang yang teraniaya melulu. Tuhan memberikan jalan buatku, satu persatu orang-orang jahat di kelasku berguguran, tersingkir karena alasan yang aku tak perlu tau.

Setelah memasuki kelas dua, aku baru punya teman dekat yang terbentuk sebagai sebuah geng. Nama geng kami terinsinspirasi dari nama seekor anjing yang legendaris, anjing milik Sangkuriang dalam legenda Tangkuban Perahu: Tumang. Anjing itu mati secara tragis dibunuh oleh Sangkuriang. Dan ternyata, anjing itu adalah bapaknya sangkuriang sendiri. Bener gak seperti itu ceritanya? Terlepas dari bener atau tidaknya legenda tadi, jadilah kami: Geng Tumank. Simpel dan penuh makna.

Geng yang tak disegani oleh siapapun ini mempunyai lima orang anggota: Aku, Fadli, Fariz, Adit, Dodi dan Hamdani (yakub). Tak ada ketua geng diantara kami, semua anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Haknya yaitu tau akan kewajiban. Tak ada juga penerimaan anggota baru, enam orang sudah cukup. Uniknya, setiap pagi awal masuk kelas, ketika bertemu dengan salah satu anggota gank, kami wajib menyalak: auukk…auukk………

Akan aku ceritakan satu persatu tentang teman-temanku itu.

Fadli: anak orang kaya namun keliahatan selalu kere. Bapaknya seorang penjabat di perusahaan kontraktor bangunan. Meskipun di rumah ia punya mobil kijang butut dan beberapa sepedamotor namun dia berangkat ke sekolah tetap saja dengan motor yang paling jelek diantara motor-motor yang ia miliki: Astrea keluaran tahun 80an warisan kakeknya. Terakhir motornya di cat airbrush dengan motif tengkorak-tengkorak di kap depannya, dia pikir akan membuat motornya kelihatan gagah. Bila keluarganya pulang kampung saat lebaran, Fadli lah yang selalu mendapat tugas menjaga rumah sendirian, bukan abangnya. Padahal dia juga punya abang laki-laki dan dua orang adik perempuan. Aku curiga kalo Fadli bukan anak kandung keluarga itu.

Fariz: anak sulung daritiga bersaudara, tapi tingkahlakunya tak sesulung umurnya. Setua itu dia masih minta berpegangan kalo menyeberang jalan. Awal masuk sekolah dia disapa Endo, nama lengkapnya Endo Farizca, nama belakangnya seperti nama cewek. Belakangan setelah naik ke kelas tiga, dia minta dipanggil Fariz, biar lebih dewasa, katanya.

Sedangkan Adit: anak dua-duanya di keluarganya. Sungguh orangtuanya sangat patuh pada kebijakan keluarga berencana. Adit orang Jawa satu-satunya di anggota geng kami. Badannya yang kurus dan jidat yang lebar, sering kami ejek sebagai ikan louhan. Itu lho, ikan cantik yang mahal harganya dan egois. Dan mungkin ikan sejenis itu santapan makan siangnya presiden.

T. Dodi Saputra, badannya yang gemuk dan pendek jelas kelihatan jika berjalan dengan anggota geng lainnya yang pada umunya kecil-kecil dan kurus kecuali Fadli. Dodi kelihatan paling makmur. Padahal kedua ortunya gak ada yang gemuk, entah dia ini keturunan siapa. Huruf T di awal namanya singkatan dari Tengku, gelar dari keturunan darah biru. Dodi cukup membuat geng kami menjadi aman dari pengacau, karena bodinya yang gendut itu cukup membuat lawan berpikir dua kali, padahal ya, kuberi tau kalian yang sebenarnya kalo Dodi itu bermental kerupuk.

dan Hamdani, yang kesehariannya sering kami panggil yakub, gak tau dari mana asal kata itu. yakup adalah makhluk yang sangat pede abis 200%. hobinya breakdance. dia punya gang breakdance bernama Paperboy (Pandau permai, tempat tinggalnya). pernah suatu hari, dia mempertunjukkan kebolehannya di depan kelas ketika Pak Zulfa sedang keluar. tapi apes, sewaktu melakukan gerakan putar baling-baling bambu, Pak Zulfa datang, dan kontan, sebuah tangan gempal mendarat di kepala yakup. kami hanya bisa terdiam menahan tawa sekaligus takut.

Aku sendiri: Nobel, sang ketua kelas, sang juara kelas, tukang carmuk di depan guru. Tinggi seratus enampuluh sentimeter dan berat berkisar empatpuluh lima kilo saja. Aku pintar, rajin sholat, mengaji, gemar menabung, patuh pada perintah orangtua dan disayangi mertua.

Di kelas tiga, aku mengambil kejuruan yang lebih spesifik. aku masuk jurusan gambar bangunan. Saat itu cita-citaku adalah menjadi arsitek. Menurutku aku cocok jadi arsitek, aku anak yang kreatif, sama seperti Papa. Bukankah seorang arsitek harus kreatif?. Papa bisa membuat perangkap hewan buas, melobangi batok kelapa dengan sikutnya, dan terakhir membuat kandang kambing tiga lantai dengan konstruksi yang rumit. Dan masih banyak lagi kekreatifan Papa yang tak bisa aku sebutkan satu persatu.

Tapi Tuhan tak mengijinkanku jadi arsitek. Dipertengahan semester akhir, aku disarankan oleh guruku untuk mendaftar di sebuah universitas di Jogja. Universitas Gadjah Mada. Tak ada pilihan lain yang berhubungan dengan jurusanku selain jurusan Teknik Sipil. Akhirnya aku coba daftarkan berkasku.

Aku diterima di UGM, artinya aku akan lebih jauh berpisah dengan oarangtuaku. Aku juga akan jauh berpisah dengan Resti: tetanggaku idolaku.

Tidak ada komentar: