16 Oktober 2010

Hidup tanpa Cita



Sekarang aku terdampar di sini, di kota ini: Depok. Di dalam kamar kos-kosan 2,5x3 meter lengkap dengan kamar mandi di dalamnya dan tentu saja lebih luas daripada kamar kosanku yang dulu—di Jogja. Kukusan teknik atau lebih terkenal dikalangan tukang ojek dan mahasiswa UI dengan sebutan Kutek karena letak kosanku ini dekat dari kampus teknik UI. Kosanku terdiri dari dua lantai, aku sendiri menempati lantai bawahnya karena sudah aku pertimbangkan baik-baik. Aku sudah berpengalaman menghuni lantai dua—kosanku yang di Jogja, tiga tahun cukuplah memberiku pelajaran tentang pahitnya hidup di lantai dua.

Jika matahari panasnya sedang tak terperi, tinggal di lantai dua atau ruangan yang langsung berhadapan dengan atap asbes di atasnya seperti kue yang dipanggang di dalam oven, benak rasanya sudah setengah matang. Jika hujan menjadi-jadi, ada kemungkinan atap bocor karena kesalahan konstruksi atau salah perhitungan daya tampung talang. Dan jika terjadi gempa bumi maka orang di lantai dua lah yang paling repot menyelamatkan diri. Maka kuberitahukan kepada kalian, agar lebih cermat memilih kosan. Aku sudah mengalami semua itu, tiga tahun.

Masih sama seperti dulu, jauh sebelum aku merantau ke pulau Jawa. Aku orang yang jarang bosan meski setiap hari selalu melakukan rutinitas yang sama. Pagi berangkat sekolah, pulangnya makan dan nonton tipi, begitu setiap harinya, bedanya cuma hari minggu: nyuci pakaian. Mungkin orang sepertiku cocok menjadi guru sejarah, yang tiap tahun ajaran baru selalu mengajarkan hal yang sama seperti tahun sebelumnya, tanggal berapa hari kebangkitan nasional, di mana diadakan konferensi meja bundar dan detik-detik burung garuda wafat—tak kan pernah berubah, itulah uniknya sejarah.

Tapi akhir-akhir ini aku lebih banyak merenung, di kamar 2,5x3 meter ini aku berfikir keras mencari jadi diriku, aku mulai sadar setelah membaca “Sang Pemimpi” milik mas Andrea Hirata, itu lho, pengarang tetralogi Laskar Pelangi. Aku sadar kalo selama ini aku tidak pernah berani bermimpi, hidup tanpa rencana dan tak punya cita-cita. Aku bagai kapal dengan layar terkembang di tengah samudera luas—tanpa nakhoda, terombang ambing kesana kemari. Hanya mengikuti kemana angin berhembus. Untung saja selama ini Tuhan selalu membuat angin itu berhembus.

Memang, nasib itu Tuhan yang menentukan, tapi manusia harus tetap punya rencana. Tuhan tak akan merubah diri kita kalo kita sendiri tidak berusaha ingin berubah. Tak ada yang ajaib. Orang yang bangun tidur mendapati dirinya sudah bergelimang duit, memancing di rawa angker menemukan botol jin yang dapat mengabulkan semua permintaan, atau sedang asik berjalan ketiban durian runtuh, itu hanya ada dicerita dongeng. Hidup tak ada yang instant, semua butuh usaha dan proses. Mie instant saja perlu di rebus atau digoreng dulu agar enak dimakan.

Mas Andrea juga bilang: “Bermimpilah, sebab Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu”. Kurang apa lagi aku, pinter udah, ganteng apalagi, berkecukupan Alhamdulillah, tapi mengapa masih tak sanggup bermimpi. Mimpi melihat harimau makan buah lengkeng yang dijatuhkan sengaja oleh lutung untuk melemparnya, mimpi motorku ditabrak tukang es dan pagi-pagi aku berusaha mengingat nomor plat motorku empat digit untuk pasang togel, atau mimpi pulang kampus hujan-hujanan berduaan dengan si dia dan paginya kudapati celanaku basah, bukan mimpi seperti itu yang kumaksud. Mengerti dong.

Pernah waktu kecil dulu—saat masih SD, Ibuguru menanyai kami satu persatu masalah cita-cita. Ada yang mau jadi Dokter—umum, ada yang mau jadi Polisi—biasa, ada yang mau jadi Pilot—luar biasa, sedangkan aku mau jadi Arsitek. Meski waktu itu aku tak mengerti pekerjaan semacam apakah Arsitek itu karena aku tak mau sama dengan yang lain dan agar kelihatan lebih moderen. Dan Tuhan pun menghembuskan anginnya ke arah sana tapi agak melenceng. Nanti aku ceritakan perihal melencengnya itu. Positif thinking aja sama Tuhan. Sekarang aku baru mulai untuk bermimpi, mimpiku ialah mempunyai cita-cita.

Tidak ada komentar: