16 Oktober 2010

Dia, eps PDKT

TERKADANG disaat kita lagi punya pacar timbul keinginan untuk sendiri, dan sebaliknya. Sekarang aku jomblo, tapi aku bukan homo. Semenjak kuputuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Resti—pacarku, dan Imel—selingkuhanku. Aku udah gak ada “gairah” sama makhluk lain jenis itu, bisa dibilang trauma ringan. Gairah dalam arti kata bahwa aku sedang ingin sendiri saja menikmati masa mudaku dengan teman-teman sebaya tanpa pacar.

Imel sempat membenciku, berbulan-bulan dia tidak menyapaku, gak menganggapku ada padahal dia tau aku ada. Wanita memang segitunya, bisa berubah menjadi kejam kalo sudah tersakiti. Teman-teman yang akrab dengannya pun juga ambil andil dalam memperbesar api permusuhan antara kami, membuatku seolah tak pantas untuk dikenal, mereka seperti petugas pengobar kebakaran yang menyiramkan minyaktanah ke dalam api yang menyala, kompor yang hampir kehabisan minyak selalu mereka tambah sedangkan aku biasa-biasa saja. Mungkin saja perasaan Imel sama seperti waktu aku ditinggal tanpa alasan oleh cinta monyetku dulu, sakit memang, tapi dulu beda, aku gak salah sama sekali. Tapi sebenarnya salah Imel apa sehingga aku memutuskannya? Dia gak salah, hanya takdir yang belum memihak.

Resti lain cerita, dia salah besar. Mungkin terlalu dalam sakit yang kini kurasa, kumenyesal telah mencintainya, begitu kata Vagetoz. Lagunya begitu mengena padaku. Tapi tak seratus persen aku menyesal, bagaimanapun dia gak mungkin aku lupakan, karena dia pernah mengisi kekosongan dalam hatiku. Kembali lagi, takdir tak memihak.

Setelah lama waktu berlalu, Imel sudah mulai bisa menerima kenyataan ini. Aku kembali mendapat ruang di hatinya, sekarang sebagai teman biasa. Kami mulai merajut tali persahabatan yang lama vakum. Mulai mengerjakan tugas kelompok bareng lagi, praktikum bersama, dengan menyimpan atau melupakan semua yang pernah terjadi. Anggap saja kita baru kenal lagi. Seperti bayi yang baru lahir atau kembali fitrah setelah sebulan berpuasa.

Tak jarang, Ical, mengajakku main ke kosannya Imel untuk sekedar silaturahmi atau mencicipi tekwan (makanan khas palembang) yang dibuat oleh Marlin—teman kosannya Imel. Setelah Imel sempat terusir dari kosannya yang lama akibat perbuatannya yang sering mangkir, dia membuat persekutuan untuk membangkang. Diajaknya Warda dan Lila untuk sama-sama nakal dengannya. Mulai dengan pulang telat malam, ribut-ribut di kosan, sampai dengan menganiaya kucing kesayangan Ibu kos. Alhasil, mereka bertiga terusir dari kos lamanya. Karena susu setitik rusak nila sebelanga.

Di kosan, Imel gak sendirian, dia ditemani Marlin dan Warda. Hanya Warda—anak Sosiologi UGM angkatan 2005 yang masih setia dengannya. Sedangkan Lila memilih mengasingkan diri jauh di gunung dengan maksud agar tak terpengaruh lagi dan jatuh ke lubang yang sama.

Imel dan Warda sekarang posisinya sama, sama-sama baru diputusin pacarnya. Maka terjadi hubungan batin yang mendalam antar mereka, antara dua insan yang tengah patah hati. Yang disesalkan, mengapa harus terjadi bersamaan, sehingga tidak ada yang menjadi tempat untuk mengadu, berbagi cerita, curhat, atau sekedar penghapus tangis, sedangkan Marlin sedang sibuk dengan pacar barunya.

Waktu kian cepat berlalu, kontrak kosan mereka habis dan tidak bisa diperpanjang lagi. Mereka terpaksa berpisah, Imel pindah gak jauh dari kosannya yang kedua, masih satu kawasan, Warda naik gunung menyusul teman lamanya—Lila, dan Marlin entah ke mana rimbanya. Sementara aku tetap bertahan di kos-kosan “Bu Sum”, kosan yang selama tiga tahun ini aku tempati, belum ada niat pindah. Kosan bersejarah tempat pertemuan aku dengan berbagai cerita persahabatan, perkelompokan, dan pengap.

Akhir semester lima aku kuliah di Diploma Sipil UGM. Sudah jarang ada kegiatan tugas kelompok, lebih banyak waktu luang yang tersisa. Aku teringat pada seorang wanita yang pernah mengirimiku ucapan selamat hari raya, wanita yang sempat terlupakan karena kita sudah berjauhan, teman lama yang gak begitu akrab—Warda, temannya Imel. Malam ini malam minggu, aku sendirian tanpa teman. Akhirnya dengan berpikir sekuat tenaga dan memantapkan hati, ku sms dia dan mengajakknya jalan.

Warda adalah mantan pacar temanku, teman baikku pula, sehingga tak enak hati kalo mengajaknya jalan. Tapi mau gimana lagi, ku buang jauh-jauh rasa tak enak hati ini, toh sekarang dia bukan milik siapa-siapa. Pepatah melayu lama mengatakan “sedetik sebelum ijab kabul pernikahan, semua masih milik bersama”.

Sudah lama aku gak ketemu dengannya, dan pertemuan malam itu menjadi momen yang seakan mengubah jalan takdirku sampai saat ini. Aku mengajaknya makan malam di warung nasi goreng Aceh, cuma berdua, makan masih malu-malu, terlihat dari bukaan mulut yang kecil saat menyuap makanan, kunyahannya pun sempurna tanpa suara, ciri khas dua manusia yang pedekate. Sehabis makan kami pergi ke Alun-alun utara keraton Jogja, kebetulan sedang ada konser musik band Shaggy dog—band reage pujaan Aan temanku. Aku iri melihat sekelilingku, pasangan-pasangan muda saling berpelukan, bermesraan, pegangan tangan sedangkan aku baru pedekate. Bosan dengan pertunjukan lagu Anjing kintamani, kami melaju ke Alun-alun di sebelahnya—alun-alun selatan (alkid: alun-alun kidul orang biasa menyebutnya), sama saja, di sini bahkan pemandangan tadi lebih terlihat jelas, karena memang tak ada tujuan lain orang datang ke sini kecuali murni pacaran. Hatiku semakin panas.

Tapi, duduk berdua dengannya, dibawah temaram lampu jalanan sebuah tiang gawang di pinggir lapangan rumput, waktu terasa berjalan sangat cepat. Kami bercerita seputar masalalu, masa suram, masa patah hati karena cinta, aku yang lebih banyak cerita sementara dia hanya mendengarkan. Aku bercerita seolah-olah seperti orang yang teraniaya, tersakiti, terkhianati oleh kekasihnya, berharap dia simpati dan kasihan padaku. Seandainya ada pengamen yang lewat, maka aku akan meminta mereka menyanyikan lagu Sheila on tujuh yang berjudul “JAP”, dan aku akan membayar berapapun seandainya dia mengerti maksudku. Tapi kurasa ini terlalu cepat. malampun berlalu.

Aku gak sabar menunggu malam minggu berikutnya seperti pegawai negeri sipil menunggu akhir bulan, aku harap dia gak ada acara apa-apa sehingga aku bisa mengajaknya jalan lagi. Aku rasa bukan hanya aku yang berharap demikian, mungkin dia juga. Aku membayangkan dia meng-cancel semua kegiatannya, mem fold semua panggilan hapenya, kecuali untukku, malam minggu. Aku menjemputnya seperti biasa, dengan Oneng—sepeda motorku. Seperti malam minggu sebelumnya, waktu begitu cepat berlalu.

o

Jauh sebelumnya…

Aku lagi liburan di tempat Om ku—Kandis—salahsatu kecamatan di Propinsi Riau. Aku terlibat hubungan jarak jauh dengan Risti—teman sekelasku di Diploma Sipil UGM. Aku sering menggodanya di kelas, memperhatikannya, dan menaruh harapan padanya, lebihkurang begitu juga dia mengartikannya. Sehingga muncul hubungan emosi antara kami. Tapi terakhir sikapnya membuat aku berpikir 3x, dia membosankan, plin plan, tak istiqomah, dan jual mahal pula. Aku gak begitu serius dengannya, hanya saja jika dia terima maka akan aku jalani.

Liburan semester lima, angkatan 2005 Diploma Sipil UGM akan mengadakan KKL (kuliah kerja lapangan) atau lebih tepatnya tamasya. Acara ini tiap tahun diadakan oleh tiap angkatan, salahsatu alasannya agar mahasiswa sipil tidak mati muda atau frustasi bunuh diri akibat tugas-tugas yang bertumpuk serta nilai-nilai Mekanika Tanah dan Struktur Baja yang hancur pada semester lima. Kebetulan boleh bawa teman dari luar, tanpa pikir panjang aku mengajaknya.

Warda menerima ajakan itu dengan senanghati, tentu saja ia harus bayar sendiri ongkosnya. Aku ge er sendiri jadinya, dia rela mengeluarkan uang sendiri untuk pergi ke tempat yang pernah ia kunjungi dan dengan teman-teman yang hanya sedikit dia kenal, ge er mungkin dia begitu agar bisa selalu dekat denganku. Aku diantara enak dan gak enak, Risti sempat mengancam untuk tidak ikut ke Bali karena dia tau kalo aku dengan cewek lain, tapi akhirnya dia mengesampingkan egonya, menerima kenyataan bahwa aku sedang dekat dengan yang lain, salahnya dulu mengapa terlalu jual mahal padaku. Risti ikut ke Bali juga.

Deras hujan tak terbendung lagi sesaat setelah kami memulai keberangkatan. Aku sedikit kebasahan karena tadi menyelamatkan koper pak Ilham—dosenku yang hampir ketinggalan. Aku melakukan semua ini, rela basah-basahan, angkat koper, berlarian bukan karena mengharapkan nilai bagus dari Pak dosen, bukan karena aku anggota panitia, tapi karena DIA. Pedekate bisa membuat orang melakukan hal-hal diluar dugaan dan kemauan akal sehat. Malam yang dingin di dalam bus pariwisata ber ac pula, meskipun habis kebasahan dan tidak memakai jaket, di sampingnya aku merasa hangat.

Subuh bolong saat ayam jantan masih tertidur pulas, kami tiba di sebuah penginapan di Surabaya. Hanya sempat istirahat sejenak menjelang pagi, bahkan bukan istirahat, sayang kalo waktu wisata dipakai untuk istirahat, mending gangguin teman-teman yang lagi tidur. Pagi datang, kami mandi dan bersiap-siap pada kunjungan wisata pertama—Proyek Jembatan Suramadu.

Di dalam bus wisata ini, kami bagaikan dua orang yang teraniaya, tersakiti batin, terlebih-lebih Warda. Dia harus rela menyaksikan mantan pacarnya dengan seorang cewek ikut serta dalam rombongan kami, teman baikku itu dan mantan pacarnya Warda: Rifa. Rifa duduk persis di samping kami. Sedangkan aku tak terlalu terguncang batin melihat Imel dengan pacar lamanya di belakang kami.

Di Suramadu, aku sengaja tak lepas darinya, tak mau jauh darinya, secara dia dalam tanggungjawabku. Langkahnya adalah langkahku, setiap jejak yang ia tinggalkan selalu aku ikuti begitu juga rupanya dia. Kami bagaikan petasan dan korek api yang saling ketergantungan dan menunggu malam tahunbaru untuk meledakkannya sehingga bukan hanya kami yang merasakan indahnya saat percikan api meledak menimbulkan sensasi kebahagiaan bagi semua yang melihatnya. Semua butuh proses. Sampai akhirnya dia terbiasa dengan keadaan ini dan melupakan sakit hatinya pada temanku itu dan liburan sesungguhnya baru dimulai.

Setelah mengunjungi beberapa tempat di Surabaya, tibalah kami pada saat yang berbahagia, dengan selamat sentosa: Bali. Pulau di Indonesia yang katanya paling ingin di kunjungi oleh orang-orang sedunia. Kami juga termasuk kedalam orang-orang sedunia itu. Pulau yang akan menjadi saksi bisu perjalanan cintaku kemudian hari. Mulanya pantai Tanjung Benoa, Garuda Wisnu Kencana, Joger dan sorenya berakhir di pantai Kuta nan indah. Sungguh memori yang tak terlupakan, sekali lagi bersamanya waktu berjalan begitu cepat.

Gak sabar menunggu hari berikutnya datang, ke mana lagi petualangan cinta ini akan diukir. Toko kerajinan Galuh, pasar seni Guwang, pantai Sanur ikut ambil bagian. Aku semakin dekat dengannya. Seketika jantungku berdegup kencang, darahku mengalir begitu deras, lebih deras dari ombak pantai Kuta, saat perjalanan wisata terakhir menuju danau Batur (Bedugul), dia menyandarkan kepalanya ke pundakku, itu semua terjadi di dalam bus. Aku berdoa sekuat tenaga agar Tuhan menghentikan waktu dan biarkan aku menikmati semua ini dulu, tapi tidak, lagi-lagi waktu berjalan cepat, kami tiba terlalu cepat di danau Batur, dia belum sempat tertidur.

Aku sudah maju beberapa langkah, aku merasa diatas angin, aku mas Utut Adianto yang sudah tau kemana lawan akan memindahkan anak caturnya dan dengan satu langkah lagi siap men-skakmatnya. Ini sudah gak terlalu cepat, sudah saatnya aku mengungkapkan isi hati padanya, tapi aku belum berani, bodohnya aku. Wisata yang menyenangkan inipun berakhir dengan cerita tanpa ending.

Tidak ada komentar: