14 Februari, oleh sebagian orang hari ini disebut sebagai hari kasih sayang. Pada hari tersebut orang beramai-ramai mengungkapkan rasa kasihnya kepada orang-orang yang disayangi. Orangtua, pasangan suami istri, pacar atau kepada siapapun yang dianggap spesial. Tapi aku, orangtuaku jauh di seberang pulau, menikah belum, bahkan punya pacarpun tidak.
Hujan mengguyur Jogja malam ini, malam Valentine. Aku memohon manis kepada Andi—teman kosanku, untuk menemaniku ke mini market untuk membeli cokelat. Entah dengan sukarela atau berat hati dia akhirnya mau, aku tak peduli.
Belum juga reda hujannya, aku tancap gas ke kosan Warda. Aku sudah janji ingin menemuinya malam ini. Bukan hanya sebatang cokelat yang akan aku sampaikan, aku membawa misi besar, kawan.
Setibanya di kosan Warda, dia mengajakku duduk di teras depan. Kami duduk berhadap-hadapan. Di atas kursi keramik dan dikelilingi bunga-bunya peliharaan ibu kosnya. Suasana sangat mendukung. Walaupun dia tidak menyuguhkan apa-apa, tapi aku cukup kenyang dengan air liurku sendiri yang dari pertama tiba sampai sekarang sulit untuk kutelan. Aku mau bicara tapi tak bisa. Aku gemetaran, bukan karena dingin, tapi karena gerogi.
Cokelat sudah kusampaikan padanya, sekarang tinggal misi besarku itu. Aku akan mengutarakan isi hatiku padanya bahwa aku suka dia. Tapi malam itu berlalu begitu cepat. Aku pamit pulang. Laki-laki macam apa aku ini, ngomong isi hati aja gak bisa. Sampai kapan harus aku simpan rasa ini.
Dua hari setelah Valentine, aku dan teman-teman ngadain acara jalan-jalan ke pantai. Aku mengajaknya ikut. Dia satu-satunya wanita yang ikut waktu itu, tapi dia tidak canggung. Perjalanan terasa menyenangkan bersamanya, meski terhalang oleh ban motor Fajar yang gembos dan ditilang polisi gara-gara spion separuh, tetap saja menyenangkan. Kami tiba di pantai daerah Wonosari, Jateng, dengan selamat.
Ada banyak pantai di sana dan Kami mengunjungi beberapanya. Di mulai dari pantai Baron, Pantai Krakal dan berakhir di pantai Drini. Aku masih punya misi besar untuknya dan tinggal menunggu momen yang tepat. Aku sudah mantap.
Momen itupun datang, oh momen, siapakah dirimu momen. Di pantai yang terakhir kami kunjungi, sebuah pulau karang kecil di saksikan ombak laut selatan, aku mencurahkan isi hatiku padanya. Aku keringat dingin saat memegang tangannya, mulutku gemetar saat berbicara, dan seonggok batu seolah tersingkir dari pundakku ketika dia menjawab “Iya”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar