16 Oktober 2010

Cobaan

DI SMK aku punya gank, gank dalam artikata: teman akrab. Nama gank kami terinsinspirasi dari nama seekor anjing yang legendaris, anjing milik Sangkuriang dalam legenda Tangkuban Perahu: Tumang. Anjing itu mati secara tragis dibunuh oleh Sangkuriang. Dan ternyata, anjing itu adalah bapaknya sangkuriang sendiri. Bener gak seperti itu ceritanya? Terlepas dari bener atau tidaknya legenda tadi, jadilah kami: Gank Tumank. Simpel dan penuh makna.

Gank yang tak disegani oleh siapapun ini mempunyai lima orang anggota: aku, Fadli, Fariz, Adit dan Dodi. Tak ada ketua gank diantara kami, semua anggota mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Tak ada juga penerimaan anggota baru, lima orang saja sudah cukup. Uniknya, setiap pagi awal masuk kelas, ketika bertemu dengan salah satu anggota gank, kami akan menyalak, auukk…auukk.

Aku ceritakan satu persatu tentang teman-temanku itu.

Fadli: anak orang kaya namun keliahatan selalu kere. Bapaknya seorang penjabat di perusahaan kontraktor bangunan. Meskipun di rumah ia punya mobil kijang butut dan beberapa sepedamotor namun dia berangkat ke sekolah tetap saja dengan motor yang paling jelek diantara motor-motor yang ia miliki: Astrea keluaran tahun 80an warisan kakeknya. Terakhir motornya di cat airbrush dengan motif tengkorak-tengkorak di kap depannya, dia pikir akan membuat motornya kelihatan gagah. Bila keluarganya pulang kampung saat lebaran, Fadli lah yang selalu mendapat tugas menjaga rumah sendirian, bukan abangnya. Padahal dia juga punya abang laki-laki dan dua orang adik perempuan. Aku curiga kalo Fadli bukan anak kandung keluarga itu.

Fariz: anak sulung daritiga bersaudara, tapi tingkahlakunya tak sesulung umurnya. Setua itu dia masih minta berpegangan kalo menyeberang jalan, tak sanggup kalo disuruh sendirian. Awal masuk sekolah dia disapa Endo, nama lengkapnya Endo Farizca, nama belakangnya seperti nama cewek. Belakangan setelah naik ke kelas tiga, dia minta dipanggil Fariz, biar lebih dewasa menurutnya.

Sedangkan Adit: anak dua-duanya di keluarganya. Sungguh orangtuanya sangat patuh pada kebijakan keluarga berencana. Adit orang Jawa satu-satunya di anggota gank kami. Badannya yang kurus dan jidat yang lebar, sering kami ejek sebagai ikan louhan. Itu lho, ikan cantik yang mahal harganya dan egois. Dan mungkin ikan sejenis itu santapan makan siangnya presiden.

T. Dodi Saputra, badannya yang gemuk dan pendek jelas kelihatan jika berjalan dengan anggota gank lainnya yang pada kurus. Dodi kelihatan paling makmur. Padahal kedua ortunya gak ada yang gemuk, entah dia ini keturunan siapa. Huruf T di awal namanya singkatan dari Tengku, gelar dari keturunan darah biru. Dodi cukup membuat gank kami menjadi aman dari pengacau, karena bodinya yang gendut itu cukup membuat lawan berpikir dua kali, padahal ya, kuberi tau kalian yang sebenarnya kalo Dodi itu bermental kerupuk.

Aku sendiri: Abel, sang ketua kelas, sang juara kelas, tukang carmuk di depan guru, dan anak kesayangan guru. Itu saja.

Sebelum ujian akhir sekolah di SMK Pekanbaru di mulai, teman-temanku seangkatan sudah pada sibuk merencanakan ke mana setelah tamat nanti. Adit, Dodi dan Fariz mau melanjutkan kuliah di Universitas Riau (UNRI), Fadli mau kerja ikut omnya, dan aku gak tau mau kemana. Aku hidup tanpa rencana.

Karena juara kelas dan anak kesayangan guru tadi, aku diberi tau oleh guruku mengenai undangan dari universitas terkenal di Jogja, Universitas Gadjah Mada. Aku disuruh mengikuti pendaftarannya. Dengan bermodalkan nilai semester yang selalu stabil, aku diterima di universitas itu. Hanya ini yang membedakan aku dengan teman yang lainnya, mungkin ini ganjaran dari prestasiku selama ini. Tuhan tak mau menyamakan aku dengan teman yang lainnya.

·

Tas pinggang berisikan spidol warna-warni dan sebuah kamera film, aku berangkat ke sekolah dengan percaya diri. Hari ini hari pengumuman kelulusan sekolah, hari yang mendebarkan bagi kebanyakan orang, aku tak termasuk kebanyakan orang.

Kami di kumpulkan di lapangan basket sekolah. Hari itu kulihat wajah-wajah orang-orang penuh ketegangan, sekali lagi, aku bukan orang-orang itu. Aku asik mengobrol dengan Adit yang duduk di sebelahku—di lapangan basket saat pak Sahril—kepala sekolah kami, tengah sibuk berpidato. Bagi yang lulus ya bersyukur dan bagi yang belum lulus bersabar, begitu kurang lebih pidatonya.

“Dit, habis ini kita mau kemana?” aku menggoda Adit sambil memperlihatkan kamera film yang kubawa, Adit mengerti maksudku.

Berbeda dengan tahun sebelumnya, pengumuman kelulusan sekarang lebih elit. Kami dibagikan amplop yang berisi pengumuman kelulusan satu persatu, pengumumannya tidak di pajang di papan informasi. Setelah dibagi satu persatu, baru kemudian harus dibuka secara bersamaan, di situ puncak ketegangannya. Dan aku gak mau buru-buru membuka isi amplopku, aku mau menyaksikan teman-temanku dulu.

Satu persatu kulihat keceriaan dari teman-temanku saat mengetahui isi amplopnya. Bermacam-macam ekspresinya. Fariz, Adit dan Dodi senang bukan main karena mereka lulus. Sementara Fadli biasa saja. Mereka rata-rata pada lulus. Inilah saatnya, aku membuka amplopku dan segera kuketahui bahwa untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, kira-kira begitu—aku tidak lulus. Aku berserakan, rencana untuk corat-coret baju dan berfoto ceria bersama teman-teman sirna seketika. Hatiku hancur bertubi-tubi duakali lipat tak tergambarkan dan tambah miris ketika melihat wali kelasku menangis.

Akupun pergi meninggalkan sekolahku. Aku seakan tak percaya pada apa yang baru saja menimpaku. Aku masih berharap ini mimpi. Sebentar lagi pihak sekolah akan menelponku untuk mengabarkan kalo mereka salah ketik surat kelulusan, mereka hanya membuat kejutan untukku, kejutan untuk seorang juara kelas. Tapi, tangisan wali kelasku tadi jelas bukan rekayasa. Mereka bukan bintang film.

Aku merasa dikhianati. Teman-teman yang dulu akrab denganku di sekolah, tak ada yang mempedulikanku. Mereka sibuk berpesta pora merayakan kelulusannya. Bermotor ria keliling kota dengan baju yang bercorat-coret. Habis manis sepah dibuang. Seperti kacang lupa kulitnya. Saat aku lagi tinggi, semua memujaku, saat aku jatuh, tak ada yang mengacuhkan. Inilah hidup.

Aku segera menyadari kesalahanku, kesalahan terbesar dalam hidupku. Mungkin selama ini aku teralu sombong. Aku berlebihan percaya diri. Aku telah mendahului takdirku.

Tidak ada komentar: